Our Love Trip to The Incredible India

23:19 in Green Travel by My Green World

India menjuluki dirinya sebagai negara yang penuh dengan keajaiban, tetapi alasan saya mengunjunginya adalah karena ingin melihat Taj Mahal, salah satu dari keajaiban dunia. Bersama dengan my other half, Lucky, we leave for India on January 25th, 2011 through KL then off to  Delhi.

Perjalanan berlangsung lancar. Sekitar pukul 07.30 malam, kami tiba di Airport International New Delhi yang bersih, rapih dan modern, tepat waktu sesuai jadwal. Satu hal yang saya rekam, petunjuk toiletnya menampakkan foto pria dan wanita berpakaian tradisional India di dinding pintu masuknya.

Kami langsung menuju money changer untuk mendapatkan INR  (Indian Rupee) dengan nilai tukar sekitar 200 IDR untuk 1 INR, hanya ada 1 tempat penukaran (resmi, milik pemerintah);  dan setiap penukar wajib menunjukkan passport, mengisi form, baru mendapatkan INRnya;  pelayanannya lambat dan memakan waktu 25 menit padahal hanya ada 3 turis lain yang antri di depan saya . Tujuan berikutnya adalah ke counter pre-paid taxi; menuju Delhi Train Station (NDLS). Pelayanannya cepat, tetapi petugas tidak memberikan petunjuk yang jelas, dimana saya bisa mendapatkan taksinya.  Saya harus menanyakannya untuk mendapatkan lokasi taksi yang tepat. Begitu keluar dari Arrival Hall, langsung beberapa orang mengerubungi kami untuk membantu, tetapi karena sudah mendapatkan petunjuk arah, maka kami langsung menuju tempat taksi yang terletak didepan area kedatangan, sekitar 100 meter. Taksi yang kami naiki mobil tua yang bobrok. Pengemudinya tidak bisa berbahasa Inggris, dan ternyata tidak ada koordinasi dengan konter pembayaran, karena saya harus menjelaskan ulang tujuan kami dan memastikan bahwa pengemudinya mengerti yang kami maksud. Perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit untuk sampai di stasiun kereta Delhi yang ternyata kotor dan kumuh sekali didalamnya.

Selama perjalanan 4 hari di India, kami akan menggunakan kereta untuk berpindah dari 1 kota ke kota lainnya; Delhi-Agra-Jaipur-Delhi. Kali ini (Delhi-Agra) yang sudah pre-book melalui www.cleartrip.com kami menggunakan kereta Tamil Nadu Express kelas AC2 Tier yang berangkat 21:30 dan sampai di Agra Cantt sekitar jam 01.00 pagi. Di dalam gerbong untuk kelas AC2 Tier yang berharga INR 930 untuk kami berdua ini masing-masing penumpang mendapatkan 1 tempat tidur lengkap dengan seprai dan selimutnya yang harus kita pasang sendiri. Sekali lagi kesan kumuh dan sumpek masih terasa di dalam gerbong kereta yang dimaksimalkan untuk tempat tidur dengan lorong yang cukup sempit untuk berjalan diantaranya.

Sampai di Agra Cantt, tidak ada counter pre-paid taxi diluar stasiun sudah tutup sehingga kami harus tawar-menawar dengan supir taksi yang menawarkan harga ‘prepaid’. Mengingat hari sudah malam dan kami sudah kelelahan, tanpa berpanjang lebar, kami menerima harga INR 250 menuju Taj Plaza Hotel, Taj Mahal East Gate, Shilp Gram, VIP Road, Agra, yang merupakan hotel berbintang 2 dan sudah kami book melalui www.agoda.com . Sekitar jam 02:00pagi kami sudah bersiap2 untuk tidur. Kamar  standar yang kami dapatkan dengan harga IDR 209,494 semalam  tanpa breakfast ini terasa berdebu. Kondisi kamar mandinya juga mengecewakan. Airnya terasa aneh, sehingga untuk kumur dan sikat gigi kami menggunakan air botol mineral. Hal yang menghibur dari hotel ini adalah lokasinya yang sangat dengan dengan Taj Mahal, tujuan utama kami, dan hotelnya memiliki area rooftop  dimana Taj Mahal terlihat dengan jelas dari situ.

The Taj Mahal

Setelah sarapan pagi dengan Indian Breakfast seharga INR 110 lengkap dengan teh atau kopi; kami menuju tempat pembelian tiket masuk Taj Mahal. Baru saja melangkahkan kaki keluar tangga teras hotel, langsung beberapa orang mengerubungi kami, mulai dari yang menawarkan rickshaw, auto (bajaj), taksi atau jasa guide. Harga tiket untuk turis dan local berbeda jauh, kami membeli tiket masuk seharga INR 750 yang mendapatkan 1 botol air dan tutup sepatu yang nantinya harus digunakan untuk masuk area utama Taj Mahal. Tiket masuk juga termasuk free shuttle menuju gerbang Taj Mahal, tetapi kami memilih menggunakan rickshaw. Beberapa guide bertubi-tubi menawarkan jasanya mulai dari harga INR 700 sampai akhirnya ke INR 250. Kami memutuskan untuk menggunakan jasa guide yang mengklaim dirinya sebagai guide resmi, yang telah mendapatkan pelatihan dari pemerintah dan mempunyai akses untuk memasuki area Taj Mahal.

Ternyata memang menguntungkan menggunakan jasa guide karena selain dia fasih menceritakan seluruh sejarah dan area yang wajib menjadi perhatian di Taj Mahal, dia juga bisa menjadi koreografer dan fotografer kami.

Taj Mahal dibangun selama 22 tahun (1631-1653) oleh 20,000 pekerja; lama pengerjaannya dilambangkan dengan masing-masing 11 dome putih kecil di bagian depan dan belakang pintu utamanya. Bahan utamanya adalah marmer putih yang dipahat dengan ukiran-ukiran yang indah dan akan bercahaya bila terkena sinar matahari atau rembulan. Lokasinya terletak dipinggir sungai Yamuna. Beberapa area/gerbang dihiasi dengan ayat-ayat suci Alqur’an – total ada 14 surat alqur’an yang melambangkan 14 anak Shah Jahan. Taj berarti crown sedangkan Mahal berarti palace. Taj Mahal adalah bentuk mahkota dari Mumtaj Mahal yang meninggal pada tahun 1630 ketika melahirkan anaknya yang ke 14.  Istri pertama dan kedua, yang sama-sama tidak memiliki keturunan, dari Shah Jahan juga dikubur di areal Taj Mahal. Kuburan Mumtaj dan Shah Jahan yang sekarang dilihat oleh para turis sebenarnya merupakan replica dari kuburan aslinya yang terdapat di ruang bawah tanah.  3 jam rasanya belum cukup untuk menikmati keindahan kompleks Taj Mahal.

Knowledge Management Sebagai Keunggulan Kompetitif Bagi UKM

08:57 in Manajemen by Ikhlash Kautsar

PENDAHULUAN :

Usaha Kecil Menengah (UKM) telah berperan aktif dalam berbagai peningkatan perekonomian dalam sebuah negara, tidak hanya di Indonesia, akan tetapi juga di negara-negara sedang berkembang. UKM telah membantu masyarakat menjadi sejahtera melalui penyediaan lapangan pekerjaan, transaksi perdagangan, penciptaan nilai tambah bagi konsumen rumah tangga serta berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan daerah melalui yang dibayarkan.

Namun, berbagai permasalahan sering muncul sehingga menghambat pertumbungan dan perkembangan UKM. Permasalahan tersebut datang baik dari luar maupun dari dalam UKM itu sendiri. Salah satu permasalahan dalam lingkungan internal UKM adalah keterbatasan penguasaan pengetahuan.

Disamping itu, keberadaan UKM semakin terancam ketika perusahaan-perusahaan besar melalui produk-produk yang berkualitas dan berdaya saing tinggi dengan harga penawaran yang terjangkau memasuki pasar Indonesia.

Oleh sebab itu diperlukan solusi yang dapat diimplementasi dengan sederhana untuk menghadapi tantangan ini. Salah satu caranya adalah menciptakan daya saing melalui implementasi Knowledge Management pada UKM. Menurut Kosasih dan Budiani, hal ini seiring dengan pendapat Priambada bahwa Knowledge Management dapat meningkatkan kinerja suatu perusahaan melalui budaya saling berbagi pengetahuan.

Tulisan lengkap dalam format PDF:

Knowledge Management Sebagai Keunggulan Kompetitif Bagi UKM _ Implementasi dan Hambatannya

Penerapan Knowledge Management Dalam Industri Bioteknologi Pertanian

08:56 in Teori Organisasi dan Manajemen Pengetahuan by dewisuryani

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bioteknologi merupakan sebuah revolusi teknologi yang dapat memberikan kontribusi penting dalam pencapaian Sasaran Pembangunan Milenium PBB dengan mengurangi setengah angka kemiskinan di tahun 2015. Kini, semakin banyak peralatan bioteknologi merupakan temuan aplikasi di bidang pertanian dan manajemen sumberdaya alam. Petani dan konsumen diuntungkan dari teknik-teknik kloning yang memungkinkan perbanyakan massal tanaman-tanaman sehat, perbaikan turunan hewan dan sumberdaya konservasi biologi. Pupuk biologi dan biopestisida menawarkan pilihan yang aman lingkungan dan input pertanian yang lebih murah.

Kit diagnostik memungkinkan pencegahan dan pengobatan lebih baik penyakit tanaman dan hewan sementara pemuliaan dengan bantuan penanda molekuler memungkinkan pengembangan tanaman dan hewan unggul dalam waktu yang lebih singkat. Rekayasa genetika tanaman, hewan dan mikroorganisme memberikan pilihan tambahan dalam perbaikan hasil, manajemen hama dan penambahan nilai dalam produksi makanan dan proses pasca produksi. Asia Tenggara kaya akan sumberdaya hayati yang dapat dimanfaatkan bagi industry-industri yang berbasis sumberdaya. Sumberdaya ini, jika dimanfaatkan dengan bijaksana untuk industri-industri berbasis pertanian dan ilmu hayati, akan memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan di wilayah tersebut.

Dampak dari bioteknologi pertanian sangat baik dalam penerapannya dalam menjamin keamanan dan ketahanan pangan. Tercatat 14 juta petani kecil dan besar di 25 negara menanam 134 juta hektar (330 juta akre) tanaman biotek di tahun 2009, suatu penambahan 7 persen atau 9 juta hektar (22 juta akre) melampaui 2008. Hal ini mengakibatkan tanaman biotek menjadi teknologi tanaman yang paling cepat diadopsi dalam sejarah pertanian di masa kini; dan merefleksikan keyakinan serta kepercayaan jutaan petani di dunia yang secara konsisten terus menanam lebih banyak tanaman biotek tiap tahunnya sejak tahun 1996, dikarenakan manfaat berlipat dan penting yang ditawarkannya.

Inisiatif dalam pengembangan kemampuan, komunikasi dan bertukar pengetahuan mengenai bioteknologi pertanian diakui untuk  adopsi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Utara ke Selatan. Inisiatif ini membentuk blok bangunan bagi manajemen pengetahuan di bidang bioteknologi pertanian yang melibatkan perpaduan promosi belajar dan budaya pembelajaran, penggunaan pengetahuan melalui perbaikan akses terhadap sumber daya pengetahuan, dan penciptaan pengetahuan melalui platform yang memungkinkan pertukaran dan sintesis pengetahuan.

Di Asia, pengalaman dan pelajaran yang diperoleh dari riset dan pengembangan bioteknologi baik dalam sector public maupun swasta sebagian besar tidak didokumentasikan. Sejumlah tacit knowledge substantive tetap berada dalam pikiran manajer, pengusaha dan praktisioner. Dalam era ekonomi pengetahuan seperti sekarang ini, manajemen pengetahuan proaktif menjadi penting sehingga dapat menghadapi tantangan dalam keamanan dan ketahanan pangan di dunia yang sangat cepat berubah ini. Tacit Knowledge adalah pengetahuan yang pada umumnya belum terdokumentasi karena pengetahuan ini masih ada pada keahlian atau pengalaman seseorang. Pada umumnya, tacit knowledge masih berhubungan dengan hal – hal yang bersifat praktek, dimana transfer knowledge tersebut masih dilakukan dengan cara sosialisasi langsung. Tacit Knowledge dapat didokumentasikan, tetapi membutuhkan penjelasan rinci agar tidak terjadi kesalahpahaman kepada orang yang membaca dokumentasi dari pengetahuan tersebut. Contohnya adalah cara melatih gajah. Akan sulit mengajarkannya jika hanya melalui teori, si pemilik knowledge lebih baik mengajarkan langsung kepada si penerima knowledge.

Isu mengenai implementasi Manajemen Pengetahuan atau Knowledge Management (KM) sebagai hal penting untuk meningkatkan kinerja perusahaan, belakangan semakin banyak dibicarakan dalam kaitan manajemen modern. Knowledge Management (KM) sebagaimana yang didefinisikan oleh Amrit Tiwana dalam bukunya The Knowledge Management Toolkit (2000) adalah pengelolaan pengetahuan organisasi untuk menciptakan nilai dan menghasilkan keunggulan bersaing atau kinerja yang prima.

KM dipandang penting, karena implementasinya memberi manfaat pada bidang operasi dan pelayanan, dapat meningkatkan kompetensi personal, memelihara ketersediaan knowledge dan inovasi serta pengembangan produk. Sebuah contoh betapa pentingnya peran KM adalah apabila perusahaan menghadapi kasus pengunduran diri dari karyawan yang memiliki knowledge menonjol, sementara pada saat itu belum ada transfer knowledge bagi penggantinya. Bisa terjadi kepindahan karyawan itu diikuti dengan kepindahan pelanggan.

Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) merupakan sumber atau penempatan dari sekurang-kurangnya empat jenis asset pengetahuan (orang, proses, struktur dan stakeholder atau dukungan dari luar organisasi, dan teknologi) sehingga mereka dapat menciptakan nilai bagi individu, organisasi, komunitas dan masyarakat. KM mendefiniskan “pengetahuan” sebagai kemampuan untuk tindakan efektif – “apa yang berperan” dan tidak hanya “apakah itu” (informasi). Inisiatif KM yang diterapkan bagi pertanian dan pembangunan pedesaan melalui pembelajaran social dan aplikasi lapangan; jaringan dan peer mentoring; workshop untuk refleksi dan sintesis; serta pengembangan dan publikasi pengetahuan dan materi pembelajaran dalam berbagai bentuk. Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) sangat menonjol dalam inisiatif-inisiatif ini.

1.2. Tujuan

Melihat penerapan manajemen pengetahuan (knowledge management) dalam industri bioteknologi pertanian.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Knowledge Manajement dan Penerapannya

Randeree (2006) menyatakan bahwa manajemen pengetahuan semakin berperan penting dalam bisnis dari banyak organisasi, karena mereka menyadari bahwa daya saing tergantung pada manajemen sumber daya intelektual yang efektif. Sejalan dengan Renderee, Palacios et. al. (2009) memahami manajamen pengetahuan sebagai sebagai sebuah sistem manajemen yang menangkap aspek model mapan organisasi dan memperluasnya untuk menyediakan metodologi praktis. Mereka mendefinisikan  kandungan dari manajemen pengetahuan yang terdiri dari dua dimensi: prinsip dan praktek. Konsep khusus mereka mengenai manajemen pengetahuan adalah sebagai alat manajemen yang ditandai dengan seperangkat prinsip bersama dengan serangkaian praktek dan teknik melalui prinsip-prinsip yang diperkenalkan, tujuannya yakni untuk membuat, mengubah, menyebarkan dan memanfaatkan pengetahuan. Definisi ini memungkinkan kita untuk memverifikasi apakah sebuah fungsi sistem manajemen didasarkan atas kepercayaan dan nilai-nilai yang terkandung dalam prinsip-prinsip KM. Analisis apakah prinsip-prinsip ini terwujud dalam seperangkat praktik dan teknik dalam perilaku rutin perusahaan juga merupakan suatu hal penting. Setiap perusahaan mengembangkan prinsip-prinsip KM dalam konteks yang berbeda. Namun, harus mempertimbngkan apakah sesuai untuk menentukan seperangkat prinsip umum yang perlu dipadukan kedalam suatu sistem KM.

Natarajan dan Shekar (2000) dalam Jamaliah Abdul Hamid (Understanding Knowledge Management, 2003) mendefinisikan Manajemen Pengetahuan sebagai kegiatan terstruktur dari organisasi dalam rangka memperbaiki kapasitas organisasinya. Caranya adalah dengan memperoleh, membagi, dan memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan derajat kelangsungan hidup dan keberhasilan organisasi. David dan Associate (1997) mengatakan bahwa manajemen pengetahuan adalah suatu proses yang sistematik dalam menciptakan, mengumpulkan, mengorganisasikan, mendifusikan, memanfaatkan, dan mengeksploitasi pengetahuan. Dari definisi tersebut maka ada empat subsistem dari manajemen pengetahuan yakni mendapatkan, menciptakan, menyimpan,  dan mentransfer-memanfaatkan pengetahuan.

Sistem  yang diciptakan merupakan suatu keterkaitan yang komprehensif dari informasi dan pengetahuan dari beragam sumber seperti  kalangan praktisi, ilmuwan, dan pengamat. Data dan  informasi diolah, dianalisis, dan sejauh mungkin disintesis yang kemudian dipakai untuk menyusun strategi bisnis perusahaan. Keberhasilan penerapan manajemen pengetahuan sangat bergantung pada beberapa faktor. Faktor pertama adalah kualitas pemimpin perusahaan yang didukung semua lini. Dalam hal ini pemimpin, contohnya manajemen menengah, haruslah berkomitmen dan taat akan asas dalam menerapkan dan mengembangkan sistem secara partisipatif dan integral. Kedua adalah dukungan budaya kerja berbasis pengetahuan di kalangan manajemen dan karyawan. Secara eksplisit budaya pengetahuan akan memperkuat budaya kerja yang ada. Dan yang ketiga, karena sebagai sistem maka manajemen pengetahuan harus merupakan  sistem bisnis perusahaan yang total. Artinya subsistem manajemen pengetahuan berkaitan dengan subsistem lainnya seperti dengan subsistem-subsistem manajemen SDM, manajemen finansial, manajemen kompensasi, manajemen produksi, manajemen pemasaran (Mangkuprawira, 2008).

Ada beberapa hambatan bagi introduksi KM efektif, menurut Yu (2002) diantaranya adalah (1) absennya suatu budaya yang mengatasi resistensi para anggota dalam sebuah organisasi untuk berbagi pengetahuan; (2) kurangnya atau tidak cukupnya komunikasi kepada para karyawan mengenai konsep KM dan manfaatnya; (3) sebuah hierarki yang menghindari difusi pengetahuan serta proses pembelajaran; (4) suatu struktur organisasi dengan fleksibilitas langka yang menghalangi transfer pengetahuan internal; (5) teknologi kuno atau sangat rumit; (6) kesalahan dalam memadukan KM dengan praktek kerja yang lazim; (7) kurangnya pelatihan.

Sistem knowledge management yang efektif akan membuat karyawan secara cepat dan mudah menemukan data, informasi, dan pengetahuan lainnya. Sehingga memungkinkan mereka untuk menganalisis informasi secara mudah dan berkolaborasi dengan karyawan lain serta pihak ketiga tanpa dibatasi oleh lokasi serta perbedaan waktu.KM dapat berkontribusi bagi keberlangsungan keunggulan kompetitif, memungkinkan pengembangan kompetensi-kompetensi berbeda (Media Indonesia, 26 Agustus 1999). Gloet and Terziovski (2004) menganggap KM sebagai penggerak utama dibalik seperangkat kompetensi dalam sebuah organisasi.  Khususnya, implementasi KM dapat memungkinkan penyebaran inovasi kompetensi. Cara organisasi mengembangkan kebijaksanaannya dan meregenerasi pengetahuannya adalah dengan langsung dikondisikan oleh alam dan kepentingan sistem manajemen ini. Sejalan dengan hal ini, Zollo dan Winter (2002) dalam Palacios et. al. (2009) menyatakan bahwa organisasi mengembangkan kompetensi-kompetensi dinamis ketika tiga mekanisme bersamaan ada. Ketiganya antara lain akumulasi pengalaman, artikulasi pengetahuan dan kodifikasinya. Suatu sistem KM meliputi ketiga hal tersebut. Pengenalan sistem KM memungkinkan perolehan pengetahuan baru, yang menciptakan rutinitas baru, model mental dan inovasi.

Dalam Manajemen Pengetahuan (KM) dikenal istilah Tacit Knowledge dan Explicit Knowledge. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang pada umumnya belum terdokumentasi karena pengetahuan ini masih ada pada keahlian atau pengalaman seseorang. Pada umumnya, Tacit Knowledge masih berhubungan dengan hal-hal yang bersifat praktek, dimana transfer knowledge tersebut masih dilakukan dengan cara sosialisasi langsung. Tacit Knowledge dapat didokumentasikan, tetapi membutuhkan penjelasan  rinci agar tidak terjadi kesalahpahaman kepada orang yang membaca dokumentasi dari pengetahuan tersebut. Sebaliknya explicit knowledge adalah pengetahuan yang formal, sistematis dan mudah untuk ditransfer atau dibagikan ke orang lain dalam bentuk dokumentasi karena umumnya merupakan pengetahuan yang bersifat teori dimana memudahkan para ahli untuk membagi pengetahuannya kepada orang lain melalui buku, artikel dan jurnal tanpa harus datang langsung untuk mengajari orang tersebut. Contohnya adalah pelajaran knowledge manajemen, di mana setiap mahasiswa dapat belajar dari modul-modul yang disediakan dosen. Transfer antara tacit knowledge dan explicit knowledge kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi atau perusahaan dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

  1. Socialization (tacit to tacit): tacit knowledge di share kepada orang lain dengan cara mengamati,mencontoh dan melatih tanpa mendokumentasikan dan mempublikasikan knowledge tersebut.
  2. Externalization (tacit to explicit): tacit knowledge di share dengan cara mendokumentasikan secara logis dan konseptual, sehingga mudah untuk dimengerti orang lain.
  3. Combination (explicit to explicit): explicit knowledge yang sudah dimiliki dan eksternal knowledge dikombinasikan untuk mengembangkan explicit knowledge yang sudah ada.
  4. Internalization (explicit to tacit) : explicit knowledge yang sudah ada dipelajari dan dipraktekkan untuk mendapatkan tacit knowledge yang baru dan bermanfaat.

Adopsi KM memiliki dampak positif terhadap proses organisasional yang menciptakan, menyimpan, mendistribusikan dan menginterpretasikan pengetahuan serta rekrutmen, retensi dan keterlibatan aktif para karyawan bertalenta. KM juga memiliki dampak positif terhadap kemampuan perusahaan dalam mengelola proyek-proyek riset dan pengembangan guna mengangkat kemampuan internal bagi pengenalan pengetahuan dan untuk meningkatkan stok pengetahuan yang tersedia Gloet dan Terziovski (2004) dalam Palacios et. al. (2008).

Perkembangan budaya organisasi yang mendorong pertuikaran pengetahuan mendorong dialog mengenai pekerjaan dan kesalahan yang telah dilakukan. Dalam hal ini, perusahaan yang dimiliki oleh suatu kelompok dapat menggunakan sumberdaya secara bersama. Sumberdaya seperti pengetahuan pengolahan khusus dan kemampuan teknis dapat ditukarkan dalam bentuk suatu “budaya” umum dari keunggukan dan intelejen teknis terkemuka. Konteks organisasional dan budaya seperti ini dapat menarik orang-orang bertalenta, sehingga meningkatkan modal manusia dengan pengetahuan tacit yang relevan. Pembelajaran terus menerus dan budaya inovatif memiliki dampak positif bagi pertumbuhan stok pengetahuan.  (Scarbrough, 2003).

Akuisisi  pengetahuan  adalah  pengumpulan  data-data  dari  seorang pakar ke dalam suatu sistem (program  komputer). Bahan pengetahuan dapat diperoleh melalui buku, jurnal ilmiah, literatur, seorang pakar, browsing internet, laporan dan lain-lain. Sumber  pengetahuan  dari  buku,  jurnal  ilmiah,  literatur,  seorang  pakar,  browsing internet, laporan dijadikan dokumentasi untuk dipelajari,  diolah dan dikumpulkan  dengan  terstruktur  menjadi  basis  pengetahuan (knowledge base). Sumber-sumber  pengetahuan  yang  diperoleh  agar  menghasilkan  data-data  yang  baik    maka  perlu  diolah  dengan  kemampuan yang baik pula sehingga dapat menghasilkan solusi  yang efisien. Karena kemampuan yang menjadi hal yang pokok/wajib dibutuhkan oleh seorang pengembang sistem.  Dalam  membangun  sistem  besar,  seseorang  memerlukan  knowledge  engineer atau  pakar  elisitasi  pengetahuan  untuk  berinteraksi  dengan  satu  atau  lebih  pakar  manusia  dalam  membangun  basis  pengetahuan (Rahmat, 2010).

2.2. Perkembangan Bioteknologi Pertanian

Bioteknologi berasal dari dua kata, yaitu ‘bio’ yang berarti makhuk hidup dan ‘teknologi  yang berarti cara untuk memproduksi barang atau jasa. Dari paduan dua kata tersebut European Federation of Biotechnology (1989) mendefinisikan bioteknologi sebagai perpaduan dari ilmu pengetahuan alam dan ilmu rekayasa yang bertujuan meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan produk dan jasa (Goenadi & Isroi, 2003). Seperti halnya teknologi-teknologi yang lain, aplikasi bioteknologi untuk pertanian selain menawarkan berbagai keuntungan juga memiliki potensi risiko kerugian. Keuntungan potensial bioteknologi pertanian antara lain: potensi hasil panen yang lebih tinggi, mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida, toleran terhadap cekaman lingkungan, pemanfaatan lahan marjinal, identifikasi dan eliminasi penyakit di dalam makanan ternak, kualitas makanan dan gizi yang lebih baik, dan perbaikan defisiensi mikronutrien (Jones, 2003). Satu pendekatan baru yang sedang mendapatkan banyak perhatian adalah Bio-farming , seperti antibiotika dalam buah pisang.

Bioteknologi dapat diaplikasikan salah satunya di bidang pertanian. Perkembangan bioteknologi di bidang pertanian sangatlah pesat dengan pemanfaatannya secara meluas hampir di seluruh negara di dunia. Berdasarkan laporan Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops: 2009, di tahun 2009, 14 juta petani menanam 134 juta hektar (330 juta akre) tanaman biotek di 25 negara, meningkat dari 13,3 juta petani dan 125 juta hektar (7 persen) di 2008. 13 dari 14 juta petani, atau 90 persennya adalah petani kecil dan bersumberdaya rendah dari negara-negara berkembang. Brasil melampaui Argentina sebagai penanam tanaman biotek terbesar kedua secara global.  Pertumbuhan yang mengesankan dari 5,6 juta hektar menjadi 21,4 juta hektar, meningkat 35% dibanding tahun 2008, ini merupakan pertumbuhan tertinggi untuk semua negara di tahun 2009.

Ada delapan negara tertinggi di dunia yang sampai tahun 2009 masing-masing menanam  lebih dari 1 juta hektar tanaman biotek diantaranya adalah Amerika Serikat (64,0 juta hektar), Brasil (21,4 juta ha), Argentina (21,3 juta ha), India (8,4 juta ha), Kanada (8,2 juta ha), China (3,7 juta ha), Paraguay (2,2 juta ha), dan Afrika Selatan (2,1 juta ha).  Negara-negara yang tersisa termasuk: Uruguay, Bolivia, Filipina, Australia, Burkina Faso, Spanyol, Meksiko, Chile, Kolombia, Honduras, Republik Ceko, Portugal, Rumania, Polandia, Kosta Rika, Mesir dan Slovakia.

Banyak perusahaan di dunia yang kini sedang mengembangkan produk bioteknologi. Penerapannya yang semakin meluas membuka peluang bagi berbagai perusahaan lainnya untuk turut berperan dalam pengembangan produk-produk seperti ini. Perusahaan-perusahaan raksasa dunia seperti Monsanto, DuPont, Syngenta, Bayer dan lainnya menguasai hampir seluruh aspek pengembangan produk bioteknologi pertanian, dikarenakan modalnya yang besar yang didukung oleh sumberdaya yang memadai.

Sebuah invensi bioteknologi pada dasarnya merupakan ide atau solusi bagi sebuah masalah teknis. Oleh karena itu adalah sangat penting untuk memperoleh perlindungan hukum sebelum mengkomersialkannya. Dalam beberapa kasus, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan sebelum sebuah invensi dapat diwujudkan dalam bentuk produk yang dapat dipasarkan atau proses yang dapat diterapkan dalam produksi komersial. Bahkan setelah produksi dari invensi baru dilaksanakan, upaya lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memasarkannya, yang juga memerlukan dukungan sumberdaya manusia, investasi, waktu, dan kerja kreatif. Riset pengembangan merupakan tahapan yang sangat penting sebelum sebuah hasil penelitian bioteknologi dapat menjadi sebuah produk atau proses. Walaupun banyak tahapan yang dapat ditempuh, pengalaman penulis menunjukkan bahwa riset pengembangan menentukan keyakinan pihak investor dalam mengkomersialisasikan teknologi yang dihasilkan.

Salah satu kunci keberhasilan komersialisasi produk bioteknologi adalah adanya kebutuhan pasar dan mutu produk yang dihasilkan cukup memadai. Produk-produk berbasis bioteknologi memperoleh apresiasi pasar karena masyarakat lebih sadar terhadap pentingnya produk hayati. Oleh karena itu, produk-produk pupuk hayati, pelapuk hayati, dan tanaman hasil kultur jaringan relatif mudah memperoleh tanggapan positif dari pasar. Faktor kunci lainnya adalah jenis produk yang dihasilkan harus mampu menawarkan peningkatan efisiensi pada tingkat harga yang layak. Memasarkan produk pupuk hayati, yang mampu menghemat penggunaan pupuk kimia pada saat harga pupuk terus meningkat dan subsidi oleh pemerintah dihapus akan sangat efektif. Di samping aspek produk tersebut di atas, pengenalan terhadap segmen pasar adalah sangat penting artinya agar invensi yang diciptakan mampu secara potensial memiliki pasar utama (captive market). Untuk itu diperlukan strategi mengamankan pasar produk melalui keterkaitan yang erat antara produsen dan konsumen. Salah satunya adalah bahwa produsen adalah sekaligus bertindak sebagai konsumen utama (LRPI, 2005).

III. PEMBAHASAN

Bidang bioteknologi merupakan suatu bidang yang tepat untuk mempelajari kewirausahaan berbasis pengetahuan semenjak 2 dekade terakhir dikarenakan munculnya banyak perusahaan-perusahaan baru. Selain itu, tak terbantahkan bahwa perusahaan-perusahaan baru itu berbasis pengetahuan dikarenakan industri ini dikenal luas sebagai industri berbasis sains dan bahkan industri yang digerakkan oleh ilmu pengetahuan Sciascia et. al. (2006) dalam Palacios et. al. (2009). Gambaran menarik lain dari perusahaan-perusahaan baru hampir selalu murni kasus kewirausahaan, yang artinya bahwa mereka adalah perusahaan berbasis teknologi baru. Perusahaan dibangun atas penggunaan teknologi baru atau pembuatan produk baru. Mereka biasanya tidak menggunakan teknologi generik yang sudah banyak dikembangkan di tempat lain.

Dalam industri bioteknologi pertanian, kecepatan dan banyaknya sumber informasi membuat pelanggan menjadi semakin cerdas dan kritis, hal ini pun berlaku bagi semua bidang bisnis. Jika perusahaan tidak dapat terus memenuhi tuntutan pelanggan maka hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi sebuah bisnis. Namun apabila perusahaan segera menyusun kekuatan knowledge (pengetahuan ditambah dengan pengalaman) dan memposisikan knowledge sebagai aset utama untuk menghasilkan solusi bagi pelanggan maka hal tersebut dapat menjadi sebuah kekuatan baru dalam pengembangan bisnis. Membangun knowledge berarti selalu belajar dari berbagai sumber pengetahuan. Namun belajar pun tidak cukup jika tidak segera diikuti dengan menambah ‘jam terbang’ penerapan pengetahuan itu. Pengalaman menerapkan pengetahuan baru akan menambah nilai knowledge menjadi semakin tinggi. Dengan demikian Widayana (2004) menyebutkan siklus membangun knowledge yang terdiri dari:

1. Belajar (dari berbagai sumber pengetahuan)

2. Menjadi Pengetahuan dan dianalisa

3. Bertindak/Menerapkan

4. Hasil tindakan (Gagal/Sukses)

5. Pengalaman

6. Hasil pengalaman menjadi pengetahuan yang telah diperbarui.

Berbagai tuntutan untuk selalu belajar di era informasi yang semakin cepat dan deras ini merupakan sebuah kebutuhan yang sangat mendesak dan tak terelakkan lagi. Keadaan serba cepat menuntut perubahan atau bahkan revolusi dalam cara belajar yang dimulai paling tidak dari diri kita sendiri. Dikarenakan berbagai perubahan di zaman ini diakibatkan oleh kecepatan informasi, maka cara belajar yang paling efektif adalah dengan mengikuti irama kecepatan informasi itu sendiri dan menganalisanya dalam waktu yang cepat pula. Kecepatan menganalisa informasi pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas tindakan berdasarkan informasi itu.

Membongkar sekat arus pengetahuan. Perubahan bahkan yang sangat radikal dalam alur kerja organisasi bisnis menuntut keberanian dari pemimpin organisasi itu. Dalam sebuah perusahaan, karyawan perlu diajak berpikir dan bertindak sebagaimana layaknya seorang wiraswasta. Artinya, dimensi pemikiran dan tindakannya tidak bisa lagi terkotak-kotak dalam fungsi dan tugas bagiannya sendiri, melainkan semua memandang bahwa kepentingan profit perusahaan adalah tanggung jawab semua pihak.

Pertukaran knowledge (knowledge-sharing) dijadikan sebagi suatu budaya untuk menghasilkan inovasi. Pembangunan knowledge organisasi perusahaan tidak lah membutuhkan modal yang besar, namun hanya modal kemauan yang besar untuk selalu maju, mengkomunikasikan maksud baik untuk maju, dan siap berubah. Berbagi knowledge tidak akan membuat seseorang akan kehilangan kekuasaan atau kekuatannya. Apabila semua orang melakukakn hal ini maka lambat laun akan disadari bahwa aset knowledge adalah aset terbesar kita dan bukan lagi sumber daya fisik dan materi.

Menurut Prasetya (2010), Knowledge Management Feature dapat terdiri atas:

1. Produk knowledge

Memetakan keterangan dari produk-produk yang di jual kepada consumer, sehingga fungsi dan cara penggunaan yang benar dapat diketahui secara detail

2. Riset data knowledge

Menyimpan data-data hasil riset untuk digunakan kembali apabila akan melakukan riset yang baru dan masih berhubungan dengan riset yang lama

3. Discussion forum

Ide-ide kreatif / usul / saran dari para pegawai tingkat bawah maupun tingkat atas untuk membuat suatu inovasi baru dalam perusahaan.

4. Employee yellow page

Kumpulan data para expert perusahaan dalam bidang yang ada untuk menjadi sebuah referensi untuk perusahaan.

5. Case Base Reasoning

Mendokumentasikan kasus-kasus yang pernah terjadi juga di sertakan pemecahan masalah nya (Q &A). Agar bila kasus serupa terjadi, bisa dapat langsung di atasi.

6. Budaya Tendensius Pelanggan

Memahami budaya dari setiap daerah pelanggan dan mendokumentasi kan nya, sehingga mengetahui perbedaan pelanggan dari masing-masing wilayah dan juga mengetahui karakteristik dari masing-masing pelanggan. Sehingga dengan ini dapat melakukan pemasaran iklan yang baik dan juga menaikkan kepercayaan pelanggan kembali.

7. Customer care

Sebuah fitur yang mempermudah proses penanganan komplain dari customer.

8. Arsip Hak Paten

Dari problem monsanto yang ada, jika hak patennya itu berakhir maka setiap hak paten yang dimiliki perusahaan harus di dokumentasikan. Agar ketika hak paten itu berakhir, perusahaan dapat mengetahui dan bisa melakukan langkah-langkah antisipasi dengan melakukan pendaftaran hak paten baru agar masalah yang pernah terjadi tidak terulang kembali.

Dibawah ini gambaran Knowledge Management Goal yang dapat diterapkan oleh industri bioteknologi pertanian:

Gambar. Knowledge Management Goal pada level yang berbeda

Gambar. Knowledge Management Goal pada level yang berbeda

Dengan semakin berkembangnya industri bioteknologi pertanian di dunia, maka semakin banyak perusahaan-perusahaan bioteknologi pertanian di dunia yang perlu memperkenalkan inovasinya kepada masyarakat luas. Dalam hal ini, salah satu pihak yang paling membutuhkan transfer knowledge yaitu petani. Berbagai inovasi di bidang bioteknologi pertanian tidak hanya milik perusahaan/industri swasta melainkan dapat dihasilkan oleh berbagai lembaga penelitian di suatu negara. Petani dianggap sebagai pelanggan dari inovasi bioteknologi yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Adapun tujuan pengetahuan (knowledge goal) dari industri bioteknologi pertanian seperti yang dijelaskan oleh Prasetya (2010) dapat terdiri dari

1. Normative

a. Menghubungkan knowledge antar karyawan

b. Membuat dan mengaktifkan lingkungan belajar dan budaya saling berbagi

c. Menghubungkan karyawan melalui teknologi informasi

2. Strategi

a. Menciptakan produk yang sehat

b. Meningkatkan respon terhadap pelanggan

c. Menyimpan knowledge karyawan agar dapat diolah menjadi sebuah knowledge management

3. Operational

a. Menyebarkan knowledge secara merata kepada karyawan

b. Mempermudah proses penanganan komplain dari customer

c. Memberi informasi berita-berita / pengumuman ter-update kepada karyawan maupun pelanggan.

d. Pendokumentasian knowledge untuk mempermudah proses sharing

Dalam hal identifikasi pengetahuan (knowledge identification), dapat meliputi:

1. Structural

a. Profil perusahaan (visi dan misi)

b. Prosedur pemakaian teknologi genetik

c. Data produk

d. Resep pembuatan produk

2. Functional

a. Pelatihan dan konseling pegawai

b. Rapat Dewan dan Komite

3. Behavioural

a. Reward untuk karyawan Functional

Dibawah ini beberapa contoh penerapan knowledge acquisition (akuisisi pengetahuan) oleh beberapa perusahaan bioteknologi pertanian, diantaranya:

  1. Pada tahun 1998 monsanto bergabung dengan perushaan delco and pine land untuk mendapatkan teknologi genetika yang dimiliki oleh delco and pine land.
  2. Pada tahun 1998 monsanto melakukan pembelian Cargill seed business, sebuah perusahaan benih yang sudah berdiri dibeberapa benua dengan pengoprasian dan distribusi ke 51 negara di amerika tengah dan selatan, eropa, asia dan afrika dalam rangka meningkatkan akses yang lebih cepat pada pasar di negara-negara tersebut.
  3. Pada tahun 1999 monsanto bergabung dengan perusahaan farmasi terkemuka Pharmacia & UpJohn bertujuan untuk berbagi berbagai macam bidang ilmu untuk menemukan solusi dari peningkatan kebutuhan pangan dan kesehatan.
  4. Pada tahun 1999 tepatnya bulan juli perusahaan monsanto dan cynamid AHP mengadakan penandatanganan perjanjian multi yaitu perusahaan cynamid AHP memungkinkan untuk membeli glukosat untuk penggunaan di Extremetm, karena produk itu bisa digunakan dalam conjuction dengan biji glyphosateimmune dijual oleh monsanto.
  5. Pada 12 juli 1999 monsanto menandatangani perjanjian yang menjadikan scott’s company satu-satunya agen pemasaran dan distribusi roundup di Amerika Serikat. Scott’s company merupakan agen paling terkenal untuk produk taman di amerika serikat.
  6. Pada tahun 2006, Monsanto mengakuisisi Delta & Pine Land, perusahaan yang bergerak di bidang riset genetika bersama dengan Departemen Pertanian, Amerika Serikat. Setelah penggabungan dengan Delta & Pine Land, Monsanto banyak memproduksi benih terminator, yaitu benih yang hanya bisa ditanam satu kali sehingga petani tidak dapat menyimpan dan menggunakan hasilnya untuk penanaman selanjutnya.

Perusahaan-perusahaan bioteknologi dapat menggelar aktivitas seperti Farmer Field Day untuk bertukar pengetahuan (knowledge sharing) dengan pelanggannya (dalam hal ini para petani). Hal ini dapat membentuk persepsi petani mengenai manfaat potensial dan ancaman introduksi suatu teknologi, contohnya kultur jaringan pisang dalam sistem pertanian mereka. Petani dapat memilih varietas dan karakteristik yang diinginkannya. Beberapa jenis aktivitas yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini meliputi pertukaran informasi mengenai akuisisi benih, pembukaan lahan, crop husbandly, nilai tambah (contohnya pematangan pisang) dan pemasaran. Petani dapat mengungkapkan pengalamannya dalam menanam varietas tradisional maupun kultur jaringan atau rekayasa genetika lainnya.

Pengenalan program KM dalam industri bioteknologi sangat berdampak positif dalam membangun hubungan antara industri dan pelanggannya. Kemampuan yang dapat dibantu oleh KM dalam sebuah industri adalah keahlian dalam investasi dan manajemen alur pengetahuan, pengenalan pengetahuan internal, transfer pengetahuan, penyebaran dan penerapan intrenal akumulasi pengetahuan serta peningkatan varietas memori organisasional. Dalam hubungan antara industri dan petani, KM sangat terkait dengan kemampuan inovasi dari perusahaan itu sendiri yang dapat menguntungkan petani dimanapun. Perusahaan perlu melakukan berabagai tindakan yang memungkinkan pengembangan dan pembaruan aset strategis lainnya.


IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Dalam industri bioteknologi pertanian, kecepatan dan banyaknya sumber informasi membuat pelanggan menjadi semakin cerdas dan kritis, hal ini pun berlaku bagi semua bidang bisnis. Dengan semakin berkembangnya industri bioteknologi pertanian di dunia, maka semakin banyak perusahaan-perusahaan bioteknologi pertanian di dunia yang perlu memperkenalkan inovasinya kepada masyarakat luas. Dalam hal ini, salah satu pihak yang paling membutuhkan transfer knowledge yaitu petani. Berbagai inovasi di bidang bioteknologi pertanian tidak hanya milik perusahaan/industri swasta melainkan dapat dihasilkan oleh berbagai lembaga penelitian di suatu negara. Petani dianggap sebagai pelanggan dari inovasi bioteknologi yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Pengenalan program KM dalam industri bioteknologi sangat berdampak positif dalam membangun hubungan antara industri dan pelanggannya. Kemampuan yang dapat dibantu oleh KM dalam sebuah industri adalah keahlian dalam investasi dan manajemen alur pengetahuan, pengenalan pengetahuan internal, transfer pengetahuan, penyebaran dan penerapan intrenal akumulasi pengetahuan serta peningkatan varietas memori organisasional.

4.2. Saran

Knowledge Management merupakan sebuah hal yang sangat penting dalam menjaga hubungan perusahaan baik internal maupun eksternal. Dengan semakin berkembangnya zaman, transfer pengetahuan haruslah berjalan dengan baik agar tujuan yang diinginkan oleh kedua pihak dalam hal ini industri dan pelanggan dapat tercapai dengan baik. Perusahaan perlu melakukan berabagai tindakan yang memungkinkan pengembangan dan pembaruan aset strategis lainnya sehingga dapat terus memajukan inovasi yang dapat menguntungkan semua pihak terutama pelanggannya.

V. DAFTAR PUSTAKA

Goenadi, D.H. dan Isroi. 2003. Aplikasi Bioteknologi dalam Upaya Peningkatan Efisiensi Agribisnis yang Berkelanjutan. Makalah Lokakarya Nasional Pendekataan Kehidupan Pedesaan dan Perkotaan dalam Upaya Membangkitkan Pertanian Progresif, UPN “Veteran” Yogyakarta, 8-9 Desember 2003.

Jones, D.D. 2003. Food and Agricultural Biotechnology for the 21 st Century. www.apctt.org/publication .

Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. 2005. Komersialisasi Produk Bioteknologi Pertanian Di Indonesia, Mungkinkah?. http://www.ipard.com/art_perkebun/apr03-05_dhg+isr.asp. Accessed 23 January 2011.

Widayana, Lendy. 2004. Memajukan Perusahaan dengan Knowledge. http://knownetwork.blogspot.com/2004/03/artikel-memajukan-perusahaan-dengan.html. dimuat pada Harian Radar Malang tanggal 09 Maret 2004.

Mangkuprawira, Tb. Sjafri. 2008. Mengapa Membutuhkan Sistem Manajemen Pengetahuan. http://ronawajah.wordpress.com/2008/03/30/mengapa-membutuhkan-sistem-manajemen-pengetahuan/. Accessed 22 January 2011.

Palacios, D., E. Ignacio Gil, E. Fernando Garrigos. 2009. The impact of knowledge management on innovation and entrepreneurship in the biotechnology and telecommunications industries. Small Bus Econ, 32:291-301. DOI 10.1007/s11187-008-9146-6

Prasetya, Taufan. 2010. Knowledge Management. http://taufanprasetya.blog.binusian.org/. Accessed 23 January 2011.

Rahmat. Akuisisi Pengetahuan. http://blog.re.or.id/akuisisi-pengetahuan-knowledge-acquisition.htm. Accessed 23 January 2010.

Randeree, E. 2006. Knowledge management: securing the future. Journal of Knowledge Management, 10(4), 145-156. doi:10.1108/13673270610679435.

Yu, C. M. (2002) Socialising knowledge management: The influence of the  opinion leader. Journal of Knowledge Management Practice, 3.  www.tlainc.com/jkmp3.htm.

Scarbrough, H. (2003). Knowledge Management, HRM and the innovation process. International Journal of Manpower, 24 (5), 501-516. doi:10.1108/01437720310491053.

Selengkapnya dapat dilihat di Penerapan Knowledge Management dalam industri bioteknologi pertanian.

Knowledge Management

08:51 in Berita by anitawijayanti

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Era globalisasi yang ditunjang oleh inovasi juga ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat . Menyadari akan persaingan yang semakin berat, maka perlu ada perubahan paradigma pemikiran yang bertumpu pada analisis bidang ilmu pengetahuan tertentu misalnya pohon industri, kemasan pengetahuan, metadatabase,  data mining, dsb, serta pengembangan SDM. Disinilah peran pendidikan dan knowledge sharing dikalangan karyawan menjadi amat penting dalam meningkatkan kemampuan manusia untuk berpikir secara logika yang akan menghasilkan suatu bentuk inovasi. Jadi inovasi merupakan suatu proses dari ide melalui penelitian dan pengembangan akan menghasilkan prototype yang bisa dikomersialkan.

Menurut Carl Davidson dan Philip Voss (2003), mengatakan bahwa mengelola knowledge sebenarnya merupakan bagaimana organisasi mengelola staf, sebenarnya menurut mereka bahwa knowledge management adalah bagaimana orang-orang dari berbagai tempat yang berbeda mulai saling bicara, yang sekarang populer dengan label learning organization. Untuk mengembangkan Organizational Knowledge Management Systems (OKMS), PDII-LIPI memerlukan empat fungsi yaitu : using knowledge, finding knowledge, creating knowledge ( merupakan proposal penelitian tahun 2007), and packaging knowledge yang akan membentuk suatu pengetahuan untuk menjawab pertanyaan mengenai know-how, know-what,dan know-why, serta menumbuhkan kreatifitas yang ditumbuhkan oleh dirinya sendiri (self-motivated creativity), tacit pribadi (personal tacit), tacit yang membudaya (culture tacit), tacit organisasi (organizational tacit) dan asset peraturan (regulatory assests). Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) keberhasilan perusahaan Jepang ditentukan oleh keterampilan dan kepakaran mereka dalam penciptaan knowledge organisasinya ( organizational knowledge creation).

Tindakan dan maksud organisasi berinteraksi dengan bermacam-macam elemen lingkungan tersebut membutuhkan waktu yang lama, sedangkan Knowledge Management pengambil keputusan menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian yang besar sekali untuk memahami isu yang ada, mengidentifikasi alternatif yang sesuai, mengetahui outcome dan menjelaskan serta menentukan keinginannya. Oleh karena itu, keputusan yang rasional memerlukan informasi dan pengetahuan di atas kemampuan organisasi dalam mengumpulkan informasi /pengetahuan dan memprosesnya diatas kapasitas manusia untuk melakukannya. Untuk mencapai budaya institusi yang inovatif, maka upaya membangun knowledge sharing (berbagi knowledge) perlu dilakukan.

Pada penelitian ini diharapkan keempat fungsi tersebut diatas dapat diimplementasikan di makalah ini dengan suatu kondisi tertentu dan fasilitas yang memadai untuk membangun OKMS (organizational knowledge management systems) mungkin baru using information maka perlu transformasi ke using knowledge seperti (computer-mediated collaboration) melalui intranet atau web blog; electronic task management, messaging and visualization, group discussion, etc.

Perlu juga difungsikan finding knowledge melalui web-browsing dan data mining satu bidang tertentu atau berbagai bidang dan packaging knowledge dari berbagai bidang secara terstruktur dalam suatu system Sedangkan fungsi knowledge creating berkaitan dengan knowledge finding dan knowledge packing
harus dapat berfungsi secara optimal atau harus dipenuhi, apabila belum dapat dipenuhi atau difungsikan ketiga hal tersebut diatas, maka akan sulit mewujudkan OKMS.

Artikel selengkapnya dapat didownload sini

by agus35e

Sharing Knowledge Capability

08:33 in Berita by agus35e

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Knowledge Management terdiri dari berbagai strategi dan praktek yang digunakan dalam suatu kelompok, organisasi atau perusahaan untuk mengidentifikasi, menciptakan, merepresentasikan, mendistribusikan, dan memungkinkan adopsi wawasan dan pengalaman. Wawasan dan pengalaman tersebut terdiri dari pengetahuan, baik yang terkandung dalam individu atau tertanam dalam proses operasi atau praktek pada kelompok, organisasi atau perusahaan tersebut. Banyak perusahaan besar dan organisasi non-profit memiliki sumber daya yang didedikasikan untuk upaya Knowledge Management internal, sering sebagai bagian dari strategi bisnis, teknologi informasi atau departemen manajemen sumber daya manusia. Upaya penerapan Manajemen Pengetahuan biasanya terfokus pada tujuan organisasi seperti meningkatkan kinerja, keunggulan kompetitif, inovasi, berbagi pelajaran, integrasi dan perbaikan terus menerus dari organisasi

Pengetahuan menjadi faktor penting dalam menciptakan keunggulan dibandingkan aset financial atau modal uang. Oleh karena itu, berbagai bidang kegiatan saat ini menghadapi tuntutan untuk melaksanakan manajemen pengetahuan agar tetap dapat bertahan dan bersaing dengan perusahaan lain maupun dengan dunia internasional.

Pengetahuan saat ini dipandang sebagai sumber daya strategis yang penting bagi perusahaan untuk dapat memiliki keunggulan bersaing. Kesuksesan perusahaan menghasilkan keunggulan bersaing tergantung pada kemampuan perusahaan mengakuisisi dan mengasimilasi pengetahuan (potential absorptive capacity) dan mentransformasi dan mengeksploitasi pengetahuan (realized absorptive capacity). Knowledge sharing capability berpengaruh signifikan terhadap potential absorptive capacity, kemampuan perusahaan mengakuisisi dan mengasimilasi berpengaruh signifikan terhadap kemampuan mentransformasi dan mengeksplotasi pengetahuan. Hubungan antara potential absorptive capacity dan realized absorptive capacity dimoderasi oleh mekanisme formal.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya SDM yang memiliki Pengetahuan (Knowledge), Gagasan (Idea), Keahlian (Skill) serta Pengalaman (Experience) yang menjadi aset penting bagi perusahaan. Keempat unsur tersebut di atas merupakan modal yang tidak akan habis/hilang begitu saja. Kemauan untuk belajar, bertanya, mencoba, mengemukan ide/ pendapat menumbuhkan rasa percaya diri kita. Jadi, keempat unsur tersebut pada dasarnya saling berhubungan satu sama lain dimana intinya adalah peningkatan informasi.

Komponen selanjutnya dalam penerapkan manajemen pengetahuan ini adalah Teknologi Informasi. Bagi banyak perusahaan terkemuka, TI telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dan merupakan infrastruktur yang penting bagi perusahaan itu dalam memberikan nilai tambah atau keuntungan kompetitif. Kebutuhan bisnis yang kian meningkat seperti tuntutan untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi, mempercepat penyampaian produk atau layanan ke pasar, dan meningkatkan layanan kepada pelanggan. Perkembangan teknologi informasi memang memainkan peranan yang penting dalam konsep manajemen pengetahuan. Hampir semua aktivitas kehidupan manusia akan diwarnai oleh penguasaan teknologi informasi, sehingga jika berbicara mengenai manajemen pengetahuan tidak lepas dari pengelolaan informasi.
B. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui penerapan dari suatu transfer ilmu yang sering berlaku di mayarakat luas pada kelompok belajar di Manajemen Bisnis Institute Pertanian Bogor (MB IPB). Bagaimana pengetahuan seseorang itu diterapkan pada teman-teman kelompok tersebut, sehingga teman yang lain tersebut dapat mengerti pengetahuan yang dimiliki oleh teman yang lain.

Akan dilihat proses dari transfer ilmu tersebut apakah sudah sesuai dengan landasan teori yang ada selama ini atau masih ada hal-hal yang sulit diimplementasikan karena faktor individu dan sifat masing-masing angota. Karena sifat manusia yang memang berbeda satu dengan yang lainnya

File selengkapnya dalam format pdf dapat didownload di sini

Kepemimpinan Efektif Hasan Al Banna

08:25 in Berita by Jayadin R Binaardi

Dunia Islam khususnya di Mesir pada sekitar pertengahan abad dua puluh mempunyai tokoh kharismatis yang memperjuangkan Islam melalui sebuah tradisi penegakkan Islam melalui keluarga (al-usrah). Kelompok-kelompok usroh inilah yang dikenal dengan nama gerakan ikhwanul Muslimin, Gerakan ini menekankan pada aspek penegakkan syariat Islam dengan penuh keyakinan dan keikhlasan dibandingkan pada perkembangan pemikiran Islam modern.

Hingga saat ini, perkembangan organisasi Ikhwanul Muslimin menjadi sebuah organisasi dunia yang sangat massif dalam perkebangannya. Organisasi tersebut memiliki basis kader yang amat kuat dan erat, baik dalam satu negara maupun beda negara. Bahkan di beberapa negara, organisasi ini berhasil menjelma sebagai kekuatan politik yang mempunyai basis massa yang banyak dan mengakar serta berhasil merebut hati rakyat kebanyakan. Sebagai contohnya di Indonesia yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS menjadi partai yang cukup diperhitungkan, karena menjadi pemenang ke empat dalam pemilihan umum tahun 2009, sebuah prestasi besar jika melihat umur partai tersebut.

Ketika Ikhwanul Muslimin didirikan tahun 1928, pemimpinya pada saat itu berusia dua puluh dua tahun yang bekerja sebagai seorang guru. Gerakan ini merupakan salah satu gerakan yang paling berpengaruh pada abad dua puluh yang mengarahkan kembali masyarakat Muslim ke tatanan Islam Murni. Dalam gerakannya Ikhwanul Muslimin mengubah mode intelektual elite menjadi gejala popular yang kuat pengaruhnya pada interaksi antara agama dan politik, bukan saja di Mesir, namun juga di dunia Arab dan Muslim.

Beliau adalah Imam Hasan Al-Banna merupakan pemimpin Ikhwanul Muslimin dan merupakan tokoh kharismatis yang begitu dicintai oleh pengikutnya. Cara memimpin jamaahnya bagai seorang syaikh sufi memimpin tarekatnya. Imam Hasan Al-Banna dalam segi gerakan sangat memperhatikan fungsi setiap komponen organisasi. Unit terkecil yakni usroh (keluarga) menurutnya memiliki tiga tiang. Yang pertama adalah saling kenal, yang akan menjamin persatuan. Kedua, anggota usroh harus saling memahami satu sama lain, dengan saling menasehati. Dan yang ketiga adalah memperlihatkan solidaritas dengan saling membantu. Bagi Imam Hasan Al-Banna usroh merupakan mikrokosmos masyarakat Muslim ideal, di mana sikap orang beriman terhadap satu sama lain seperti saudara, dan sama-sama berupaya meningkatkan segi religius, sosial, dan kultural kehidupan mereka.

Nama Imam “Hasan Al-Banna” selalu lekat dengan jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun yang sampai saat ini berdiri tegak di dunia, karena beliau adalah pendiri dan menjadi Mursyid ‘Am pertama jamaah tersebut. Sekalipun Imam Hasan Al-Banna, tidak mengenyam kehidupan lebih dari empat puluh dua tahun, namun pada masa hidupnya banyak memberikan kontribusi dan prestasi yang besar sehingga banyak terjadi lompatan sejarah terutama dalam melakukan perubahan kehidupan umat menuju Islam dan dakwah Islam yang lebih cerah, banyak perubahan-perubahan yang dicapai olehnya, apalagi saat beliau hidup kondisi umat dalam keadaan yang begitu parah dan mengenaskan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, kebodohan umat, dan ditambah dengan penjajahan barat.

Empat puluh dua tahun kalau diukur dari perjalanan sejarah merupakan waktu yang singkat, merupakan usia yang belum bisa memberikan apa-apa, walaupun umur sejarah tidak bisa diukur berdasarkan tahun dan hari, namun dapat juga diukur dari banyaknya peristiwa yang berdampak pada perubahan kondisi, situasi dan keadaan, dan inilah yang selalu melekat pada sosok Imam Hasan Al-Banna, beliau banyak memberikan pengaruh dalam perubahan sejarah, dan beliau juga merupakan salah satu dari orang yang memberikan kontribusi melakukan perbaikan dan perubahan dalam tubuh umat. Sekalipun umur beliau relatif pendek namun beliau termasuk orang yang mampu membuat sejarah gemilang.

Setiap orang pasti memiliki faktor yang dapat dinilai mampu memberikan kontribusi dan saham dalam pembentukan karakter dan jati dirinya dan menentukan berbagai hakikat yang dipilihnya. Dan bagi pemerhati lingkungan yang di dalamnya hidup sang imam Al-Banna akan dapat menemukan awal yang baik, dan karena itu berakhir dengan baik. Seperti dalam ungkapan: “Akhir yang baik mesti diawali dengan permulaan yang baik”.

Imam Hasan al-Banna kecil (muda) hidup dibawah naungan dan lingkungan yang bersih dan suci. Dan rumah yang di dalamnya hidup sang imam juga merupakan rumah yang islami. Orang tuanya bernama syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Bann. Beliau adalah seorang imam masjid di desanya, dan seorang tukang reparasi dan penjual jam. Namun disisi lain orang tua Imam Hasan Al-Banna adalah sosok pecinta ilmu dan buku, sehingga senang menuntut ilmu dan membaca buku, dan sebagian waktunya banyak dihabiskan untuk membaca dan menulis, dan beliau juga banyak menulis kitab, diantaranya adalah “Badai’ul Musnad fi Jam’I wa Tartiibi Musnad As-Syafi’I”“Al-Fathu Ar-Robbani fi Tartiibi Musnad Ahmad As-Syaibani”“Bulughul Amani min Asrori Al-fathu Ar-Robbani”

Bahwa komitmen dengan Islam dan manhaj robbani (manhaj ketuhanan) sangat membutuhkan pondasi utama pada lingkungan yang menggerakkannya, agar dapat tumbuh dan besar seperti pondasi tersebut, dan jika tidak ada lingkungan yang mendukung maka akan menjadi sirna dan mati sejak awal kehidupannya. Dan Allah telah memberikan karunia besar terhadap Imam “Al-Banna” dengan lingkungan yang baik ini. Orang tuanya memberikan tarbiyah (pendidikan) sejak awal dengan baik; meumbuhkan kecintaan  terhadap Islam kepada anaknya sejak dini, selalu memelihara bacaan dan hafalan Al-Qur’an, sehingga memberikan kepada pemuda tersebut waktu dan tenaga yang cerah dalam berfikir dan berdakwah, dan pada saat itu pula –yang mana pada saat itu- Islam telah tertutupi oleh kehidupan yang bebas dan politik yang rusak, tampak menjadi asing –bahkan aneh dan tidak wajar- melihat seorang pemuda yang begitu besar komitmennya terhadap ajaran Islam sampai pada masalah waktu, atau dalam menunaikan ibadah shalat dengan penuh kedisiplinan.

Sejak awal dapat kita lihat bahwa Imam Hasan Al-Banna telah menentukan jalannya dan karakter hidupnya; yaitu jalan hidup yang beliau lakoninya dalam kehidupannya secara pribadi yang unik; komitmen terhadap Islam dan manhaj robbani dan interaksinya dengan orang lain dengan baik dan sesuai dengan ajaran Islam. Baliau begitu terkesan dengan hadits Nabi dan begitu kuat berpegang teguh dengannya; yaitu hadits Nabi saw: “Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara.. diantaranya adalah “masa mudamu sebelum datang masa tuamu”, begitupun dengan hadits Nabi saw lainnya: “ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat tidak ada naungan kecuali naungannya.. diantaranya adalah “seorang pemuda yang taat beribadah kepada Allah”

Maka dari itu Imam Hasan Al-Banna kehidupannya adalah islam dan tidak ada yang lain dalam diri dan hidupnya kecuali Islam. Hal itu tampak juga dengan jelas pada beberapa lembaga atau yayasan yang sejak kecil beliau loyal kepadanya, yang kesemuanya merupakan lembaga atau yayasan Islam, seperti “Jam’iyyah As-Suluk wal Akhlak” dan“Jama’ah An-Nahyu Al-Munkar”, dan beliau juga memiliki hubungan yang erat dengan harakah sufiyah yang pada saat itu marak tersebar di berbagai pelosok daerah dan kota di Mesir.

Adapun diantara faktor lain yang membantunya komitmen di jalan kebenaran adalah karena beliau begitu banyak beribadah dan taat kepada Allah, sejak mudanya beliau sering melakukan puasa sunnah, khususnya puasa sunnah yang berhubungan dengan hari-hari besar Islam, dan lebih banyak lagi beliau melakukan puasa hari sunnah senin dan hari kamis pada setiap minggunya, karena mentauladani sunnah nabi, sebagaimana beliau juga sangat bersemangat melakukan puasa sunnah rajab dan sya’ban. Kebanyakan dari kita mungkin merasa asing dalam melakukan ketaatan seperti itu, atau merasa berat melakukannya terutama di saat kondisi zaman seperti ini. Sebagaiman usaha yang dilakukan Imam Hasan Al-Banna dalam ketaatan juga menadapatkan kesulitan, terutama disaat kondisi yang saat itu dialami; adanya gerakan missionaries, globalisasi dan penjajahan yang telah meluas dan merambah dengan cepat di tengah kehidupan masyarakat Mesir saat itu; sehingga memberikan kontribusi yang besar dalam menjauhkan umat dari Islam apalagi untuk komitmen dengan ibadah dan ketaatan.

Namun Imam Hasan Al-Banna, hidup melawan arus, beliau berada dalam semangat Islam yang tinggi, berpegang dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah, sekalipun umat saat itu sedang diliputi arus globalisasi dan pencampakkan jati diri Islam; sehingga mengakibatkan acuhnya umat terhadap Islam dan jauhnya umat terutama para pemudanya dari kehidupan beragama, apalagi juga banyaknya bermunculan seruan dan propaganda asing terhadap dunia Islam seperti liberalisme dan komunisme serta gerakan missionaris yang mengajak untuk jauh dari Islam dan berlaku hidup modernis seperti mereka.

Sekalipun demikian Imam Hasan Al-Banna tetap berpegang teguh dan yakin dengan keislamannya bahkan merasa bangga dengannya. Dan pada saat berdiri Universitas Cairo, dan Dar El-Ulum merupakan salah satu bagian dari kuliah yang ada di dalamnya; yang di dalamnya menghadirkan ilmu-ilmu kontemporer, ditambah juga dengan ilmu-ilmu syariah dan pengetahuan tradisional yang telah masyhur di Universitas Al-Azhar sebelumnya. Dan -pada saat itu pula- Imam Al-Banna mendaftarkan diri untuk kuliah di Dar El-Ulum, walaupun beliau tidak merasa cukup dengan ilmu yang di dapat di kuliah sehingga beliau mencarinya ditempat yang lain sebagai tambahan; seperti beliau selalu hadir mengikuti majlis ilmu pimpinan syaikh Rasyid Ridha, dan beliau sangat terkesan dengan tafsirnya yang terkenal yaitu “Al-Manar”.

Namun hal tersebut tidak menghalangi dirinya mendapatkan nilai yang begitu baik dan cemerlang, sehingga beliau berhasil menamatkan kuliahnya dengan hasil yang gemilang, dan beliau merupakan angkatan pertama kuliah tersebut. Lalu setelah itu, beliau diangkat sebagai guru pada madrasah ibtidaiyah disalah satu sekolah yang terletak di propinsi Ismailiyah, yaitu pada tahun 1927, dan di kota tersebut Imam Hasan Al-Banna muda tidak hanya terpaku pada jati dirinya sebagai guru madrasah ibtidaiyah, namun beliau juga menjadi da’i kepada Allah, yang pada saat itu masjid-masjid disana kosong dari pemuda. Sehigga tidak ada anak-anak muda yang sholat di masjid namun asyik dengan minuman alkohol yang memambukkan. Maka tampaklah beliau sebagai seorang pemuda yang ahli ibadah, taat kepada Allah dan sebagai da’i kepada Allah yang mengajak umat untuk kembali pada Islam yang hanif.

Di kota Ismailiyah pula Imam Hasan Al-Banna banyak melakukan interaksi dengan lembaga-lembaga Islam dan beliau tampil sebagai da’i dengan berbagai sarana yang dimiliki dan berkeliling ke berbagai tempat dan desa. Beliau pergi sebagai da’i dan membawa kabar gembira tentang agama Islam. Beliau menyeru dan mengajak manusia yang berada tempat-tempat perkumpulan mereka, dan diatara tempat perkumpulan yang sering belaiu datangi adalah café. Disana beliau memberikan kajian keagamaan, terutama pada sore hari ini, sehingga dengan kajian yang beliau sampaikan banyak menarik perhatian sebagian besar masyarakat pengunjung cafe; sehingga menjadikan pemilik café tersebut berlomba-lomba mengundang Imam Hasan Al-Banna untuk memberikan kajian sore di café-cefe milik mereka. Dan akhirnya di kota Ismailiyah –dengan taufik dari Allah- dan dengan keberkahan akan juhud dan keikhlasannya, Imam Hasan Al-Banna mampu mengeluarkan cahaya dakwah terbesar dan memberikan pengaruh yang sangat besar hingga saat ini. Yaitu berdirinya Gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipimpin langsung oleh Imam Hasan Al-Banna. Padahal saat itu umur beliau masih muda sekali, baru mencapai antara tidak terlalu muda, tidak baya dan juga tidak terlalu tua. Pemuda yang ahli ibadah itulah yang telah mampu mendirikan gerakan dakwah Islam terbesar di dunia saat ini.

Sosok Imam Hasan Al-Banna memiliki banyak keistimewaan, sosok yang universal dan seimbang, pemuda aktivis, seorang khatib yang antagonis, memiliki perasaan yang lembut, dan komunikatif dengan semua orang; baik dengan orang awam, petani dan buruh. Beliau juga seorang cendekiawan yang memiliki ilmu, yang mampu berinteraksi dengan para cendekiawan lainnya. Saat berada ditengah umat manusia, banyak yang takjub kepadanya baik dari kalangan cendekiawan, hartawan, awam, petani dan buruh serta yang lainnya. Ini semua sejalan dengan dakwahnya yang didasarkan pada pembentukan umat, dakwah dan individu yang seimbang dalam berbagai sisinya.

Dan Imam Hasan Al-Banna juga sangat memiliki karakter yang mampu memberikan pengaruh pada orang yang ada disekitarnya, hal ini kembali pada pondasi yang beliau miliki yaitu kedekatan diri kepada Allah. Dan kita temukan bahwa dakwah Al-Ikhwan telah terpengaruh dengan sosok Imam Hasan Al-Banna; karakternya yang baik, ikhlas dan taat kepada Allah, yang kesemuanya bersumber pada cahaya kenabian. Sebagaimana beliau juga memiliki sosok yang mumpuni dan lemah lembut, selalu perhatian dan menolong orang-orang yang mazhlum, dan dalam sejarahnya telah banyak disaksikan bahwa usaha dan kerja al-ikhwan di berbagai tempat, daerah dan negara selalu membela hak-hak umat Islam yang terampas.

Jum’at tanggal 11 Desember 1949 M diadakan rekayasa pertemuan dengan seorang menteri, namun hingga pukul 20.00 masalah yang diagendakan belum ada kejelasan yang diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah ikhwan, lalu pulanglah beliau dengan mertuanya Ustadz Mansur SH dengan komitmen akan datang kembali esok harinya, namun tiba-tiba beliau dapati suasana yang sungguh lain, di jalan protokol “Quin Ramses” yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk lalu lintas lalu lalang manusia saat itu tak sebuah mobil dan seorangpun yang lewat kecuali sebuah taxi yang menongkrong di depan gerbang pintu Dar Asy Syubban, toko-toko dan rumah-rumah makan yang berdekatan juga sudah tutup, kecurigaan semakin tinggi ketika baru akan melangkahkan kaki menuju jalan raya tiba-tiba seluruh lampu penerang jalan mati, saat itulah peluru api meluncur sebagian mengenai Imam Hasan Al-Banna dan peluru yang lain mengenai Ustadz Mansur, namun beliau masih kuat untuk naik sendiri menuju gedung Dar Asy Syubban memutar telepon untuk meminta pertolongan kepada ambulance, sungguhpun demikian Imam Hasan Al-Banna terdampar dalam rumah sakit “Qosr Aini” tak seorangpun dari perawat atau dokter yang berani menolongnya sekalipun banyak dokter muslim yang ingin merawatnya, namun kepala RS tidak mengizinkan atas perintah kerajaan.  Dering telepon tak henti-hentinya untuk meyakinkan keadaan dan kematian Imam Hasan Al-Banna hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya dengan kepahlawanannya.

Tepat hari Sabtu malam Minggu tanggal 12 Desember 1949 beliau pulang ke Rahmatullah.  Terselimutilah di hari itu langit dunia dengan kesedihan yang mendalam karena kematiannya berarti hilangnya seorang pembela kebenaran penegak keadilan di tengah-tengah kelaliman dan ummat Islam tertidur nyenyak.  Yang lebih menyedihkan rezimpun tidak mengizinkan ummat Islam untuk merawat jenazahnya dan berta’ziyah ke rumah shohibul musibah.   Tidak seorangpun diizinkan membawa jenazahnya menuju makam Imam Hasan Al-Banna kecuali orang tua beliau beserta seorang dan kedua saudari perempuannya.

LESSON LEARN

Kepemimpinan yang stratejik adalah kemampuan untuk mengantisipasi, memberikan inspirasi, mempertahankan fleksibilitas dan memberdayakan orang lain untuk menciptakan perubahan strateji yang diinginkan (Hitt, et el dalam Mudrajat Kuncoro, 2005: 228). Hal tersebut bisa dilakukan dengan perkataan, perbuatan nyata, maupun kemampuannya dalam mewujudkan visi yang hendak dituju di masa depan. Imam Hasan Al-Banna seorang pemimpin yang dapat mempengaruhi prilaku, pikiran dan perasaan para pengikutnya baik di dalam maupun di luar Ikhwanul Muslimin hingga saat ini.

Model kepemimpinan Imam Hasan Al-Banna merupakan komposisi yang sangat ideal dari kepemimpinan  transformasional. Dari defenisi kepemimpinan trasformasional beliau adalah pemimpin yang memotivasi bawahan untuk bekerja demi tercapai sasaran organisasi yakni bagaimana membumikan Islam yang bukan saja di Mesir tapi di dunia ini. Beliau mencontohkan prilaku yang mampu menyemangati anggotanya, beliau juga mendahulukan kepentingan kelompok.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah hidup Imam Hasan Al-Banna dalam perjuangan. Tercatat ada empat point besar karakteristik yang harus dicatat dan digarisbawahi dari Imam Hasan Al-Banna. Pertama, karakter penegak kebenaran, yakni kita senantiasa berjalan diatas rel kebenaran. Imam Hasan Al-Banna berjuang dan berjalan dalam kebenaran hakiki yakni kebenaran akan Agama Islam. Kedua, karakter visioner, yakni kita memandang ke depan, kita mempunyai insting untuk maju ke depan dan mau melihat ke masa yang akan datang. Kita tidak sekedar melihat kebelakang saja. Imam Hasan Al-Banna melihat ke masa depan, seperti apa nanti organisasi dan Agama Islam tersebut di dunia ini, tentu saja dengan tantangan yang akan dihadapi oleh Islam itu sendiri.

Karakter ketiga adalah karakter mampu menginspirasi kepada pengikutnya sehingga mampu membangkitkan semangat pengikutnya. Imam Hasan Al-Banna mampu menginspirasi yang para pengikutnya, sehingga para pengikutnya bersemangat meneruskan perjuangan beliau. Karakter keempat adalah competent dalam menjalankan organisasi maupun kemampuan pribadi. Sehingga dapat menjalankan semua tugasnya dengan baik dan dapat menjadi teladan dari pengikutnya. Imam Hasan Al-Banna sangat competent sehingga sosok beliau menjadi sosok panutan dan sangat diwaspadai oleh lawannya.

Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari kisah hidup Imam Hasan Al-Banna yakni bahwa ternyata usia bukan patokan dalam keberhasilan menjadi pemimpin besar. Mungkin kita menilai bahwa usia yang agak tua lebih pantas memimpin dari pada usia muda. Ternyata bukan usia faktor kehebatan dalam memimpin, namun sejauhmana seseorang mempunyai karakteristik pemimpin.

Integritas dan visi misi pemimpin harus jelas sehingga para pengikutnya tidak meragukan dan dapat melihat masa depan dengan baik. Dengan terlihatnya masa depan di masa kini akan menimbulkan dan membakar semangat pengikutnya untuk berkerja lebih keras. Tentu saja integritas dan visi misi tersebut harus dibungkus pula dengan kebersihan hati sang pemimpin. Sang pemimpin harus menghilangkan atau meng’nol’kan dari hatinya sifat-sifat tercela.

Oleh karena itulah bagi kita dapat mengambil ibrah dari perjalanan Imam Hasan Al-Banna sebagai sosok pemuda yang berhimpun di dalamnya jiwa yang memiliki nilai-nilai mulia dan agung, bagaimana jiwa tersebut dapat mampu membangun generasi yang islami yang membangun peradaban baru yang tidak menyimpang dari jalan Allah dan menepati dan menunaikan amanah yang diembannya dengan optimal dan baik, sekalipun kondisi, ujian dan cobaan yang dihadapi selalu datang silih berganti.

KNOWLEDGE MANAGEMENT

08:20 in Berita by armiastho

Dalam organisasi bisnis, kinerja dalam pencapaian tujuan amatlah penting dan dapat berpengaruh kepada kelangsungan organisasi atau perusahaan tersebut. Tujuan perusahaan dalam bisnis, pada umumnya, antara lain adalah keuntungan yang didapat perusahaan, efisiensi, penguasaan terhadap pasar, dan lain sebagainya. Jika perusahaan mampu mencapai tujuan-tujuannya dengan ukuran tertentu maka kinerjanya dianggap relatif baik. Kinerja yang baik juga diperlukan dalam rangka menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat. Perusahaan harus memiliki keunggulan tertentu dalam persaingan di pasar agar tidak kalah bersaing dan dapat terus menjalankan bisnisnya.

Kinerja perusahaan bergantung, salah satunya, pada informasi dan pengetahuan yang dimilikinya, jika informasi dan pengetahuan yang dimiliki semakin banyak dan akurat maka semakin besar potensi untuk mencapai kinerja yang diharapkan. Informasi dan pengetahuan yang dimaksud tentunya yang berkaitan dengan bisnis perusahaan tersebut. Dalam era teknologi informasi sekarang ini informasi dan pengetahuan adalah aset yang berharga dalam bisnis, sehingga perusahaan pun berusaha melindungi sebisa mungkin informasi dan pengetahuan yang dimilikinya. Sebagai contoh perusahaan minuman ringan Coca-cola memiliki resep dan cara produksi tertentu yang menyebabkan rasa dari produknya memiliki keistimewaan dan dianggap sebagai keunggulan produk. Maka dengan alasan tersebut Coca-cola melindungi resep, komposisi dari produknya sehingga tidak dapat ditiru oleh kompetitornya. Informasi dan pengetahuan dipandang sebagai sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan dan harus dikelola dengan baik agar bisa dimanfaatkan secara positif dalam menghadapi persaingan dunia usaha…… (artikel selengkapnya klik link di bawah ini)

TUGAS TOMP KNOWLEDGE MANAGEMENT

by suhendi

PENERAPAN OUTSOURCING PADA SISTEM INFORMASI

11:48 in Berita by suhendi

PENDAHULUAN

Pada era persaingan global dan kompetisi yang semakin ketat, setiap perusahaan harus mampu melakukan inovasi untuk bertahan, salah satunya adalah dengan menerapkan teknologi tepat guna. Sistem informasi merupakan salah satu alat (tool) yang sering digunakan oleh perusahaan untuk mewujudkan tujuan perusahan demi mencapai efektifitas dan efesiensi perusahaan. Organisasi (perusahaan) dan sistem informasi memerlukan kontribusi, komitmen dan kepedulian untuk mendapatkan potensi yang sesungguhnya. Efektifitas dan efisiensi  dalam mentransfer teknologi memerlukan perubahan yang terus menerus dan berkelanjutan. Teknologi dan sistem informasi yang merupakan kolaborasi antara teknologi informasi dan komunikasi yang memainkan peran utama pengembangan sistem informasi

Disadari dalam mengembangkan sistem informasi tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Perusahaan pun senantiasa melakukan efisiensi biaya dalam berbagai komponen pengeluaran keuangan perusahaan untuk dapat memenangkan persaingan. Salah satu cara yang dilakukan perusahaan dalam mengembangkan sistem informasi dan sekaligus dalam rangka melakukan efisiensi biaya yaitu dengan sistem outsourcing Selain efisiensi biaya adanya sistem outsourcing ini juga didasari karena adanya keterbatasan yang dimiliki perusahaan baik dalam bidang pengetahuan Sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki, keterbatasan informasi, keterbatasan peralatan dan keterbatasan-keterbatasan lainnya. Namun demikian Outsourcing harus dipandang secara jangka panjang, karena perusahaan pasti akan mengeluarkan dana dan sumber daya yang lebih sebagai management fee perusahaan outsourcing, memikirkan mengenai pengembangan karir karyawan, efisiensi dalam bidang tenaga kerja, organisasi, benefit dan lainnya. Oleh karena itu pemilihan sistem outsourcing harus dianalisis dan dilakukan dengan baik sehingga sehingga memberikan manfaat yang besar serta mampu meningkatkan dan berkontribusi besar terhadap kinerja perusahaan secara tepat dan efisien.

Pada artikel ini akan mencoba membahas tentang alasan-alasan mengapa perusahaan melakukan outsourcing, bagaimana keuntungan dan kelemahan pengembangan sistem informasi secara outsourcing dibandingkan insourcing serta hal-hal apa yang harus diperhatikan dalam penerapan outsourcing.

DEFINISI OUTSOURCING DAN INSOURCING

Outsourcing merupakan penyerahan tugas atau pekerjaan yang berhubungan dengan operasional perusahaan ataupun pengerjaan proyek kepada pihak ketiga atau perusahaan ketiga dengan menetapkan jangka waktu tertentu dan biaya tertentu dalam proses pengembangan proyeknya. Outsourcing TI atau pengadaan sarana dan jasa TI oleh pihak ketiga merupakan kebijakan strategis perusahaan yang berpengaruh terhadap proses bisnis dan bentuk dukungan TI yang akan diperoleh.

Melalui outsourcing, perusahaan dapat membeli sistem informasi yang sudah tersedia, atau sudah dikembangkan oleh perusahaan outsourc. Perusahaan juga dapat meminta perusahaan outsource untuk memodifikasi sistem yang sudah ada.  Perusahaan juga dapat membeli software dan meminta perusahaan outsource untuk memodifikasi software tersebut sesuai keinginan perusahaan. Dan juga lewat outsourcing perusahaan dapat meminta untuk mengembangkan sistem informasi yang benar-benar baru atau pengembangan dari dasar.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengembangan sistem informasi yaitu pendekatan insourcing. Jika outsourcing melimpahkan pengerjaan proyek pada pihak ketiga, insourcing mengembangan proyek dengan memanfaatkan spesialis IT dalam perusahaan tersebut. Insourcing merupakan metode pengembangan sistem informasi yang hanya melibatkan sumber daya di dalam suatu organisasi atau suatu perusahaan.

ALASAN PERUSAHAAN MELAKUKAN OUTSOURCING

Melakukan outsourcing, baik seluruh operasional ataupun bagian-bagian tertentu mempunyai prospek untuk menurunkan biaya dengan implementasi operasional yang lebih baik, karena dilakukan oleh pihak ketiga yang fokus bisnisnya memberikan pelayanan TI. Menurut Volker Mahnke, Mikkel Lucas Overby & Jan Vang (2003) dalam makalahnya di DRUID Summer Conference 2003 menyatakan bahwa tiga pokok utama outsourcing TI untuk memperbaiki Sistem Informasi yaitu meningkatkan kinerja bisnis, menghasilkan pendapatan baru dan yang dapat membantu perusahaan untuk menilai outsourcing. Menurut Taylor (2005) menyatakan bahwa outsourcing pada proyek multinasional IT menjadi lebih umum dalam mengelola resiko proyek untuk menghindari gagalnya proyek dengan mencatat resiko yang spesifik dan membedakan dari pesaing maupun vendor outsourcing yang tidak kompenten. Benefit yang didapat dari outsourcing dapat berupa tangible (seperti keseimbangan biaya outsourcing yang dikeluarkan) dan intangible (tingkat pelayanan yang diberikan secara professional). Tak heran bila kebutuhan terhadap jasa outsource ini semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Alasan terkuat yang mendorong organisasi untuk menggunakan outsourcing yaitu tingkat persaingan bisnis yang semakin meningkat. Tingkat persaingan bisnis meningkat dengan meningkatnya kebutuhan teknologi informasi yang dapat meningkatkan nilai bisnis, ini dapat dicerminkan dalam karakteristik strategik secara umum memiliki beberapa faktor yaitu : cost leadership, differentiation, dan focus.

Menurut O’Brien dan Marakas (2006), beberapa pertimbangan perusahaan untuk memilih strategi outsourcing sebagai alternatif dalam mengembangkan Sistem Informasi Sumberdaya Informasi diantaranya:

  1. Biaya pengembangan sistem sangat tinggi.
  2. Resiko tidak kembalinya investasi yang dilkukan sangat tinggi.
  3. Ketidakpastian untuk mendapatkan sistem yang tepat sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.
  4. Faktor waktu/kecepatan.
  5. Proses pembelajaran pelaksana sistem informasi membutuhkan jangka waktu yang cukup lama.
  6. Tidak adanya jaminan loyalitas pekerja setelah bekerja cukup lama dan terampil

KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN OUT-SOURCING

Keuntungan dan Kelemahan outsourcing

Ada beberapa keunggulan atau keuntungan menggunakan outsourcing, dan juga kelemahan menggunakan outsourcing. Keunggulan atau keuntungan menggunakan outsourcing antara lain (Jogiyanto, 2003).

  1. Biaya teknologi yang semakin meningkat dan akan lebih murah jika perusahaan tidak berinvestasi lagi tetapi menyerahkannya kepada pihak ketiga dalam bentuk outsourcing yang lebih murah dikarenakan outsourcer menerima jasa dari perusahaan lainnya sehingga biaya tetap outsourcer dapat dibagi beberapa perusahaan.
  2. Mengurangi waktu proses, karena beberapa outsourcer dapat dipilih untuk bekerja bersama-sama menyediakan jasa ini kepada perusahaan.
  3. Jasa yang diberikan oleh outsourcer lebih berkualitas dibandingkan dikerjakan sendiri secara internal, karena outsourcer memang spesialisasi dan ahli dibidang tersebut.
  4. Perusahaan tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem teknologi ini dan pihak  outsourcer mempunyainya.
  5. Perusahaan merasa tidak perlu dan tidak ingin melakukan transfer teknologi dan transfer pengetahuan yang dimiliki outsourcer.
  6. Meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan atau tidak melakukan investasi.
  7. Mengurangi resiko kegagalan investasi yang mahal.
  8. Penggunaan sumber daya sistem informasi belum optimal. Jika ini terjadi, perusahaan hanya menggunakan sumber daya sistem yang optimal pada saat-saat tertentu saja, sehingga sumber daya sistem informasi menjadi tidak dimanfaatkan pada waktu yang lainnya.
  9. Perusahaan dapat menfokuskan pada pekerjaan lain yang lebih penting.

Disamping kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh outsourcing, beberapa kelemahan juga perlu diperhatikan diantaranya:

  1. Jika aplikasi yang di outsource adalah aplikasi yang strategic maka dapat ditiru oleh pesaingnya yang juga dapat menjadi klien dari outsourcer yang sama.
  2. Perusahaan akan kehilangan kendali terhadap aplikasi yang di  outsource-kan. Jika aplikasinya adalah aplikasi kritikal yang harus ditangani jika terjadi gangguan, perusahaan akan menanggung resiko keterlambatan penanganan jika aplikasi ini di outsource-kan  karena kendali ada di outsourcer yang harus dihubungi terlebih dahulu.
  3. Jika kekuatan menawar ada outsourcer, perusahaan akan kehilangan banyak kendali di dalam memutuskan sesuatu apalagi jika terjadi konflik diantaranya
  4. Perusahaan akan kehilangan keahlian dari belajar membangun dan mengopersikan aplikasi tersebut.
  5. Pelanggaran kontrak, yang banyak terjadi ketika vendor menjanjikan banyak hal yang kelihatan wah sebelum kontrak ditanda tangani, namun tidak dapat direalisasikan ketika kontrak sudah berjalan.
  6. Kontrak jangka panjang, dimana vendor menawarkan kontrak dalam jangka waktu yang relative panjang, dengan biaya yang mahal dan penalti pemutusan kontrak yang menyebabkan perusahaan tidak memiliki pilihan selain menjalankan kontrak sampai selesai.

Keuntungan dan Kelemahan insourcing

Keunggulan dalam menerapkan metode insourcing diantaranya :

  1. Umumnya sistem informasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan karena karyawan yang ditugaskan mengerti kebutuhan sistem dalam perusahaan.
  2. Biaya pengembangannya relatif lebih rendah karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  3. Sistem informasi yang dibutuhkan dapat segera direalisasikan dan dapat segera melakukan perbaikan untuk menyempurnakan sistem tersebut.
  4. Sistem informasi yang dibangun sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan dan dokumentasi yang disertakan lebih lengkap.
  5. Mudah untuk melakukan modifikasi dan pemeliharaan (maintenance) terhadap sistem informasi karena proses pengembangannya dilakukan oleh karyawan perusahaan tersebut.
  6. Adanya insentif tambahan bagi karyawan yang diberi tanggung jawab untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan tersebut.
  7. Lebih mudah melakukan pengawasan (security access) dan keamanan data lebih terjamin karena hanya melibatkan pihak perusahaan.
  8. Sistem informasi yang dikembangkan dapat diintegrasikan lebih mudah dan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada.

Sedangkan kelemahan dalam menerapkan metode insourcing diantaranya :

  1. Pengembangan sistem informasi membutuhkan waktu yang lama karena konsentrasi karyawan harus terbagi dengan pekerjaan rutin sehari-hari sehingga pelaksanaannya menjadi kurang efektif dan efisien.
  2. Perubahan dalam teknologi informasi terjadi secara cepat dan belum tentu perusahaan mampu melakukan adaptasi dengan cepat sehingga ada peluang teknologi yang digunakan kurang canggih (tidak up to date).
  3. Membutuhkan waktu untuk pelatihan bagi operator dan programmer sehingga ada konsekuensi biaya yang harus dikeluarkan.
  4. Adanya demotivasi dari karyawan ditugaskan untuk mengembangkan sistem informasi karena bukan merupakan core competency pekerjaan mereka.
  5. Kurangnya tenaga ahli (expert) di bidang sistem informasi dapat menyebabkan kesalahan persepsi dalam pengembangan distem dan kesalahan/resiko yang terjadi menjadi tanggung jawab perusahaan (ditanggung sendiri).

KEPUTUSAN OUTSOURCING ATAU INSOURCING

Keputusan untuk mengembangkan sendiri sistem informasinya (insourcing) dan keputusan untuk menyerahkan kepada pihak ketiga pengembangan sistem informasi (outsourcing) pada suatu perusahaan dapat berdasarkan beberapa hal diantaranya berdasrakan budget yang dianggarkan. Berdasarkan besaran budget yang dianggarkan keputusan untuk insourcing atau outsourcing dapat ditentukan sebagai berikut (Jogiyanto, 2003):

  1. De facto insourcing

Keputusan ini merupakan keputusan 100 persen budget untuk insourcing yaitu semua pengembangan sistem dan operasinya dilakukan oleh internal organisasi, yaitu biasanya dilakukan oleh departemen sistem informasi atau departemen TI.

  1. Total insourcing

Keputusan ini merupakan keputusan sebagian besar (sekitar 80 persen budget) dari pengembangan dan kegiatan operasi TI dilakukan secara internal oleh departemen TI.

  1. Selective outsourcing

Keputusan ini merupakan keputusan sebagian besar (sampai dengan 80 persen budget) pengembangan dan operasi TI yang diseleksi dikembangkan dan diopersikan oleh penyedia jasa outsourcing

  1. Total out-sourcing

Keputusan ini adalah menyerahkan sebagian besar (lebih dari 80 persen budge) pengembangan dan operasi kegiatan TI kepada penyedia jasa luar

Bila perusahaan melakukan keputusan untuk melaksanakan outsourcing, IT Governance Institute (2005) memberikan aturan baku untuk outsourcing yang memiliki tahapan outsourcing life cycle sebagai berikut :

  1. Kesesuaian penanda tanganan kontrak dan penanda tanganan proses yang diselesaikan.
  2. Persetujuan Service Level Agreement (SLA)
  3. Proses Opersional yang dikembangkan
  4. Transisi tahapan layanan dan waktu pembayaran
  5. Tim operasional, artikulasi yang jelas hubungan dan interface
  6. Transisi dan Transformasi rencana penyelesaian
  7. Undang-undang sukses, bonus dan penalti
  8. Konsensus dalam menentukan tanggung jawab
  9. Penilaian kelanjutan kinerja dan gaya supplier outsource

KESIMPULAN

Dari pembahasan sebelumnya ditunjukkan bagaimana keunggulan dan kelemahan outsourcing dan insourcing. Dalam membuat keputusan apakah perusahaan akan menggunakan outsourcing dan insourcing tentunya tergantung dari kondisi perusahaan dilihat dari keuntungan dan kerugian yang diterima bila perusahaan memilih salah satu dari dua pendekatan tersebut. Kedua pendekatan memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Sebenarnya tidak bisa dikatakan mana yang lebih baik dan mana yang buruk, tapi kebijakan memilih pendekatan itu tergantung pada situasi perusahaan. Ada pula perusahaan yang tidak hanya menggunakan satu pendekatan, namun dua pendekatan sekaligus digunakan.

Namuan demikian, Outsourcing menjadi salah satu solusi yang paling sering digunakan untuk mengembangkan suatu sistem informasi pada suatu perusahaan karena dengan outsourcing suatu perusahaan akan lebih fokus pada bisnis inti. Penggunaan outsourcing sebagai suatu solusi untuk implementasi sistem informasi.

DAFTAR PUSTAKA

IT Governance Domain Practices and Competencies, 2005. Governance of Outsourcing, The IT Governance Institute

Jogiyanto, 2003. Sistem Teknologi Informasi (Pendekatan Terintegrasi: Konsep Dasar, Teknologi, Aplikasi, Pengembangan dan Pengelolaan). Penerbit Andi Yogyakarta, Yogyakarta.

O’Brien, J.A. & Marakas, G.M. (2006). Introduction to Information Systems, 7th Ed., McGraw-Hill/Irwin. New York.

Volker Mahnke, Mikkel Lucas Overby & Jan Vang, Strategic IT-Outsourcing: What do we know and need to know, Makalah presentasi dalam the DRUID Summer Conference 2003 on CREATING, SHARING AND TRANSFERRING KNOWLEDGE.The role of Geography, Institutions and Organizations; Copenhagen June 12-14, 2003 (http://www.druid.dk/uploads/tx_picturedb/ds2003-892.pdf)

Taylor, Hazel; The move to outsourced IT projects: key risks from the provider perspective; Proceding : Special Interest Group on Computer Personnel Research Annual Conference, 2005 (http://portal.acm.org/citation.cfm?id=1056006).

http://pakpid.wordpress.com/2010/01/05/self-sourcing-in-sourcing-and-out-sourcing/

BLOG TERKAIT

http://triatmono.wordpress.com/2007/11/28/best-practice-it-outsourcing/

http://blog.i-tech.ac.id/deasy/2009/08/11/kasus-it-outsourcing-pengolahan-data/#comment-81

http://swa.co.id/2006/08/metrodata-tetap-fokus-pada-it-outsourcing-dan-distributor/comment-page-1/#comment-1532

http://www.setiabudi.name/archives/1141/comment-page-1#comment-1767

http://adabisnis.com/outsourcing-kan-pekerjaan-anda/

http://www.maestroglobal.info/manajemen-proyek-ti-pilihan-atau-keharusan/

http://pimpimarda.blog.com/2010/01/10/it-outsourcing/comment-page-1/#comment-51

http://yuvenalia.blog.binusian.org/2010/01/03/sourcing/#comment-146

http://blogs.konsep.net/micowendy/2008/portal-outsourcing-it-consultant-pm-indonesia/comment-page-1/#comment-981

http://bakoelkomputer.info/virtualstore/blog/?p=123&cpage=1#comment-4041

http://itkelinik.com/?p=113&cpage=1#comment-68

http://www.tech-id.co.cc/2010/05/pendekatan-pengembangan-sistem.html

http://duabelasblogs.blogspot.com/2010/06/e-commerce-perkembangan-teknologi.html

http://sabukhitam.com/blog/topic/internet-marketing/strategi-implementasi-sistem-informasi-pada-usaha-kecil-dan-menengah.html/comment-page-1#comment-129

http://rahard.wordpress.com/2007/12/06/mengusung-it-outsourcing/#comment-66251

http://www.biskom.web.id/2008/07/22/outsourcing-solusi-sistem-informasi-masa-depan.bwi/comment-page-1#comment-1562

http://www.ekurniawan.net/artikel-it/pentingnya-outsourcing-bidang-teknologi-informasi-8.html

http://blogs.konsep.net/micowendy/2008/portal-outsourcing-it-consultant-pm-indonesia/comment-page-1/#comment-958

http://lianna.blog.binusian.org/2010/01/09/74/

http://rivafauziah.wordpress.com/2008/01/26/it-outsourcing/#comment-5025

by suhendi

URGENSI UNSUR MAINTAINAIBILITY DALAM SUATU PENGEMBANGAN SOFTWARE

11:47 in Berita by suhendi

Software quality adalah pemenuhan terhadap kebutuhan fungsional dan kinerja yang didokumentasikan secara eksplisit, pengembangan standar yang didokumentasikan secara eksplisit, dan sifat-sifat implisit yang diharapkan dari sebuah software yang dibangun secara profesional (Dunn, 1990). Menurut McCall, 1997 kriteria yang mempengaruhi kualitas software terbagi menjadi tiga aspek penting yaitu :

1. Sifat-sifat operasional dari software (Product Operations);

2. Kemampuan software dalam menjalani perubahan (Product Revision)

3. Daya adaptasi atau penyesuaian software terhadap lingkungan baru (Product Transition).

Unsur maintainability dalam pengembangan software termasuk dalam Product Operations yaitu kemampuan software dalam menjalani perubahan. Setelah sebuah software berhasil dikembangkan dan diimplementasikan, akan terdapat berbagai hal yang perlu diperbaiki berdasarkan hasil uji coba maupun evaluasi. Sebuah software yang dirancang dan dikembangkan dengan baik, akan dengan mudah dapat direvisi jika diperlukan. Seberapa jauh software tersebut dapat diperbaiki merupakan faktor lain yang harus diperhatikan. Salah satu faktor yang berkaitan dengan kemampuan software untuk menjalani perubahan adalah Maintainability. Maintainability adalah usaha yang diperlukan untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan (error) dalam software. Maintanability juga disebut sebagai pemeliharaan system. Dimana setelah sebuah software berhasil dikembangkan dan diimplementasikan, akan terdapat berbagai hal yang perlu diperbaiki berdasarkan hasil uji coba maupun evaluasi. Sebuah software yang dirancang dan dikembangkan dengan baik, akan dengan mudah dapat direvisi jika diperlukan. Seberapa jauh software tersebut dapat diperbaiki merupakan faktor lain yang harus diperhatikan.

Pemeliharaan system (system maintenance) dilaksanakan untuk tiga alasan:

1. Memperbaiki kesalahan

Penggunaan system mengungkapkan kesalahan (bugs) dalam program atau kelemahan rancangan yang tidak terdeteksi dalam pengujian system. Kesalahan-kesalahan ini dapat diperbaiki.

2. Menjaga kemutakhiran system

Perubahan-perubahan sebagai akibat berlalunya waktu mengharuskan modifikasi dalam rancangan atau perangkat lunak.

3. Meningkatkan system

Saat manajer menggunakan system, mereka melihat cara-cara membuat peningkatan. Saran-saran ini diteruskan kepada spesialis informasi yang memodifikasi system sesuai saran tersebut.

by nico

Paper Outsourcing

19:50 in Berita by nico

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Persaingan dalam dunia bisnis serta pasar global yang kompetitif diikuti dengan tingginya kebutuhan Teknologi Informasi serta iklim ekonomi yang saat ini tidak menentu menuntut perusahaan-perusahaan harus melakukan effisiensi dan meningkatkan produktivitas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mempekerjakan tenaga kerja seminimal mungkin untuk dapat memberi kontribusi maksimal sesuai sasaran perusahaan. Untuk itu perusahaan berupaya fokus menangani pekerjaan yang menjadi bisnis inti (core business).

Efisiensi biaya dalam berbagai komponen pengeluaran keuangan perusahaan merupakan salah satu cara untuk dapat memenangkan persaingan. Kecenderungan yang terjadi adalah bahwa pengeluaran untuk pembiayaaan SDM perusahaan memakan porsi yang cukup besar dalam anggaran keuangan perusahaan. Solusi yang ditawarkan salah satunya dengan menggunakan outsourcing dan implementasi outsourcing dapat diterapkan mulai dari hal-hal yang sederhana seperti pengelolaan cleaning service sampai pada level yang rumit yaitu pengelolaan perusahaan. Outsourcing harus dipandang secara jangka panjang, karena perusahaan pasti akan mengeluarkan dana lebih sebagai management fee perusahaan outsourcing, memikirkan mengenai pengembangan karir karyawan, efisiensi dalam bidang tenaga kerja, organisasi, benefit dan lainnya. Masalahnya adalah bahwa kadang-kadang kemampuan in-house perusahaan tidak bisa mengakomodir pencapaian tersebut, sehingga perlu untuk melakukan outsourcing pada beberapa proses atau layanan IT.

Jika kita melihat perkembangan outsourcing di Indonesia, saat ini masuk dalam posisi kelima setelah China, India, Malaysia, dan Thailand. Dari posisi itu, bisa dilihat bahwa sebenarnya dari segi SDM, kita masih cukup diperhitungkan, karena menduduki level 12 dunia. Sedangkan dari environment (iklim keusahaan), Indonesia menempati urutan yang sangat rendah, karena tingginya tingkat korupsi (nomer 3 dunia) dan tingginya juga tingkat pembajakan di Indonesia (Menurut Djarot Subiantoro, Pimpinan ASPILUKI, tingkat pembajakan di Indonesia masih berkisar antara 60 sampai 80%).

Melihat perkembangan outsourcing di Indonesia seperti ini, akan muncul banyak sekali plus minusnya. Nilai plusnya adalah bahwa Indonesia punya peluang besar untuk menjadi Negara penyedia IT (seperti yang dilakukan India dan China sekarang), sehingga ketertarikan untuk mempelajari IT dan bekerja di dunia IT akan semakin besar. Sedangkan nilai minusnya adalah kalau suatu saat nanti Negara-negara di dunia mengalihkan proyek perangkat lunaknya ke Indonesia, maka dikhawatirkan ketertarikan para provider software Indonesia akan beralih dari penyediaan IT untuk kepentingan dalam negeri ke penyediaan IT untuk kepentingan outsourcer luar negeri (karena pasti nilai proyek dari luar negeri jauh lebih menggiurkan daripada nilai proyek dalam negeri). Efek buruk dari hal ini adalah ekspor produk IT yang tinggi, tapi IT dalam negeri terbengkalai.

Dari penjelasan diatas, memang IT saat ini dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan dalam mengatasi permasalahan yang ada. Tetapi memang masih memerlukan SDM yang tepat sehingga IT tersebut dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan. Apakah Outsourcing adalah jawaban dari perusahaan? Paper ini akan memaparkan keuntungan dan kelemahan dari pengembangan SIstem Informasi dengan menggunakan Outsourcing.

1.2 Tujuan Penulisan

Pengembangan Sistem Informasi di Indonesia semakin dibutuhkan baik untuk kepentingan perusahaan maupun untuk kepentingan Negara. Tujuan paper ini akan memaparkan keuntungan dan kelemahan dari pengembangan Sistem Informasi dengan menggunakan Outsourcing. Dengan outsourcing ini diharapkan kebutuhan SDM dalam mengembangkan sistem informasi sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

1.3 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan paper ini adalah:

  • Bagi Perusahaan

Penulisan paper ini akan bermanfaat untuk mengetahui keuntungan dan kelemahan outsourcing dalam pengembangan sistem informasi sehingga perusahaan tidak salah dalam memilih vendor.

  • Bagi Penulis

Memberikan manfaat dari segi informasi dan dapat menambah ilmu sehingga dapat diaplikasikan kepada perusahaan.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Outsourcing

Outsourcing berasal dari bahasa Inggris yang berarti “alih daya”. Outsourcing mempunyai nama lain yaitu “contracting out” merupakan sebuah pemindahan operasi dari satu perusahaan ke tempat lain. Hal ini biasanya dilakukan untuk memperkecil biaya produksi atau untuk memusatkan perhatian kepada hal lain. Di negara-negara maju seperti Amerika & Eropa, pemanfaatan Outsourcing sudah sedemikian mengglobal sehingga menjadi sarana perusahaan untuk lebih berkonsentrasi pada core businessnya sehingga lebih fokus pada keunggulan produk servisnya.

Secara umum outsourcing diartikan sebagai pemindahan atau pendelegasian beberapa proses bisnis kepada suatu badan penyelia jasa. Dimana badan penyelia jasa tersebut melakukan proses administrasi dan manajemen berdasarkan definisi serta criteria yang telah disepakati. Outsourcing hadir karena adanya keinginan dari perusahaan (perusahaan pengguna / pemesan – user/principal) untuk menyerahkan sebagian kegiatan perusahaan kepada pihak lain (perusahaan outsourcing) agar ia dapat berkonsentrasi penuh pada proses bisnis perusahaan (core business) Biar lebih kompetitif tujuannya. Karena itu, pekerjaan yang di-outsourcing-kan bukanlah pekerjaan yang berhubungan langsung dengan inti bisnis perusahaan, melainkan pekerjaan penunjang (staff level ke bawah), meski terkadang ada juga posisi manajerial yang di-outsourcing-kan, namun tetap saja hanya untuk pekerjaan dalam tenggat waktu tertentu seperti proyek.

Penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. Namun, pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walaupun seringkali melanggar etika bisnis. Perusahaan yang menggunakan tenaga outsource diketahui 4 alasan menggunakan outsourcing, yaitu Efektifitas manpower, tidak perlu mengembangkan SDM untuk pekerjaan yang bukan utama, memberdayakan anak perusahaan dan dealing with unpredicted business condition.

2.2 Masalah Umum Yang Terjadi Dalam Penggunaan Outsourcing

Adapun beberapa masalah umum yang terjadi dalam penggunaan Outsourcing adalah:

  • Penentuan partner outsourcing. Hal ini menjadi sangat krusial karena partner outsourcing harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan perusahaan serta menjaga hubungan baik dengan partner outsourcing.
  • Perusahaan outsourcing harus berbadan hukum. Hal ini bertujuan untuk melindungi hak-hak tenaga outsource, sehingga mereka memiliki kepastian hukum.
  • Pelanggaran ketentuan outsourcing. Demi mengurangi biaya produksi, perusahaan terkadang melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku.
  • Perusahan outsourcing memotong gaji tenaga kerja tanpa ada batasan sehingga, yang mereka terima, berkurang lebih banyak.

2.3 Tujuan dan Resiko Outsourcing

Adapun tujuan dari Outsourcing adalah:

  • Mempercepat keuntungan reengineering
  • Mendapatkan akses pada kemampuan kelas dunia
  • Memperoleh suntikan kas
  • Membebaskan sumber daya untuk kepentingan lain
  • Membebaskan diri dari fungsi yang sulit dikelola atau dikendalikan
  • Memperbaiki fokus perusahaan
  • Memperoleh dana kapital
  • Mengurangi biaya operasi
  • Mengurangi resiko usaha
  • Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki didalam perusahaan

Sedangkan Resiko dari Outsourcing adalah:

  • Keuntungan tidak diperoleh secara cepat, tidak diperoleh dalam jumlah yang cukup signifikan
  • Akses tidak diperoleh karena pemberi jasa tidak menunjukkan kinerja perusahaan kelas dunia
  • Suntikan kas ternyata seret atau tidak diperoleh sama sekali karena perusahaan pemberi jasa mengalami kesulitan keuangan
  • Sumber daya mungkin harus ditransfer ke atau diperlukan oleh perusahaan pemberi jasa,sehingga tetap kekurangan sumber daya
  • Perusahaan mungkin tidak dapat bebas seluruhnya dari kesulitan yang sebetulnya ingin dihindari
  • Karena berbagai tujuan yang ingin dicapai, tidak sepenuhnya didapat, maka fokus core business tidak tercapai
  • Karena perusahaan pemberi jasa mengalami kesulitan keuangan,maka mungkin tambahan dana tidak ada
  • Biaya sesudah outsourcing mungkin tidak berkurang,tetapi tetap atau bahkan bertambah
  • Karena berbagai tujuan yang ingin dicapai tidak sepenuhnya diperoleh,mungkin resiko usaha tetap saja besar
  • Karena perusahaan pemberi jasa juga tidak memiliki sumber daya yang diperlukan,maka tujuan ini tidak tercapai

2.4 Jenis-jenis Outsourcing

Ada beberapa jenis outsourcing adalah sebagai berikut:

  • Contracting. Merupakan bentuk penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga yang paling sederhana dan merupakan bentuk yang paling lama. Langkah ini adalah langkah berjangka pendek, hanya mempunyai arti taktis dan bukan merupakan bagian dari strategi (besar) perusahaan tetapi hanya untuk mencari cara yang praktis saja.
  • Outsourcing. Penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang profesional dan berkelas dunia. Diperlukan pihak pemberi jasa yang menspesialisasikan dirinya pada jenis pekerjaan atau aktivitas yang akan diserahkan.
  • In Sourcing. Kebalikan dari outsourcing, dengan menerima pekerjaan dari perusahaan lain. Motivasi utamanya adalah dengan menjaga tingkat produktivitas dan penggunaan aset secara maksimal agar biaya satuannya dapat ditekan dimana hal ini akan meningkatkan keuntungan perusahaan. Dengan demikian kompetensi utamanya tidak hanya digunakan sendiri tetapi juga dapat digunakan oleh perusahaan lain yang akan meningkatkan keuntungan.
  • Co-Sourcing. Jenis hubungan pekerjaan dan aktivitas dimana hubungan antara perusahaan dan rekanan lebih erat dari sekedar hubungan outsourcing. Contohnya adalah dengan memperbantukan tenaga ahli pada perusahaan pemberi jasa untuk saling mendukung kegiatan masing-masing perusahaan.

2.5 Istilah dari IT

Ada beberapa istilah-istilah IT yang perlu diketahui agar dapat menambah informasi tentang IT sendiri. Beberapa istilah itu adalah sebagai berikut:

  • Blog
    Blog merupakan singkatan dari “web log” adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Posting-posting tersebut seringkali dimuat dalam urutan secara terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web semacam itu biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut
  • GPRS
    Layanan komunikasi berbasis paket, tanpa kabel sebagai media komunikasi. Layanan ini diperuntukkan bagi komputer jinjing (notebook). Dasar dari GPRS adalah komunikasi GSM (Global System for Mobile Communication). Kecepatan yang ditawarkan mulai dari 56 Kbps sampai dengan 114 Kbps, memungkinkan untuk mengakses Internet dengan lebih cepat.
  • Internet
    Istilah umum yang dipakai untuk menunjuk Network tingkat dunia yang terdiri dari komputer dan layanan servis atau sekitar 30 sampai 50 juta pemakai komputer dan puluhan sistem informasi termasuk e-mail, Gopher, FTP dan World Wide Web.
  • Server
    1. Sebuah komputer di Internet atau di jaringan lainnya yang menyimpan file dan membuat file tersebut tersedia untuk diambil jika dibutuhkan.
    2. Sebuah aplikasi jaringan komputer yang digunakan untuk melayani banyak pengguna dalam satu jaringan.
  • Wi-Fi
    Wi-Fi Wireless Fidelity adalah nama dagang resmi untuk IEEE 802.11b yang dibuat oleh Wireless Ethernet Compatibility Aliance (WECA). Istilah Wi-Fi menggantikan 802.11b seperti halnya istilah Ethernet menggantikan IEEE 802.3. Produk yang disertifikasi oleh WECA sebagai Wi-Fi dapat beroperasi bersama meskipun dibuat oleh perusahaan yang berbeda.

BAB 3

PEMBAHASAN MASALAH

3.1 Keuntungan dan Kelemahan Outsourcing

Pada saat ini kesadaran seseorang atau perusahaan akan pentingnya perlindungan terhadap keamanan seperti jiwa, harta benda, atau karya cipta sudah semakin tinggi. Tingginya kejahatan yang memanfaatkan TI dan resiko keamanan semakin membuat seseorang memprioritaskan keamanan dalam sebuah perusahaan. Apalagi jurus yang dilakukan ”para penjahat” TI pun kian canggih.

Penjelasan diatas hanya satu dari banyak alasan perkembangan Sistem informasi di seluruh dunia. Seringkali perusahaan enggan untuk melakukan outsourcing, insourcing, atau multi-sourcing teknologi keamanan. Outsourcing harus dipandang secara jangka panjang, karena perusahaan pasti akan mengeluarkan dana lebih sebagai management fee perusahaan outsourcing, memikirkan mengenai pengembangan karir karyawan, efisiensi dalam bidang tenaga kerja, organisasi, benefit dan lainnya.

Adapun beberapa alasan mengapa kita memerlukan outsourcing adalah sebagai berikut:

  • Meningkatkan fokus perusahaan.
    • Memanfaatkan kemampuan kelas dunia.
    • Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari proses re-engineering.
    • Membagi resiko.
    • Sumber daya sendiri dapat digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan lain
    • Memungkinkan tersedianya dana kapital
    • Menciptakan dana segar.
    • Mengurangi dan mengendalikan biaya operasi.
    • Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki sendiri.
    • Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan atau diolah.

Dengan melihat alasan menggunakan outsourcing, faktor-faktor pemilihan perusahaan penyedia jasa outsourcing, serta kepuasan perusahaan terhadap tenaga outsource, sebanyak 68.2% menyatakan bahwa penggunaan tenaga outsource dinilai efektif dan akan terus menggunakan outsourcing dalam kegiatan operasionalnya. Untuk dapat lebih efektif maka disarankan adanya:

  • Komunikasi dua arah antara perusahaan dengan provider jasa outsource dengan bekerja sama, perubahan, atau permasalahan yang terjadi
  • Tenaga outsource telah ditraining terlebih dahulu agar memiliki kemampuan/ketrampilan
  • Memperhatikan hak dan kewajiban baik pengguna outsource maupun tenaga kerja yang ditulis secara detail dan menginformasikan apa yang menjadi hak-haknya

Dengan ‘membagi tugas’ kepada perusahaan lain itu, perusahaan pengguna outsourcing merasa mendapatkan keuntungan dari ‘kerjasama’ tersebut, karena ia tidak perlu pusing-pusing memikirkan dan mengurus pekerjaan-pekerjaan penunjang sehingga bisa fokus dalam bisnis operasional perusahaan. Sedangkan faktor-faktor penentu keberhasilan Outsourcing adalah sebagai berikut:

  • Memahami maksud dan tujuan perusahaan.
  • Memiliki visi dan perencanaan strategis.
  • Memilih secara tepat service provider atau pemberi jasa.
  • Melakukan pengawasan dan pengelolaan terus menerus terhadap hubungan antarperusahaan dan pemberi jasa.
  • Memiliki kontrak yang cukup tersusun dgn baik
  • Memelihara komunikasi yang baik dan terbuka dengan individu atau kelompok terkait.
  • Mendapatkan dukungan dan keikutsertaan manajemen
  • Memberikan perhatian secara berhati-hati pada persoalan yg menyangkut karyawan

Dari beberapa penjelasan diatas mengenai Outsourcing, kita bisa analisa bahwa ada beberapa keuntungan perusahaan menggunakan outsourcing dalam mendukung core business dari perusahaan tersebut. IT outsourcing memungkinkan bisnis Anda berfokus pada apa yang benar-benar penting, yaitu “Core” kompetensi Anda, sementara vendor atau penyedia layanan IT outsourcing berfokus pada keahlian terbaik mereka yaitu mengelola IT. Alasan mengapa suatu perusahaan mengambil langkah outsourcing adalah dikarenakan agar perusahaan tersebut dapat bertahan dalam memasuki pasar international dan mendapatkan keuntungan. Pengambilan langkah dengan menggunakan outsourcing merupakan kebijakan dari perusahaan, sehingga perusahaan dihadapkan pada beberapa keuntungan dan kelemahan. Keuntungan dan kelemahan tersebut adalah:

Keuntungan menggunakan Outsourcing:

  • Skalabilitas & Kemampuan Beradaptasi. Membangun dan memelihara infrastruktur IT membutuhkan banyak waktu. Sektor IT menjadi lebih kompetitif, sehingga mengambil terlalu banyak waktu untuk penerapan satu teknologi akan sangat berisiko. IT outsourcing memungkinkan percepatan adaptasi dan transformasi bisnis Anda terhadap perubahan pasar atau ancaman para pesaing.
  • · Penghematan Biaya (Cost Saving). Kecenderungan kegiatan bisnis yang saat ini terlihat jelas adalah bahwa perusahaan menggeser aplikasi bisnis berbasis web.
  • Teknologi yang maju. IT sourcing memberikan kemajuan teknologi kepada organisasi klien dan pengalaman personil dan teknologi tersebut tergantung  kepada vendor sebagai penyedia IT outsourcing tersebut.
  • Pemusatan Aktivitas Inti. Perusahaan dapat lebih berkonsentrasi pada kegiatan operasinya dan dapat mengendalikan jumlah tugas sehingga kegiatan operasi perusahaan dapat menjadi sempurna.
  • Kebutuhan akan personil IT. Penggunaan IT sourcing oleh suatu perusahaan menggambarkan kurangnya personil IT dalam satu perusahaan tersebut, vendor memiliki resources yang lebih besar maka perusahaan yang menggunakan IT outsourcing staff dapat berasal dari vendor.
  • Fleksibilitas penggunaan Teknologi. Outsourcing akan dipertimbangkan sebagai langkah manajemen resiko yang lebih baik dengan begitu segala resiko yang dihadapi dilimpahkan kepada vendor yang bertanggung jawab dalam memperbaharui teknologi.

Kelemahan dari Outsourcing adalah:

  • Produktivitas justru menurun jika perusahaan outsourcing yang dipilih tidak kompeten
  • Wrong man on the wrong place jika proses seleksi, training dan penempatan tidak dilakukan secara cermat oleh perusahaan outsourcing
  • Terkena kewajiban ketenagakerjaan jika perjanjian kerjasama dengan perusahaan outsourcing tidak diatur dengan tegas dan jelas diawal kerja sama
  • Regulasi yang belum kondusif akan membuat penentuan core dan non core juga belum jelas
  • Pemilihan perusahaan jasa outsourcing yang salah bisa berakibat beralihnya status hubungan kerja dari perusahaan pemberi jasa pekerja ke perusahaan penerima jasa pekerja
  • Salah satu komponen yang penting dalam outsourcing adalah kontrak, dan ini merupakan resiko yang harus diperhatikan jika tidak maka IT outsourcing akan menjadi masalah bagi perusahaan
  • Informasi merupakan asset berharga bagi perusahaan, jika tidak dikelola dengan baik maka akan jadi masalah bagi perusahaan tersebut
  • Dalam menetapkan strategi hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan IT outsourcing
  • Maintaining hubungan dengan vendor
  • Mangerial Control issue
  • Ada biaya yang diluar jasa standar seperti biaya pencarian vendor, biaya transisi, dan biaya post outsourcing

BAB 4

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

Kesuksesan keunggulan kompetitif suatu organisasi dengan menerapkan IT outsourcing berdasarkan keuntungan dan kelemahan harus diterapkan sehingga perusahaan dapat fokus terhadap core business-nya. Dan pemilihan mengenai mana yang akan digunakan dalam suatu perusahaan, sebenarnya tergantung dari ruang lingkup, budget, resiko, tingkat kegunaan, dan sejauh mana kita memerlukannya. Kalau ruang lingkup itu tidaklah terlalu besar dan sangat sederhana, maka jalan insourcing atau self-sourcing adalah langkah yang terbaik. Tetapi kalau sudah mencangkup area yang lebih luas lagi, maka outsourcing adalah jalannya.

Dilihat dari segi resiko dan tingkat kegunaannya, ini tergantung dari bentuk dan kegiatan bisnis perusahaan. Penjelasan diatas terdapat beberapa keuntungan dan kelemahan dari outsourcing tersebut, jika perusahaan dapat mengintegrasikan keuntungan dan kelemahan tersebut maka perusahaan pasti dapat menjalankan sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka. Termasuk yang paling penting adalah bagaimana penyediaan Sumber daya baik manusia maupun sistemnya sehingga sesuai dengan kebutuhan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.ajangkita.com/forum/viewtopic.php?t=28583

http://arwankhoiruddin.blogspot.com/2007/10/melihat-kelebihan-dan-kekurangan-iklim.html

http://www.infosum.net/id/programming/it-outsourcing.html

http://lianna.blog.binusian.org/2010/01/09/74/

http://ferry1002.blog.binusian.org/?tag=outsourcing