PAPER UA SIM [JANUARI 2010]

11/01/2015 in TUGAS KULIAH

Pengembangan Sistem Informasi Organisasi Bisnis di Indonesia dengan Pendekatan Outsourcing dan Urgensi Maintainability dalam Pembangunan Sebuah Sistem Informasi

Oleh: Adistiar Prayoga [P056134142. 51 E]

Abtraksi

Pendekatan outsourcing yang berkembang di dunia pada awal 1990-an, dewasa ini menjadi trend di Indonesia. Meskipun dipandang lebih produktif dan efisien, hasil outsourcing di bidang informasi dan teknologi (IT) tak selamanya sesuai dengan harapan. Beberapa kasus menggambarkan kekecewaan, sehingga membuat outsourcing dan investasi milyaran rupiah seakan sia-sia. Disisi lain, pendekatan outsourcing masih menjadi polemic di Indonesia. Maka dari itu, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan pendekatan outsourcing dalam IT dan urgensi maintainability dalam pembangunan atau penerapan sistem informasi oleh organisasi bisnis di Indonesia.

                Kata kunci: outsourcing, informasi dan teknologi (IT), maintainability

 

Latar Belakang

Perubahan zaman harus direspon dengan cepat oleh sebuah organisasi bisnis. Dinamisnya kondisi lingkungan seperti perkembangan daya pikir, penemuan teknologi baru, benturan budaya, maupun realitas social lainnya secara tidak langsung akan mempengaruhi preferensi seseorang dalam mengkonsumsi sebuah produk. Kesuksesan Nestle contohnya. Penjualan produk ini meningkat drastic di Arab dan negeri-negeri muslim, karena berhasil “mengislamkan” 70% dari produknya dengan memilih bahan dan menampilkan proses produksi yang “halal”. Contoh lainnya adalah Pepsi yang sukses merebut pasar Coca-cola karena “mematuhi” ajakan boikot atas Israel sebagai reaksi atas agresi penguasa kaum Zion tersebut ke Gaza. Sementara Coca-cola yang memutuskan untuk tetap berkongsi dengan Israel harus merasakan masa-masa pahit kehilangan pasar potensialnya. Menurut Wall Street Journal bagian Asia (29/01/2003), Coca-Cola memperkirakan telah kehilangan 40-50 Juta krat dalam setahun di pasar semenanjung Arabia. Butuh waktu yang cukup lama bagi Coca-cola untuk mengembalikan kepercayaan konsumen di Arab.

Selain dihadapkan pada perubahan zaman, organisasi bisnis juga dituntut untuk mewaspadai ketatnya persaingan. Boleh jadi sebuah perusahaan yang tahun lalu dinobatkan menjadi market leader, dalam hitungan bulan akan turun kasta jika tidak mewaspadai hal ini. Nokia (pioneer smartphone melalui symbian, 2002) adalah contoh konkrit perusahaan yang tak berdaya melawan i-Phone dan harus rela ketika pelanggannya direbut oleh Android. Maka dari itu, setiap manajemen organisasi selalu berusaha melakukan analisis yang cepat dan tepat agar setiap keputusan yang diambilnya dapat berjalan efektif dan efisien.

Adapun tingkat akurasi serta keberhasilan sebuah keputusan, sangat tergantung dari kemampuan manajemen dalam membaca realitas pasar melalui data dan informasi yang telah dikumpulkan. Oleh karena itu, dalam hal ini peran dari system informasi tidak dapat dinafikan lagi. Namun, dalam penciptaan sebuah system informasi yang canggih serta mampu menghasilkan output yang berdaya saing, organisasi seringkali dihadapkan oleh tantangan baru berupa keterbatasan sumber daya. Sebuah system yang bagus, tentu membutuhkan biaya yang besar. Pada kondisi ini, perusahaan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit seperti:

  1. pilihan antara investasi teknologi untuk meningkatkan daya saing atau efisiensi,
  2. pilihan antara menciptakan barrier dan merawat pasar atau melakukan ekspansi ke pasar yang dianggap potensial, dan
  3. pilihan antara melakukan outsourcing atau insourcing.

Semua pilihan-pilihan tersebut harus direncanakan secara matang, agar output yang dihasilkan mampu membantu sebuah organisasi bisnis dalam mencapai tujuannya. Pihak manajemen organisasi hendaknya tidak latah dengan trend yang berkembang, yakni mengikuti keputusan dari manajemen organisasi-organisasi lain tanpa diiringi dengan analisis yang mendalam agar dapat sesuai dengan kebutuhan utama organisasi serta bermanfaat bagi kepentingan jangka panjang. Perihal outsourcing misalnya.

Pemikiran tentang outsourcing pertama kali diperkenalkan oleh Adam Smith, yang menyebutkan bahwa perusahaan akan lebih efektif dan efisien apabila salah satu unit bisnisnya diserahkan pengerjaannya kepada perusahaan lain yang memiliki kompetensi dan spesialisasi dalam proses produksi tersebut (Hatonen dan Eriksson, 2009). Sejak abad ke -19, outsourcing menjadi mulai menjadi trend industri bisnis modern. Sejarah industrialisasi dan modernisasi pada negara-negara berkembang memberikan informasi bahwa mereka tak dapat lepas dari keterkaitan dengan pihak asing. Jepang misalnya, setelah revolusi pada tahun 1868, Jepang berada di jalur cepat modernisasi. Mereka menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan ahli, sehingga mereka melakukan outsourcing dalam hal engineering untuk mengatur sistem pabrik mereka dan mentransfer pengetahuan kepada penduduk asli Jepang bagaimana untuk mengoperasikan peralatan berteknologi tinggi (Gonzales, Andrae, et al, 2004). Pada tahun 1990-an hampir semua perusahaan dunia menggunakan system outsourcing (Webster dan Harding, 2001). Masa ini disebut dengan ‘Masa Dentuman Besar Outsourcing’ (Wiryana, 2012).  Mercer dan Cranfiled School of Management pada tahun 2000 menyebutkan bahwa, outsourcing telah digunakan oleh 90 persen lebih dari perusahaan di Eropa dan Amerika Utara pada salah unit bisnisnya (Wiryana, 2012). Adapun, di bidang informasi dan teknologi (IT), outsourcing untuk pertama kali dilakukan dalam pelayanan jasa, yakni customer service dan call center pada tahun 1980 (Lacity dan Hirschheim, 1993).

Meskipun dipandang lebih produktif dan efisien, hasil outsourcing di bidang IT tak selamanya sesuai dengan harapan. Beberapa kasus menggambarkan kekecewaan, sehingga membuat outsourcing dan investasi milyaran rupiah seakan sia-sia. Perusahaan yang melakukan outsourcing hanya karena alasan untuk mereduksi biaya dapat menyebabkan perusahaan sembarangan memilih fungsi teknologi atau sistem informasi yang akan di-outsource-kan kepada mitra. Hal ini berarti perusahaan tidak memisahkan fungsi sistem informasi yang tidak memiliki nilai tambah dari fungsi kompetensi inti sistem informasi yang memiliki nilai tambah (Hayes et al., 2000 dalam Toruan, 2013). Bahkan Aalders (2002), berkesimpulan bahwa generasi pertama yang melakukan outsourcing hanya karena alasan penghematan biaya seringkali menemui kegagalan. Contoh eksterm dari kegagalan outsourcing adalah kasus tuntutan Direksi Artha Graha kepada Polaris software Lab. Ltd. Direksi Artha Graha menganggap Polaris telah menyalahi kesepakatan dan aplikasi yang dibuat pun tidak layak pakai. Ujungnya, Direksi Arta Graha menuntut proyek pengembangan aplikasi system informasi tersebut dibatalkan dan semua uang pembayaran atas jasa senilai 11,5 milyar rupiah segera dikembalikan (Majalah SWA, 23 Januari-5 Februari 2013).

Proses manajemen SI pada suatau organisasi bisnis merupakan salah satu hal yang menarik untuk dikaji. Apalagi, dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, kegiatan outsourcing tengah menimbulkan polemik. Pada paper ini akan dibahas tentang dilemma yang harus dihadapi organisasi bisnis di Indonesia ketika memilih pendekatan outsourcing dalam pengembangan system informasi, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendekatan outsourcing dan urgensi maintainability dalam outsourcing IT.

______________________________

DOWNLOAD FULLPAPER

Skip to toolbar