You are browsing the archive for Catatan Kuliah.

Vice Presidential Lecture: Competitiveness of Indonesia

26/11/2014 in Berita, Catatan Kuliah, CEO Forum & Seminar, Islam

Hari Sabtu 13 September 2014 kemarin, Alhamdulillah saya berkesempatan menghadiri acara tahunan Penglepasan Alumni Magister Manajemen dan Doktor Manajemen Bisnis Tahun 2013/2014 Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis (MB), Institut Pertanian Bogor (IPB) di Hotel Borobudur, Jakarta. Acara ini merupakan acara tahunan yang diadakan oleh MB-IPB dalam rangka pemberian apresiasi kepada lulusannya. Dalam acara tersebut, MB-IPB selalu menghadirkan orang-orang hebat yang mampu memberikan wejangan dan motivasi pada semua lulusan untuk dapat berkontribusi pada bangsa dan negara. Dan pada kesempatan ini, MB-IPB mendatangkan Wakil Presiden RI, Prof. Dr. H. Boediono, M.Ec.

Acara yang dimulai pukul 09.00 ini diawali dengan sambutan Rektor IPB (Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc). Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa acara pelepasan Alumni MB-IPB tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Dies Natalis IPB yang bertemakan Sistem dan Kompatibilitas IPB untuk Pengarus Utamaan Pertanian. Tema tersebut diangkat untuk membangun paradigma yang lebih berkedaulatan, lebih berkeadilan, serta berkelanjutan menjadi driving force pembangunan nasional.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Wakil Presiden (Wapres) RI. Topik yang disampaikan dalam kesempatan adalah daya saing bangsa Indonesia (Competitiveness of Indonesia). Dihadapan 142 alumni Magister Manajemen dan 38 alumni Doktor Manajemen Bisnis, Wapres mengajak untuk mendalami konsep Ekonomi Nasional. Menurutnya pengertian Daya Saing Bangsa dalam konsep ini relevan bagi Indonesia dan bagi negara-negara berkembang. Di awal sambutannya, Wapres bercerita saat ia bersama almarhum Prof. Mubyarto menulis sebuah artikel untuk buku “Ekonomi Pancasila” sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Dalam tulisannya beliau menyebutkan bahwa salah satu ciri utama Ekonomi Pancasila adalah terbangunnya ekonomi nasional yang tangguh. Ia menggaris bawahi  istilah ‘nasional’ untuk membedakan dengan konsep perekonomian yang biasa dibaca dalam buku-buku teks ekonomi.  Di dalam tulisan itu Wapres mengutip pendapat seorang ekonom Jerman abad 19 bernama Friedrich List, yang dianggapnya mempunyai konsepsi penting mengenai Ekonomi Nasional yang relevan dengan kondisi Indonesia.

Wapres mengatakan bahwa menurut Friedrich List, suatu bangsa akan survive dan maju dalam percaturan global apabila bangsa tersebut dapat membangun kemampuan produktif.  Kemampuan produktif ini bukan sekedar kemampuan untuk menghasilkan barang dengan harga yang lebih murah dan kualitas lebih baik dibandingkan negara-negara pesaingnya di pasar global.  Kemampuan produktif yang dimaksud dalam hal ini adalah kemampuan total bangsa untuk meningkatkan dirinya secara berkesinambungan menuju dan menjadi negara maju dan modern (kemampuan bersaing dalam mengejar ketertinggalan).

Competitiveness of Indonesia

Competitiveness of Indonesia

Wapres juga menjelaskan, bahwa  menurut List untuk meningkatkan daya saing bangsa bukan dengan meningkatkan PDB (Product Domestic Bruto) atau pertumbuhan ekonomi semata. PDB bukan indikator yang cocok untuk mengukur kemajuan kemampuan produktif suatu bangsa melainkan hanya mengukur nilai tambah yang dihitung pada harga pasar dari kegiatan ekonomi yang terjadi di suatu negara dalam kurun waktu satu tahun (Exchange Values dari barang/jasa yang dihasilkan). Jika PDB naik karena produksi barang/jasa meningkat, maka kenaikan PDB itu tidak selalu mencerminkan peningkatan kemampuan produktif negara apabila barang /jasa yang dihasilkan tersebut berasal dari proses produksi yang sederhana yang tidak memberi peluang bagi pemanfaatan teknologi baru yang lebih tinggi/lebih produktif.  Kenaikan PDB juga tidak mencerminkan kemampuan produktif yang lebih besar apabila barang dan jasa yang dihasilkan hanya laku di pasar karena harganya lebih murah karena diproduksi dengan upah yang murah pula.  Dan yang lebih parah, apabila kenaikan nilai PDB berasal dari penjualan “harta warisan” bangsa, yaitu kekayaan alamnya, tanpa ada upaya untuk meningkatkan nilai tambah. Singkatnya PDB atau pertumbuhan ekonomi mencerminkan peningkatan kemampuan produktif hanya apabila bersumber pada peningkatan produktivitas bukan sekedar karena kenaikan volume produksi.

List menekankan perbedaan antara produksi dan produktivitas. Kemampuan produktif hanya meningkat melalui peningkatan produktivitas.  Di mana kreativitas manusia dan physical capital menjadi sumber dari peningkatan produktivitas yang dimaksud. Wapres juga menjelaskan bahwa dalam terminologi masa kini sumber peningkatan produktivitas ini disebut technical progress. Pada physical capital termasuk di dalamnya adalah infrastruktur dan mesin-mesin dan sarana produksi lain atau disebut capital deepening. Sedangkan konsep peningkatan investasi melalui kreativitas List tidak memaparkan dengan jelas.

Menurut Wapres, konsep kreativitas selanjutnya dijabarkan oleh Schumpeter, seorang ahli ekonomi dari Austria. Schumpeter mengatakan bahwa ide atau penemuan yang dihasilkan dari kreativitas manusia akan mempunyai dampak pada produktivitas apabila diterjemahkan menjadi inovasi dalam proses produksi dan dalam kegiatan ekonomi nyata. Dalam hal ini Schumpeter menekankan peranan sentral dari wirausaha atau entrepreneurs dalam mentransformasi ide menjadi kenyataan (peningkatan produktivitas). Schumpeter juga memperkenalkan proses creative destruction, yakni peningkatan produktivitas dapat diperbolehkan dengan cara menggeser bahkan mengganti perusahaan yang produktivitasnya rendah atau bahkan yang tidak lagi produktif. Dimana menurut Wapres, kebijakan di bidang kompetisi usaha yang mendukung proses creative destruction harus dilaksanakan dengan konsisten.

Teori Schumpeter melengkapi teori Daya Saing List, yang mana konsep List dalam teori peningkatan physical capital  dapat dilakukan dalam bentuk investasi di bidang pendidikan dan kesehatan serta investasi di bidang sarana dan prasarana produksi. Sedangkan Schumpeter  melengkapi dengan program dan kebijakan khusus untuk mendorong terciptanya kelompok wirausaha yang mampu menerjemahkan ide atau penemuan menjadi praktek nyata dalam proses produksi.

Wapres kemudian menyoroti fenomena yang terjadi di Indonesia, yakni pengaruh pertumbuhan kelompok masyarakat kelas menengah. Pertumbuhan kelompok menengah dirasa mempunyai peran dalam menentukan arah kehidupan ekonomi dan bahkan juga arah kehidupan politik suatu bangsa. Di beberapa negara yang sekarang maju, kelas menengah tumbuh menjadi kelompok wirausaha yang tangguh dan menjadi ujung tombak inovasi dan peningkatan produktivitas. Mereka menyisihkan sebagian income-nya sebagai bagian dari tabungan nasional untuk membiayai investasi yang diperlukan dalam membangun daya saing bangsa. Mereka berani mengambil risiko sebagai wirausaha untuk berinovasi.

Pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, hal tersebut belum dapat dipastikan terjadi. Kelas menengah dengan income dan kemampuan daya beli yang besar justru dapat menjadi kelompok konsumtif yang menghabiskan income-nya untuk conspicuous consumption atau konsumsi berlebihan, yang tidak menyumbang apa-apa bagi pembangunan daya saing bangsa. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang ekonom di abad 19, Thorstein Veblen. Ia mengingatkan adanya risiko kelompok berduit menjadi kelompok masyarakat parasit yang  mengutamakan cara hidup konsumtif dan mengutamakan gaya hidup hura-hura (kemewahan), yang ia sebut sebagai The Leisure Class.

Wapres kemudiian mangakhiri kuliah singkatnya dengan memberikan simpulan pada beberapa program strategis yang dapat dijalankan dalam memperkuat daya saing bangsa, yakni investasi pada dunia pendidikan dan kesehatan, pembagunan sarana dan prasarana produksi, pengembangan wirausaha, menjalankan kompetisi usaha yang efektif, upaya peningkatan kualitas kelompok menengah agar menjadi lebih produktif dan adanya sistem pertahanan terhadap krisis. Semua strategi kebijakan tersebut harus dilakukan melalui langkah-langkah operasional dan konkrit, konsisten dan tidak saling bertrabrakan satu dengan lainnya, serta terkendali dan dapat diawasi.

Seiring dengan berakhirnya pemaparan Wapres tersebut, kemudian muncul pertanyaan dalam diri saya, peran apa yang bisa saya berikan untuk memperkuat daya saing bangsa Indonesia? Apakah pendidikan, kesehatan, private sector, wirausaha atau pelaksana program pemerintahan (PNS)? Dan bagaimana dengan pilihan ANDA??? Laluuu….dengan begitu indahnya paparan Wapres tersebut, sudah seberapa besar dampak kemajuan Bangsa Indonesia yang dapat kita rasakan?? Entahlaah….yang penting adalah bagaimana kita bisa mengawali tindakan-tindakan tersebut dengan langkah kecil yang secara konsisten dapat menanamkan nilai-nilai yang baik pada lingkungan sekitar kita hingga suatu saat bisa terjadi perubahan.

So….let’s Think Globally, Act Locally!!

Skip to toolbar