You are browsing the archive for TUGAS KULIAH.

Marketing Class 20.01

29/01/2015 in TUGAS KULIAH


Adistiar Prayoga ( P056134142.51E )

School of Business and Management, Bogor Agricultural University – www.mb.ipb.ac.idwww.ipb.ac.id

MARKETING CLASS
Lecturer
Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. (www.ujansumarwan.blog.mb.ipb.ac.id, www.sumarwan.staff.ipb.ac.id)
Dr. Ir. Hartoyo, M.Sc.
Dr. Ir. Dodik Nur Rachmat, M.Sc.F.
Dr. Kirbandoko, M.S.M.
Dr. Ir. Mukhammad Najib, M.M.


Marketing and Marketing Management

Pemasaran (Marketing) adalah bagian yang unik dari perusahaan. Prof. Ujang Sumarwan (2015), dosen pemasaran MB IPB berkata: “dalam operasionalnya, perusahaan terbagi menjadi beberapa bagian, yakni: produksi (operasi), sumber daya manusia, keuangan, dan pemasran. Dari semua bagian tersebut hanya pemasaran lah yang mampu menghasilkan uang”.  Tanpa adanya pemasaran,sebagus apapun suatu produk/jasa hanya akan menjadi sampah yang tiada nilainya.

Meski ujung-ujungnya adalah duit, pemasaran juga butuh banyak duit. Adapun yang perlu dipahami, pemasaran bukan sekedar beriklan, menyebar brosur, memberi diskon, atau menarik konsumen melalui tontonan “keindahan” sales promotion girl, sebagaimana yang sering ditampilkan di negeri ini. Pemasaran adalah tindakan perusahaan untuk mengambil posisi yang tepat antara produk yang ditawarkan dengan kondisi permintaan di pasar. Secara lebih detil, pemasaran dapat diartikan sebagai sebuah proses social antara individu dan kelompok untuk mempertemukan kebutuhan dan keinginan melalui kegiatan penciptaan produk, penawaran, dan pertukaran nilai antar produk berupa barang/jasa dengan lainnya.

http://yellowsubmarketing.com/website/tough-nut/

Sebagai suatu proses social, pemasaran tentunya sangat peka terhadap perubahan kondisi sosial, khususnya yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi-informasi. Walaupun perubahan sosial adalah keniscayaan yang penuh dengan ketidakpastian*, bukan berarti hal tersebut tak dapat diprediksi dan diantisipasi. Dr. Kirbandoko (2009), memberikan gambaran terkait beberapa permasalahan  dasar dalam pemasaran dalam kaitannya sebagai proses social, yakni:

1. Bagaimana memilih segmen pasar yang tepat?
2. Bagaimana membuat produk kita berbeda dengan produk pesaing?
3. Bagaimana jika pelanggan meminta harga yang lebih rendah?
4. Bagaimana kita bersaing dengan pesaing harga rendah?
5. Bagaimana membangun kekuatan merk?
6. Bagaimana membuat pelanggan loyal?
7. Bagimana meningkakan produktivitas tenaga penjual?

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas munculah konsep-konsep pemasaran populer seperti Market’s STP, Needs or Wants, Demand and Benefits, Marketing Mix, Value, Exchange, Transaction, Satisfaction, Service Quality dan lain-lain. Konsep-konsep tersebut terus dikembangkan hingga kini berdasarkan berbagai pengalaman, problematika, dan tantangan ketidakpastian secara empiris dan terverifikasi hingga membentuk sebuah cabang pengetahuan bernama Marketing Management. Oleh karena itu, setiap manajemen perusahaan harus mempelajari ilmu pemasaran. Tujuannya adalah mereduksi kemungkinan kegagalan design produk, melakukan tindakan yang efektif secara gradual untuk mencapai hasil yang optimum, dan  melakukan manuver yang tak mampu diprediksi oleh pesaing, sehingga perusahaan dapat  bertahan atau bahkan mendominasi pasar.

Pada akhirnya, dapat kita ambil kesimpulan sederhana bahwa pemasaran laiknya senjata utama perusahaan. Adapun Marketing management adalah seni menggunakan senjata tersebut. Jadi, sayang sekali jika pengetahuan-pengetahuan terkait pemasaran dibiarkan berlalu begitu saja.


*sebagaimana adagium ‘satu-satunya hal yang berubah adalah perubahan dan satu-satunya kepastian yang ada hanyalah ketidakpastian’, 


Text Book

Ujang Sumarwan (editor). 2015. Pemasaran Strategic: Perspektif Perlilaku Konsumen dan Marketing Plan. IPB Press.
Silahkan download e-book:

2015 >  01  BUKU PEMASARAN STRATEGIK PERSPEKTIF PERILAKU KONSUMEN DAN MARKETING PLAN

 2

Sumarwan Ujang; Agus Djunaedi; Aviliani; H.C Royke; Jusuf Agus Sayono; Rico R Budidarmo; Sofyan Rambe. (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth and Share Holder Value).-Pemasaran Strategik: Strategi Untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham . Published byInti Prima, Februari 2009, ISBN 979-450-451-3

2010 > UJANG SUMARWAN PEMASARAN STRATEGIK – PERSPEKTIF VALUE-BASED MARKETING

34

Sumarwan, U., Achmad Fachrodji., Adman Nursal., Arissetyanto Nugroho., Erry Ricardo Nurzal., Ign Anung Setiadi., Suharyono., Zeffry Alamsyah. 1st Printing. 2011. Marketing Strategic: Value Based Marketing and Marketing Metrics. Pemasaran Strategik: Persfektif Value-Based Marketing dan Pengukuran Kinerja. Bogor, IPB Press.

2009> 02  UJANG SUMARWAN PEMASARAN STRATEGIK – STRATEGI UNTUK PERTUMBUHAN PERUSAHAAN

1

SINOPSIS
Pemasaran strategik menguraikan bagaimana sebuah perusahaan harus memahami konsumen, sehingga dapat menyusun strategi pemasarannya untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan guna meningkatkan kinerja perusahaan dan menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.Pemasaran adalah memahami berbagai kebutuhan para pelanggan dan mengembangkan sebuah proposisi untuk menawarkan nilai yang superior. Melalui penyediaan nilai pelanggan yang lebih tinggi maka manajemen dapat memberikan dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi pula kepada para pemegang saham. Nilai suatu merek dagang terbentuk dari kepercayaan para pelanggan terhadap merek dagang perusahaan. Kepercayaan ini membentuk relasi antara merek dan pelanggan yang mendorong preferensi, loyalitas merek, dan keinginan untuk mempertimbangkan produk dan jasa baru yang ditawarkan perusahaan di masa depan dengan merek tersebut. Buku ini juga menguraikan bagaimana langkah-langkah untuk membangun ekuitas merek serta menjelaskan beberapa metode untuk mengukur ekuitas merek.

PAPER UA SIM [JANUARI 2010]

11/01/2015 in TUGAS KULIAH

Pengembangan Sistem Informasi Organisasi Bisnis di Indonesia dengan Pendekatan Outsourcing dan Urgensi Maintainability dalam Pembangunan Sebuah Sistem Informasi

Oleh: Adistiar Prayoga [P056134142. 51 E]

Abtraksi

Pendekatan outsourcing yang berkembang di dunia pada awal 1990-an, dewasa ini menjadi trend di Indonesia. Meskipun dipandang lebih produktif dan efisien, hasil outsourcing di bidang informasi dan teknologi (IT) tak selamanya sesuai dengan harapan. Beberapa kasus menggambarkan kekecewaan, sehingga membuat outsourcing dan investasi milyaran rupiah seakan sia-sia. Disisi lain, pendekatan outsourcing masih menjadi polemic di Indonesia. Maka dari itu, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan pendekatan outsourcing dalam IT dan urgensi maintainability dalam pembangunan atau penerapan sistem informasi oleh organisasi bisnis di Indonesia.

                Kata kunci: outsourcing, informasi dan teknologi (IT), maintainability

 

Latar Belakang

Perubahan zaman harus direspon dengan cepat oleh sebuah organisasi bisnis. Dinamisnya kondisi lingkungan seperti perkembangan daya pikir, penemuan teknologi baru, benturan budaya, maupun realitas social lainnya secara tidak langsung akan mempengaruhi preferensi seseorang dalam mengkonsumsi sebuah produk. Kesuksesan Nestle contohnya. Penjualan produk ini meningkat drastic di Arab dan negeri-negeri muslim, karena berhasil “mengislamkan” 70% dari produknya dengan memilih bahan dan menampilkan proses produksi yang “halal”. Contoh lainnya adalah Pepsi yang sukses merebut pasar Coca-cola karena “mematuhi” ajakan boikot atas Israel sebagai reaksi atas agresi penguasa kaum Zion tersebut ke Gaza. Sementara Coca-cola yang memutuskan untuk tetap berkongsi dengan Israel harus merasakan masa-masa pahit kehilangan pasar potensialnya. Menurut Wall Street Journal bagian Asia (29/01/2003), Coca-Cola memperkirakan telah kehilangan 40-50 Juta krat dalam setahun di pasar semenanjung Arabia. Butuh waktu yang cukup lama bagi Coca-cola untuk mengembalikan kepercayaan konsumen di Arab.

Selain dihadapkan pada perubahan zaman, organisasi bisnis juga dituntut untuk mewaspadai ketatnya persaingan. Boleh jadi sebuah perusahaan yang tahun lalu dinobatkan menjadi market leader, dalam hitungan bulan akan turun kasta jika tidak mewaspadai hal ini. Nokia (pioneer smartphone melalui symbian, 2002) adalah contoh konkrit perusahaan yang tak berdaya melawan i-Phone dan harus rela ketika pelanggannya direbut oleh Android. Maka dari itu, setiap manajemen organisasi selalu berusaha melakukan analisis yang cepat dan tepat agar setiap keputusan yang diambilnya dapat berjalan efektif dan efisien.

Adapun tingkat akurasi serta keberhasilan sebuah keputusan, sangat tergantung dari kemampuan manajemen dalam membaca realitas pasar melalui data dan informasi yang telah dikumpulkan. Oleh karena itu, dalam hal ini peran dari system informasi tidak dapat dinafikan lagi. Namun, dalam penciptaan sebuah system informasi yang canggih serta mampu menghasilkan output yang berdaya saing, organisasi seringkali dihadapkan oleh tantangan baru berupa keterbatasan sumber daya. Sebuah system yang bagus, tentu membutuhkan biaya yang besar. Pada kondisi ini, perusahaan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit seperti:

  1. pilihan antara investasi teknologi untuk meningkatkan daya saing atau efisiensi,
  2. pilihan antara menciptakan barrier dan merawat pasar atau melakukan ekspansi ke pasar yang dianggap potensial, dan
  3. pilihan antara melakukan outsourcing atau insourcing.

Semua pilihan-pilihan tersebut harus direncanakan secara matang, agar output yang dihasilkan mampu membantu sebuah organisasi bisnis dalam mencapai tujuannya. Pihak manajemen organisasi hendaknya tidak latah dengan trend yang berkembang, yakni mengikuti keputusan dari manajemen organisasi-organisasi lain tanpa diiringi dengan analisis yang mendalam agar dapat sesuai dengan kebutuhan utama organisasi serta bermanfaat bagi kepentingan jangka panjang. Perihal outsourcing misalnya.

Pemikiran tentang outsourcing pertama kali diperkenalkan oleh Adam Smith, yang menyebutkan bahwa perusahaan akan lebih efektif dan efisien apabila salah satu unit bisnisnya diserahkan pengerjaannya kepada perusahaan lain yang memiliki kompetensi dan spesialisasi dalam proses produksi tersebut (Hatonen dan Eriksson, 2009). Sejak abad ke -19, outsourcing menjadi mulai menjadi trend industri bisnis modern. Sejarah industrialisasi dan modernisasi pada negara-negara berkembang memberikan informasi bahwa mereka tak dapat lepas dari keterkaitan dengan pihak asing. Jepang misalnya, setelah revolusi pada tahun 1868, Jepang berada di jalur cepat modernisasi. Mereka menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan ahli, sehingga mereka melakukan outsourcing dalam hal engineering untuk mengatur sistem pabrik mereka dan mentransfer pengetahuan kepada penduduk asli Jepang bagaimana untuk mengoperasikan peralatan berteknologi tinggi (Gonzales, Andrae, et al, 2004). Pada tahun 1990-an hampir semua perusahaan dunia menggunakan system outsourcing (Webster dan Harding, 2001). Masa ini disebut dengan ‘Masa Dentuman Besar Outsourcing’ (Wiryana, 2012).  Mercer dan Cranfiled School of Management pada tahun 2000 menyebutkan bahwa, outsourcing telah digunakan oleh 90 persen lebih dari perusahaan di Eropa dan Amerika Utara pada salah unit bisnisnya (Wiryana, 2012). Adapun, di bidang informasi dan teknologi (IT), outsourcing untuk pertama kali dilakukan dalam pelayanan jasa, yakni customer service dan call center pada tahun 1980 (Lacity dan Hirschheim, 1993).

Meskipun dipandang lebih produktif dan efisien, hasil outsourcing di bidang IT tak selamanya sesuai dengan harapan. Beberapa kasus menggambarkan kekecewaan, sehingga membuat outsourcing dan investasi milyaran rupiah seakan sia-sia. Perusahaan yang melakukan outsourcing hanya karena alasan untuk mereduksi biaya dapat menyebabkan perusahaan sembarangan memilih fungsi teknologi atau sistem informasi yang akan di-outsource-kan kepada mitra. Hal ini berarti perusahaan tidak memisahkan fungsi sistem informasi yang tidak memiliki nilai tambah dari fungsi kompetensi inti sistem informasi yang memiliki nilai tambah (Hayes et al., 2000 dalam Toruan, 2013). Bahkan Aalders (2002), berkesimpulan bahwa generasi pertama yang melakukan outsourcing hanya karena alasan penghematan biaya seringkali menemui kegagalan. Contoh eksterm dari kegagalan outsourcing adalah kasus tuntutan Direksi Artha Graha kepada Polaris software Lab. Ltd. Direksi Artha Graha menganggap Polaris telah menyalahi kesepakatan dan aplikasi yang dibuat pun tidak layak pakai. Ujungnya, Direksi Arta Graha menuntut proyek pengembangan aplikasi system informasi tersebut dibatalkan dan semua uang pembayaran atas jasa senilai 11,5 milyar rupiah segera dikembalikan (Majalah SWA, 23 Januari-5 Februari 2013).

Proses manajemen SI pada suatau organisasi bisnis merupakan salah satu hal yang menarik untuk dikaji. Apalagi, dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, kegiatan outsourcing tengah menimbulkan polemik. Pada paper ini akan dibahas tentang dilemma yang harus dihadapi organisasi bisnis di Indonesia ketika memilih pendekatan outsourcing dalam pengembangan system informasi, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendekatan outsourcing dan urgensi maintainability dalam outsourcing IT.

______________________________

DOWNLOAD FULLPAPER

Studi Kasus “Metode Inovasi Perusahaan” Sistem Informasi Manajemen

23/11/2014 in TUGAS KULIAH

Tugas Studi Kasus: The New York Times and Boston Scientific: Two Different Ways Of Innovating With Information Technology

 

Oleh : Adistiar Prayoga (P056134142.51E)

Program Studi Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor –  Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc,CS

 

  1. Seperti yang dinyatakan dalam kasus, The New York Times memilih untuk menyebarkan inovasi dukungan kelompok mereka sebagai shared service di seluruh unit bisnisnya. Menurut Anda apakah pengertian dari hal tersebut? Keuntungan apa yang didapat oleh perusahaan atas pendekatan tersebut? Adakah kelemahannya juga?

 

Shared Service dan Inovasi

The New York Times memfokuskan strategi keunggulan kompetitifnya pada sisi inovasi. Michael Porter (1990: 3) mengatakan bahwa keunggulan dalam bersaing (competitive advantage) adalah jantung kinerja pemasaran. Strategi ini harus didesain untuk mewujudkan keunggulan bersaing yang memiliki sustainabilitas sehingga perusahaan dapat mendominasi baik di pasar, baik pasar lama maupun pasar baru. Keunggulan bersaing pada dasarnya tumbuh dari nilai-nilai atau manfaat yang merupakan hasil inovasi perusahaan kepada para pelanggannya.

          The New York Times telah menginvestasikan sebagian besar sumber daya keuangannya untuk melakukan inovasi (paragraph 1). Dan pada puncaknya, mereka bekerjasama dengan sebuah perusahaan penelitian dan pengembangan (litbang) swasta yang berdiri pada tahun 2006. Perusahaan litbang ini memiliki track record cukup bagus karena telah berhasil memberikan pelayanan kepada sekitar 24 surat kabar, stasiun radio, dan lebih dari 50 situs Web (paragraph 2). Tim yang tersebut berusaha keras untuk menciptakan produk baru bagi para pelanggan The New York Times.

          Sebuah hal menarik dari The New York Times dalam proses menciptakan keunggulan kompetitif adalah mekanisme shared service yakni system layanan yang berbasis pada pembagian inovasi baru yang ditemukan oleh sebuah departemen/divisi di suatu perusahaan. Jadi setiap departemen/divisi didorong untuk melakukan analisis kondisi, proses berfikir, serta penciptaan inovasi baru. Ketika muncul inovasi, dibagilah inovasi tersebut kepada seluruh departemen/divisi di suatu organisasi. Kata kuncinya adalah “berbagi gagasan” yang dapat memudahkan kerja bersama demi tercapainya tujuan organisasi.

Keunggulan Shared Service

  • Adanya pengetahuan yang komperhensif di masing-masing departemen/divisi terkait proses pencapaian tujuan perusahaan karena terbangunnya penyatuan sistematika berfikir. Hal ini merupakan langkah jitu dalam penerapan system manajemen terintegrasi yang berpengaruh terhadap efisiensi biaya dan efektivitas waktu kerja. Frons (CTO Pengembangan Digital The New York Times) mengatakan bahwa “Kami sedang mencoba untuk memecahkan permasalahan-permasalahan spesifik dan memikirkan kemana bisnis akan bergerak,”. Maka dari itu, Frons dapat berfokus pada kenaikan pendapatan, pemotongan biaya, dan meningkatkan efisiensi melalui proses perbaikan dan otomatisasi
  • Penghematan biaya investasi atas sebuah inovasi, Frons (CTO Pengembangan Digital The New York Times) mendorong 120 orang timnya untuk berfikir lebih maju dengan konteks inovasi 2 tahunan. Mereka dipacu dan mendapatkan penghargaan. Para pemenang mendapatkan uang tunai, pengakuan eksistensi, dan sumber daya untuk mengubah ide mereka menjadi kenyataan. Eksperimen pun bebas, cepat, dan tentu mereduksi biaya investasi yang cukup besar.
  • Sistem terintegrasi yang dirasakan oleh pelanggan mampu menumbuhkan kepuasan dan loyalitas pelanggan,  Sistem teritengrasi tentu akan memudahkan pelanggan untuk mendapatkan produk atau jasa sesuai keinginannya. Jika hal ini tersaji dengan baik, maka pelanggan akan puas, sebagaimana dijelaskan oleh Parasuraman, et al (1988) dalam teori kualitas jasa dimana seorang pelanggan akan membandingkan persepsi atas suatu layanan dan layanan yang tersaji. Jika persepsi dan kualitas jasa yang tersaji sama besar, maka para pelanggan akan merasa puas. Lovelock dan Wright (2007) mengatakan bahwa kepuasan merupakan reaksi emosional jangka pendek pelanggan terhadap kinerja jasa tertentu. Secara konseptual banyak peneliti yang berkesimpulan bahwa ada hubungan terpola bersifat positif antara kepuasan dengan kualitas jasa. Bartikowski dan Llosa dalam Johannes (2009), menyatakan bahwa pelanggan yang memperoleh tingkat kepuasan tinggi diyakini akan menjadi pelanggan yang loyal, dan pelanggan loyal tidak akan berpindah sehingga memungkinkan organisasi memperoleh laba sepanjang masa (Prayoga, 2011:58).
  • Menumbuhkan soliditas internal yang memiliki implikasi positif terhadap produktivitas.

 

Kelemahan Shared Service

  • Shared service memiliki jangkuan luas, namun menghendaki pemahaman yang baik serta komunikasi yang lancar, gangguan terhadap kedua hal tersebut membuat informasi tak dapat ditangkap dengan sempurna sehingga aplikasi akan sulit.
  • Diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan proses transfer informasi secara menyeluruh kepada masing-masing departemen/devisi. Oleh karena, kesabaran dalam transfer dan keterbukaan untuk menerima setiap saran positf adalah kuncinya
  • Dibutuhkan kekuatan manajemen dalam setiap kebijakan shared service sehingga dapat mereduksi sekecil mungkin segala bentuk kepentingan bersifat personal atau parsial yang rentan akan konflik di masa mendatang.

 

  1. Boston Scientific menghadapi tantangan dalam hal menyeimbangkan keterbukaan dan sharing informasi dengan keamaan atas sebuah informasi. Bagaimana penggunaan teknologi yang dapat memungkinkan perusahaan untuk mencapai kedua tujuan tersebut pada waktu yang bersamaan? Perubahan budaya apa saja yang dibutuhkan untuk kemungkinan tersebut? Apakah hal-hal tersebut menjadi sangat penting daripada teknologi terkait isu di atas? Berikan beberapa contoh untuk mendukung jawaban anda!

 Boris Evelson, seorang analis utama di Forrester mengatakan bahwa “Semakin banyak informasi pengetahuan yang Anda berikan kepada karyawan, maka mereka akan semakin efektif dalam menciptakan nilai-nilai bagi perusahan, namun hal ini juga menciptakan kemungkinan resiko yang besar pula, yakni pengungkapan atas informasi pengetahuan ketika seorang karywan resign kemudian membawa data serta membocorkan data memberikannya kepada pesaing.” (paragraf 14).

Sebagai upaya untuk mengatasi hal tersebut, Boston Scientific telah melakukan riset dan pengembangan yang menghabiskan dana sebesar 8 milyar dollar untuk mencari perangkat lunak (software) yang memungkinkan adanya keterbukaan, sharing info, dan keamanan atas akses informasi. (paragraph 15) Akhirnya ditemukanlah aplikasi Goldfire.

 Adapun perubahan budaya yang dibutuhkan dalam proses aplikasi hal tersebut adalah:

  1. Tingkat kedisiplinan manajemen

Pihak manajemen hendaknya mampu memantau secara rutin terkait pihak-pihak yang dapat mengakses data serta senantiasa melakukan penyesuaian izin sesuai dengan perubahan kondisi-kondisi bisnis

  1. Menghidupkan kembali inovasi internal setelah sekian lama terjebak dalam penyelesaian masalah regulasi dari akuisisi.

Boston Scientific selama beberapa tahun terakhir berfokus dalam sisitem kualitas, mempertahankan pasar, dan mewarisi permasalahan regulasi selama kurun waktu tertentu (paragraph 16). Setelah ditemukan perangkat lunak yang memungkinkan atas penyelesaian masalah tersebut serta keamanan data, maka Boston Scientific harus segera berpindah focus untuk mendorong inovasi internal yang mampu menghasilkan keunggulan kompetitif baru.

  1. Pemahaman yang komprehensif kepada karyawan terkait pentingnya sebuah pengetahuan, kesabaran, dan rahasia perusahaan

Aplikasi Goldfire membuat alur kerja otomatis yang memberikan kemudahan sharing informasi, kemungkinan terciptanya inovasi baru serta kemanan data perusahaan,

Secara teknis, para peneliti di Boston Scientific dapat menggunakan perangkat lunak untuk menemukan hubungan dari sumber-sumber yang berbeda, misalnya dengan menyorot persamaan ide. Kemudian, para teknisi dapat menggunakan analisis tersebut untuk memperoleh ide produk-produk baru dan memulai studi kelayakannya. Setelah itu mereka dapat saling mengakses Informasi. Akan tetapi “Orang yang berada dalam masalah tidak sabar menunggu datangnya hari itu,” katanya Jude Currier (Manajer Sains di Boston Scientific) – paragraph 20.

 Hal tersebut wajar dan baik, namun namun tidak semua data dapat dibuka selamanya. Sebagai contoh, semakin dekat proyek dengan tahap hak paten, akses data terbatas hanya pada segelintir orang, kata Currier –paragraf 21.

 Oleh karena itu manejemen dari Boston Scientific harus mendidik pola piker semua karyawannya orang agar tidak membuang keamanan secara sembarang dan senantiasa berusaha menciptakan pengetahuan baru bagi organisasi.

  1. Peta penyewaan video dikembangkan oleh The New York Times dan Netflix Graphically dalam menampilkan film populer di seluruh lingkungan dari kota-kota besar di Amerika Serikat. Bagaimana Netflix menggunakan informasi ini untuk meningkatkan bisnis mereka? Dapatkah perusahaan-perusahaan lain mengambil keuntungan dari data ini? Bagaimana? Berikan beberapa contoh.

 “Peta Pintar Netflix” dan keuntungan bagi perusahaan

The New York Times bekerja sama dengan Netflix Graphically berhasil melaunching hasil riset dan pengembangannya berupa peta interaktif yang mampu menunjukkan detil posisi rental Netflix yang terkenal di seluruh 12 kota besar, di Amerika Serikat, yakni: New York, San Fransisco/Area teluk, Boston, Chicago, Washington, Los Angeles, Seattle, Minneapolis, Denver, Atlanta, Dallas, dan Miami (paragraph 7).

Peta pintar tersebut merupakan database grafik dari 100 film Netflix yang paling banyak disewa pada tahun 2009. Tampilannya dibuat semenraik mungkin dan disajikan dalam bentuk peta interaktif. Para pelanggan dapat mengeksplorasi secara grafik film utama Netflix pada tahun 2009 berdasarkan tiga criteria:

  1. film yang dibenci para kritikus,
  2. film yang dicintai oleh para kritikus, serta
  3. daftar huruf alfabet dan paling banyak disewa

Sebagai contoh, peta tersebut akan mengarahkan konsumen kepada menu “pilih yang paling banyak disewa”, dan ketika pelanggan menempatkan mouse diatas Zip Code, sebuah jendela baru akan muncul serta menunjukkan kepada pelanggan posisi rental utama Netflix apa pada daerah spesifik. (Pargraf 8)

Inovasi tersebut tentu sangat berguna bagi manajemen Netflix dalam proses pengambilan keputusan yang tentu berhubungan erat dengan maksimasi keuntungan perusahaan. Dari inovasi peta grafis tersebut, Netflix mendapat informasi detil terkait permintaan masyarakat. Sehingga pihak manajemen dapat membuat keputusan yang tepat terkait film-film yang perlu diperbanyak dan film-film yang perlu dibatasi. Berdasarkan data permintaan pasar, bukan atas persepsi manajemen Netflix.

Adapun contohnya, terkait beberapa kecenderungan yang telah mampu diprediksi Netflix yakni film Netflix di tahun 2009 yang paling terkenal adalah The Curious Case of Benjamin Button, meskipun Slumdog Millionaire dan Twilight juga berada dalam posisi 10 besar. Milk, sebuah cerita tentang Harvey Milk, seorang aktivis di San Fransisco, populer di San Fransisco dan pusat kota lainnya, tetapi tidak banyak diminati di pinggiran selatan kota (seperti Dallas dan Atlanta). Mad Men, sebuah drama tahun 1960 yang mengatur tentang eksekutif periklanan, berkibar di sebagian daerah Manhattan dan Brooklyn, namun “tidak laku” di kota besar lainnya seperti Denver dan Dallas. Bahkan di daerah Miami tidak diminati sama sekali.

 Adapun beberapa kecenderungan yang ternyata diluar dugaan dan dapat diatasi Netflix dengan memanfaatkan peta pintar adalah

  1. BeberapaBig blockbuster ternyata tidak seterkenal di pusat kota (Wanted dan Transformers: Revenge of the Fallen, hampir tidak membuat percikan sama sekali di pusat kota Manhattan dan San Fransisco), meskipun ada kemungkinan lain seperti kecenderungan orang untuk menonton Blockbusters di bioskop daripada di rumah masing-masing.
  2. Last Chance Harvey, sebuah drama komedi romantis yang diperankan Dustin Hoffman dan Emma Thompson, dinikmati di pinggiran kaya kota (seperti Scarsdale), namun bukan di pusat kota (seperti Manhattan).
  3. Film Tyler Perry (Tyler Perry’s Madea Goes to Faildan Tyler Perry’s The Family That Preys) ternyata sangat terkenal di kawasan yang didominasi kulit hitam.

 Keuntungan dari Peta Pintar Netflix bagi perusahaan lain

Perusahaan lain tentu bisa berpura-pura sebagai pelanggan dan membeli aplikasi Netflix kemudian mencari celah pasar untuk mengambil profit dari data yang disajikan oleh peta pintar Netfilix. Namun, keberadaan perusahaan lain tersebut tidak terlalu berbahaya dan mungkin hanya akan menjadi market follower Netflix selama mereka tidak mampu membuat inovasi baru atau keunggulan kompetitif yang terkait aliansi, karena Netflix tentu lebih unggul di bidang

  1. Kecepatan dan ketepatan dalam data serta analisis pasar
  2. Harga dan penguasaan area pelanggan
  3. Tanpa informasi yang akurat terkait poin a dan c perusahaan pesaing tentu akan sulit membuat produk diferensiasi

 

Kesimpulan Kasus

  1. Inovasi produk atau layanan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi organisasi dalam upaya meraih pasar baru maupun mempertahankan pasar lama.
  2. Inovasi berbasis internal dan proses sharing informasi akan mempercepat pertumbuhan perusahaan dan menambah daya tahan perusahaan dalam proses adaptasi terhadap perkembangan zaman.
  3. Proses penciptaan inovasi berbasis sharing data kekuatan internal membutuhkan kehati-hatian dan keamanan yang kuat karena suatu saat karyawan dapat berpindah dan memberikan informasi yang berharga terhadap pesaing.
  4. Sebuah organisasi harus memiliki disiplin kerja yang tinggi dan menanamkan loyalitas terhadap karyawannya dengan cara-cara yang sesuai dengan kondisi di masing-masing organisasi.
  5. Sebuah organisasi perlu memantau perkembangan pasar dan pesaing secara detil sebagai pertimbangan utama dalam penciptaan inovasi baru.

 

Kepustakaan

________. 2014. Modul Kuliah Sistem Informasi Manajemen. Program Studi Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor

Porter, E. Michael. 1990. The Competitive Advantage of Nations. Harvard Business Review 90211

Ratnasari, Ririn Tri and Adistiar Prayoga. 2012. Service Quality in Islamic Perspective. Procedings of 2nd Global Islamic Marketing, Dubai, United Emirates of Arab.

 

Skip to toolbar