You are browsing the archive for Berita.

Profile photo of harts53

by harts53

UAT SIM Take Home

26/03/2015 in Berita

Tugas Individu SIMKelas R. 53

Dosen : Dr. Arief Imam Suroso, MSc(CS)

 

Tanggal Penyerahan        : 26 Maret 2015Batas Penyerahan              : 30 Maret 2015

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS TAKE HOME

 

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

 

 

 

Disusun Oleh :

Harts Muhasibi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER MANAJEMEN DAN BISNIS

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2015

 

 

 

JAWABAN

 

Insourcing dapat diartikan sebagai delegasi dari suatu pekerjaan ke pihak yang ahli (spesialis TI) dalam bidang tersebut dalam suatu perusahaan. Artinya mereka akan dibayar secara penuh oleh perusahaan yang memakai jasanya. Adapun pola kerja menggunakan insourcing bisa berupa kerja fulltime maupun temporer tergantung kebutuhan (Wikipedia 1). Sedangkan Outsourcing adalah sebagai usaha untuk mengontrakkan suatu kegiatan pada pihak luar untuk memperoleh layanan pekerjaan yang dibutuhkan. Outsourcing dianggap salah satu langkah strategis bagi perusahaan dalam menentukan hidup mati dan berkembang tidaknya perusahaan karena penerapan outsourcing memiliki tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang profesional dan berkelas dunia (Wikipedia 2).

 

 

Pendekatan Insourcing

Pola Kerja dalam pendekatan in-sourcing, pengerjaan tugas atau proyek dengan memanfaatkan spesialis IT dalam perusahaan tersebut. Contohnya divisi pemasaran suatu perusahaan membutuhkan sistim CRM untuk di aplikasikan di dalam divisinya, pihak divisi IT membuatkan sistem tersebut untuk divisi pemasaran dan kedua divisi tersebut masih dalam perusahaan yang sama.

Keuntungan pengembangan sistem informasi melalui pendekatan in-sourcing

  1. Perusahaan dapat mengontrol sistem informasinya sendiri.
  2. Biaya untuk pekerja dalam perusahaan biasanya lebih kecil daripada biaya untuk pekerja outsource.
  3. Mengurangi biaya operasional perusahaan, seperti transport, dll.
  4. Kedekatan departemen IT dan end user akan mempermudah komunikasi dalam pengembangan sistem.
  5. Pengembangan sistem dilakukan oleh orang IT, sehingga penerapan software/hardware relative lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  6. Biaya yang lebih murah karena tidak ada kontrak dengan biaya yang besar pada implementasi sistem dengan outsourcing.
  7. Respon yang cepat ketika terjadi masalah dalam sistem karena yang menangani masih dalam perusahaan yang sama .
  8. Fleksibel, karena perusahaan dapat meminta perubahan sistem pada karyawannya sendiri tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.

Kelemahan Penggunakan in-sourcing

  1. Perusahaan perlu memperhatikan masalah investasi dari pengembangan sistem informasi, jangan sampai pengembangan memakan waktu terlalu lama yang akan memangkas biaya lebih lagi.
  2. Mengurangi fleksibilitas strategi.
  3. Supplier yang berpotensi memberikan produk dan layanan yang mahal.
  4. Kinerja karyawan cenderung menurun ketika sudah menjadi pegawai tetap, karena faktor kenyamanan yang dimiliki pegawai tetap.
  5. Tidak ada batasan biaya dan waktu yang jelas, karena tidak ada target. Dan kalaupun ada target, tidak ada punishment yang jelas ketika target tidak tercapai.
  6. Kebocoran data yang dilakukan oleh karyawan IT, dikarenakan tidak ada reward dan punishment yang jelas.
  7. End user tidak terlibat secara langsung, sehingga terdapat kemungkinan hasil implementasi sistem tidak sesuai dengan kebutuhan end user.

Alasan Perusahaan Menggunakan Pendekatan Insourcing

Manajemen perusahaan memilih keputusan ini dikarenakan sumberdaya internal masih cukup mampu menangani pekerjaan tersebut baik secara finansial dan kapabilitas SDM internalnya. Selain itu bila mengambil tenaga dari luar harga produksi menjadi lebih mahal dan tidak efisien.

 

 

Pendekatan Outsourcing

Pendekatan outsourcing merupakan pengalihan tugas ataupun pengerjaan proyek kepada pihak ketiga atau perusahaan ketiga dengan menetapkan jangka waktu dan biaya tertentu dalam proses pengembangan proyeknya.  Pendekatan out-sourcing umumnya dilakukan karena faktor anggaran perusahaan yang terbatas.

Berikut ini adalah gambar diagram yang menunjukkan proses yang dilakukan lewat cara outsourcing.

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai contoh perusahaan yang menggunakan sistem outsourcing, perusahaan terebut membeli sistem CRM yang siap pakai, atau sudah dikembangkan oleh perusahaan outsource seperti sitem CRM dari microsoft. Perusahaan juga dapat meminta perusahaan outsource untuk memodifikasi sistem yang sudah ada agar dapat menunjang kegiatan operasional perusahaan. Selain itu lewat perusahaan outsource perusahaan pengguna outsource dapat meminta untuk mengembangkan sistem informasi yang benar-benar baru atau pengembangan dari dasar.

Keuntungan dari pendekatan outsourcing

Keuntungan perusahaan yang menggunakan pendekatan outsource dalam mengembangkan sistem informasinya adalah :

  1. Perusahaan dapat lebih fokus pada bisnis intinya, karena pekerjaan telah diserahkan pada pihak ketiga untuk dikembangkan.
  2. Dapat melakukan alih skill dan kepandaian yang berasal dari perusahaan atau organisasi lain dalam mengembangkan produk yang diinginkan.
  3. Dapat memprediksi biaya yang dikeluarkan di masa datang
  4. Sistem yang dibangun perusahaan outsource biasanya merupakan teknologi yang terbaru,sehingga dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaan pengguna.
  5. Dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan
  6. Bahasa pemrograman dan database disesuaikan dengan software yang sudah ada, sehingga menjadi seragam
  7. Dapat diintegrasikan dengan software yang telah ada, karena staff IT mengetahui source codenya. Dengan tambahan keuntungan yaitu ditangani oleh tim yang lebih profesional di bidangnya, sehingga software yang dikembangkan lebih bagus kualitasnya.
  8. Secara keseluruhan pendekatan outsourcing termasuk pendekatan dengan biaya yang rendah dibandingkan dengan insourcing, karena risiko kegagalan dapat diminimalisir

Kelemahan Pendekatan Outsource

Kelemahan perusahaan yang menggunakan pendekatan outsource antara lain :

  1. Biayanya lebih mahal dibandingkan mengembangkan sendiri
  2. Kurangnya perusahaan dalam mengerti teknik sistem informasi agar bisa dikembangkan di masa mendatang, karena yang mengembangkan tekniknya adalah perusahaan outsource.
  3. Menurunkan kontrol perusahaan terhadap sistem informasi yang dikembangkan.
  4. Informasi-informasi yang berhubungan dengan perusahaan kadang diperlukan oleh pihak pengembang aplikasi, dan kadang informasi penting juga perlu diberikan, hal ini akan menjadi ancaman bagi perusahaan bila bertemu dengan pihak pengembang yang nakal.
  5. Ketergantungan dengan perusahaan lain yaitu perusahaan pengembang sistem informasi akan terbentuk.

Alasan Penggunaan Pendekatan Secara Outsourcing

Perusahaaan yang menggunakan pendekatan outsourcing lebih menekankan pada tingkat efektivitas suatu pekerjaan. Dengan menggunakan sitem outsourcing akan menyebabkan tercapainya efektifitas dalam pemberdayaan sumberdaya manusia yang dimiliki perusahaan dan perusahaan tidak perlu mengembangkan SDM untuk pekerjaan yang bukan utama, selain itu adalah memberdayakan anak perusahaan dan kesiapan menghadapi kondisi bisnis yang sulit diprediksi.

Hal-hal yang menjadi pertimbangan mereka dalam memilih outsourcing adalah :

  1. Harga.
  2. Reputasi yang baik dari pihak outsourcing provider.
  3. Tenaga kerja yang dimiliki oleh pihak provider outsourcing sesuai dengan yang dibutuhkan oleh perusahaan.
  4. Pihak provider perusahaan mengetahui bentuk dari kegiatan bisnis perusahaan.
  5. Pengalaman pihak provider outsource.
  6. Eksistensinya dan lain-lainnya.

Adapun masalah yang terjadi ketika melakukan penggunaan outsourcing adalah :

  1. Saat penentuan partner outsourcing. Bahwa pihak provider outsourcing harus betul-betul mengetahui apa yang betul-betul di butuhkan oleh pihak perusahaan dan menjaga hubungan yang baik dengan pihak provider outsourcing.
  2. Pelanggaran ketentuan outsourcing. Agar biaya produksi perusahaan berkurang, perusahaan terkadang melanggar ketentuan-ketentuan yang telah di tetapkan sehingga seringah terjadi demo para buruh-buruh yang ada.
  3. Pihak provider outsourcing sering memotong gaji para pekerja tanpa ada batasannya sehingga yang mereka terima menjadi sedikit karna berkurang lebih banyak.

Pro dan Kontra Pendekatan Outsourcing

Pemilihan pendekatan secara outsourcing tentunya terdapat perbedaan pendapat yang mendasarinya. Tabel yang disajikan berikut merupakan pro dan kontra dalam penggunaan pendekatan outsourcing.

Pro-Outsourcing Kontra-Outsourcing
  1. Dapat lebih fokus kepada core business yang sedang di jalankan.
  2. Dapat mengurangi biaya.
  3. Dapat mengubah biaya investasi menjadi biaya belanja.
  4. Tidak dipusingkan jika terjadi turn over tenaga kerja.
  5. Merupakan modernisasi dunia usaha.
  6. Efektivitas manpower.
  7. Tidak perlu membuang-buang waktu dan tenaga untuk suatu pekerjaan yang bukan merupakan inti bisnis atau pekerjaan yang bukan utama.
  8. Memberdayakan anak perusahaan.
  9. Dealing with unpredicted business condition.

 

  1. Status ketenagakerjaan yang tidak pasti.
  2. Adanya perbedaan kompensasi dan benefit antara tenaga kerja internal dengan tenaga kerja outsourcing.
  3. Career path dari outsourcing kurang terencana dan kurang terarah.
  4. Para pihak pengguna jasa dapat memungkin untuk memutuskan hubungan kerjasama dengan pihak outsourcing provider secara sepihak sehingga dapat mengakibatnya status mereka menjadi tidak jelas.

Pemilihan mengenai mana yang akan di gunakan dalam suatu perusahaan, sebenarnya tergantung dari ruang lingkup, budget, resiko, tingkat kegunaan, dan sejauh mana perusahaan memerlukannya. Jika dilihat dari ruang lingkup pekerjaan tersebut tidak terlalu besar dan sangat sederhana, maka jalan insourcing adalah langkah yang terbaik. Tetapi bilamana sudah mencakup area yang lebih luas lagi, mungkin outsourcing adalah jalan keluarnya.  Hal yang terpenting dari pemanfaatan perusahaan outsource adalah bentuk kontrak kerjasama yang dibuat oleh perusahaan pengguna dan perusahaan outsourcing harus tepat dan adil agar kinerja dan kualitas hasil pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan.

 

 

 

 

 

 

Proses pengembangan sistem saat ini menggunakan pendekatan prototipe (prototyping). Metode ini sangat baik digunakan untuk menyelesesaikan masalah kesalahpahaman antara user dan analis yang timbul akibat user tidak mampu mendefinisikan secara jelas kebutuhannya (Mulyanto, 2009).

Prototyping adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja (prototipe) dari aplikasi baru melalui proses interaksi dan berulang-ulang yang biasa digunakan ahli sistem informasi dan ahli bisnis. Prototyping disebut juga desain aplikasi cepat (rapid application design/RAD) karena menyederhanakan dan mempercepat desain sistem (O’Brien, 2005).

Sebagian user kesulitan mengungkapkan keinginannya untuk mendapatkan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kesulitan ini yang perlu diselesaikan oleh analis dengan memahami kebutuhan user dan menerjemahkannya ke dalam bentuk model (prototipe). Model ini selanjutnya diperbaiki secara terus menerus sampai sesuai dengan kebutuhan user.

 

Kelebihan dan Kekurangan

 

Keunggulan Prototyping

 

1)     Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan.

2)     Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan.

3)     Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan sistem.

4)     Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem.

5)     Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yang

diharapkannya

 

 

Kelemahan Prototyping

 

1)     Pelanggan tidak melihat bahwa perangkat lunak belum mencerminkan kualitas

perangkat lunak secara keseluruhan dan belum memikirkan peneliharaan dalam

jangka waktu yang lama.

2)     Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek sehingga

menggunakan algoritma dan bahasa pemrograman sederhana.

3)     Hubungan pelanggan dengan komputer mungkin tidak menggambarkan teknik

perancangan yang baik.

 

 

Aspek maintainability/pemeliharaan meliputi kegiatan pemoitoran,evaluasi, dan modifikasi sistem untuk membuat perbaikan yang diperlukan. Tahap ini merupakan peninjauan pasca implementasi agar sistem yang dikembangkan sesuai dengan spesifikasi sistem yang ingin dibangun. Kesalahan dalam pengembangan atau penggunaan sistem dapat dikoreksi dalam tahap ini. Pemeliharaan ini juga meliputi perbaikan jika ada perubahan lingkungan eksternal.

Menurut McCall, 1997 kriteria yang mempengaruhi kualitas software terbagi menjadi tiga aspek penting yaitu :

  1. Sifat-sifat operasional dari software (Product Operations);
  2. Kemampuan software dalam menjalani perubahan (Product Revision)
  3. Daya adaptasi atau penyesuaian software terhadap lingkungan baru (Product Transition).

Tentunya maintanability perannya sangat penting dalam mengimplemetasikan suatu sistem di organisai karena, Setelah sebuah software berhasil dikembangkan dan diimplementasikan, akan terdapat berbagai hal yang perlu diperbaiki berdasarkan hasil uji coba maupun evaluasi. Sebuah software yang dirancang dan dikembangkan dengan baik, akan dengan mudah dapat direvisi jika diperlukan. Seberapa jauh software tersebut dapat diperbaiki merupakan faktor lain yang harus diperhatikan.

Proses maintenance software yang dilakukan secara rutin dan berkala akan membuat perusahaan dapat dengan mudah melakukan penyesuaian terhadap lingkungan bisnis yang terus berkembang dan memanfaatkan peluang bisnis yang ada untuk mencapai tujuan perusahaan. Selain itu pentingnya pemeliharaan (maintenance) dan pengembangan suatu software atau sistem bertujuan agar software selalu dalam keadaan siap pakai.

 

Konversi system merupakan tahapan yang digunakan dalam rangka menggantikan sistem IT yang lama atau proses pengubahan dari system lama ke sistem baru. Tingkat kesulitan dan kompleksitas dalam pengkonversian dari system lama ke sistem baru tergantung pada sejumlah faktor. Jika sistem baru merupakan paket perangkat lunak terbungkus (canned) yang akan berjalan pada komputernya yang baru, maka konversi akan relatif lebih mudah. Jika Konversi memanfaatkan perangkat lunak terkustomisasi baru, database baru, perangkat komputer dan perangkat lunak kendaii baru, jaringan baru dan perubahan drastis dalam prosedumya, maka konversi menjadi agak sulit dan menantang.

Terdapat empat metode konversi sistem, yaitu :

  1. Konversi Langsung (Direct Conversion)

Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru. Konversi langsung pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama yang kadang-kadang disebut pendekatan cold turkey. Dengan sistem langsung ini apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama.

Asumsi dari penggunaan sistem ini diantaranya:
a. Data sistem yang lama bias digantikan sistem yang baru
b. Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai.
c. Sistem yang barn bersifat kecil atau sederhana atau keduanya.
d. Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem – sistem tersebut tidak berarti.

Pemilihan sistem bisa di lakukan dengan pendekatan sesuai untuk kondisi-kondisi sebagai berikut:
a. Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain.
b. Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai.
c. Sistem yang baru bersifat kecil atau sederhana atau keduanya.
d. Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem – sistem tersebut tidak berarti.

Kelebihan dari sistem konversi langsung ini yaitu sistem ini relatif murah, namun memiliki resiko kegagalan yang cukup besar.
Gambar 1. Konversi Langsung

  1. Konversi Paralel (Parallel Conversion)

Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa période waktu. Pada konversi ini, sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Sistem paralel ini yaitu merupakan pendekatan yang paling aman dan memberikan derajat proteksi yang tinggi kepada perusahaan dari kegagalan sistem baru. Namun perlu biaya yang cukup mahal, karena pemakai harus menjalankan dua sistem sekaligus. Besarnya biaya ini harus di keluarkan untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.
Gambar 2. Konversi Paralel

  1. Konversi Bertahap (Phase-In Conversion)

Konversi dilakukan dengan menggantikan suatu bagian dari sistem lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Dengan metode phased conversion, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, dan secara perlahan menggantikan sistem lama. Konversi bertahap dapat menghindarkan risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk beradaptasi terhadap perubahan. Untuk menggunakan metode phased conversion, sistem harus disegmentasi. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Kelebihan dari sistem konversi ini yaitu kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi, dan sumber-sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama période waktu yang luas. Sedangkan kelemahannya yitu keperluan biaya yang harus diadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi, sebab orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.

Sistem konversi ini dianggap lebih aman daripada konversi langsung. Dengan metode Konversi Phase-in, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, yang secara sedikit demi sedikit mengganti yang lama. la menghindarkan dari risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan. Untuk menggunakan metode phase-in, sistem harus disegmentasi.
Kelebihan dari penggunaan sistem ini adalah kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi, dan sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama période waktu yang luas. Namun diperlukan biaya khusus untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama. Selain itu daya terapnya terbatas dan kemungkinan bisa terjadi kemunduran semangat, dikarenakan orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.
Gambar 3. Konversi Bertahap

  1. Konversi Pilot (Pilot Conversion)

Jika metode phase-in mensegmentasi sistem, metode pilot ini mensegmentasi organisasi. Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko yang rendah. Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasilah yang mencoba mengembangkan sistem baru.

Kelebihan dari Konversi pilot ini adalah resiko lebih kecil dibanding konversi langsung, lebih murah daripada konversi paralel, koreksi kesalahan dapat dilakukan sebelum implementasi. Namun memerlukan area dari operasi untuk uji coba.
Gambar 4. Konversi Pilot
Referensi :

ymukhlis.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/8259/Konversi+Sistem.pdf

http://anittaratna.blogspot.com/2010/06/dkonversi-sistem.html

http://abhique.blogspot.com/2012/11/metode-prototyping-dalam-pengembangan.html

http://agustrijaya.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/12/software-maintability/

http://blogstudent.mb.ipb.ac.id/2015/01/15/konversi-sistem-informasi-dalam-perusahaan/

Read the rest of this entry →

UAT SIM (Dosen: Dr. Ir. Arif Imam Suroso ,M.Sc.(CS)

25/03/2015 in Berita

JAWABAN SOAL UJIAN AKHIR TRIWULAN
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Dosen: Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc. (CS)

Nama : Shanti Agustina
NIM : P056143161.53
Angkatan : R.53

1. Jelaskan bagaimana pengembangan sistem informasi dengan menggunakan pendekatan insourcing atau outsourcing di perusahaan dapat dilakukan! Jelaskan pula hal-hal yang mempengaruhi kesuksesan dalam pengembangan sistem tersebut!

Jawaban:
Pengembangan sistem informasi dengan pendekatan insourcing adalah bahwa perusahaan melakukan pengembangan sistem informasi menggunakan sumberdaya yang perusahaan miliki (mengembangkan sendiri sistem informasinya), sedangkan pengembangan sistem informasi outsorcing adalah pengembangan sistem informasi perusahaan dengan bantuan pihak ketiga.
Perusahaan melakukan pilihan pengembangan secara insourcing atau outsorcing berdasarkan pertimbangan beberapa hal:
• Berdasarkan jumlah budjet yang dianggarkan
Berdasarkan jumlah budjet yang dianggarkan maka ada beberapa tipe keputusan insourcing dan outsorcing yakni:
1. De facto insourcing: semua pengembangan sistem dan operasinya dilakukan oleh internal perusahaan (oleh departemen sistem informasi atau departemen TI) atau dapat dikatakan 100 persen budjet untuk insourcing.
2. Total insourcing: sebagian besar (sekitar 80 persen budjet) dari pengembangan dan kegiatan operasi TI dilakukan secara internal oleh departemen TI.
3. Selective outsourcing: sebagian besar (sampai 80 persen budjet) pengembangan dan operasi TI yang diseleksi dikembangkan dan dioperasikan oleh penyedia jasa outsourcing/pihak ketiga.
4. Total outsourcing: sebagian besar (lebih dari 80 persen budjet) pengembangan dan operasi kegiatan IT diserahkan kepada penyedia jasa luar.
• Berdasarkan jenis aplikasinya: stratejik atau kritikal.
Tidak semua aplikasi dapat dioutsourcingkan. Jika aplikasi yang bersifat stratejik di outsource-kan maka perusahaan akan kehilangan keuntungan kompetisinya sehingga aplikasi tersebut tidak menjadi stratejik lagi. Dikhawatirkan outsourcer dapat menyediakan jasa yang sama kepada pesaing sehingga pesaing dapat mempunyai aplikasi yang sama.
Aplikasi yang bersifat kritikal juga tidak dapat dioutsource-kan, dengan alasan apabila terjadi gangguan dengan aplikasinya maka akan terlambat untuk mengatasinya karena aplikasi tersebut dikerjakan ditempat outsourcer yang terpisah dari tempat perusahaan.
Contoh aplikasi yang dapat dioutsource-kan adalah aplikasi akuntansi dan aplikasi penggajian.
Contoh aplikasi yang tidak dapat dioutsource-kan adalah reservasi tiket pesawat terbang.

• Berdasarkan kontribusi aktivitas Teknologi Informasi tersebut terhadap operasi dan posisi bisnis
Terdapat dua dimensi untuk mengevaluasi keputusan outsourcing berdasarkan kontribusi aktivitas TI tersebut terhadap operasi dan posisi bisnis:
1. Kontribusi TI terhadap posisi bisnis, yang dapat terdiri dari:
a. Differensiasi: yaitu aktivitas TI memberi kontribusi posisi bisnis yang stratejik yang dapat membuat perusahaan berbeda dengan perusahaan yang lainnya.
b. Komoditas: yaitu aktivitas TI hanya seperti komoditas biasa tidak menyumbangkan posisi stratejik pada perusahaan.
2. Kontribusi TI terhadap operasi bisnis , yang dapat terdiri dari:
a. Ktitikal: yaitu TI digunakan untuk operasi bisnis yang kritikal
b. Berguna: yaitu TI sangat berguna untuk digunakan pada operasi bisnis , tetapi
bukan untuk operasi bisnis yang kritikal.
• Berdasarkan atas analisis strategic grid.
Mc. Farlan dan McKenney’s strategic grid dapat digunakan untuk menganalisis kontribusi TI terhadap posisi stratejik perusahaan. Posisi perusahaan didalam stratejik grid ditentukan oleh 2 dimensi, yaitu 1) ketergantungan operasi perusahaan terhadap TI sekarang dan yang ke 2) portofolio pengembangan aplikasi –aplikasi TI dimasa depan (ketergantungan operasi perusahaan terhadap TI dimasa depan).

McFarlan and McKenney’s strategic grid
Factory
Keputusan Outsourcing : Ya
Alasan untuk outsourcing:
 Kualitas lebih baik untuk jasa outsourcing
 Kualitas lebih baik dari back up
 Focus manajemen berbeda
 Fibber optic dan teknologi komunikasi memfasilitasi solusi TI internasional Strategic
Keputusan outsourcing: Tidak
Alasan mempertimbangkan outsourcing:
 Membebaskan dari unit TI internal yang diluar kendali
 Mengurangi investasi
 Memfasilitasi fleksibilitas biaya
 Memfasilitasi manajemen pemisahan operasi (divestiture)
Support
Keputusan outsourcing: Ya
Alasan untuk outsourcing:
 Akses ke TI yang lebih profesonal
 Kemungkinan untuk mengeluarkan karyawan kecil yang bermasalah
 Mengurangi risiko arsitektur TI yang tidak tepat. Turnaround
Keputusan outsourcing:tidak
Alasan mempertimbangkan outsourcing:
 Unit TI internal tidak mempunyai teknologi yang dibutuhkan,
 Unit TI Internal tidak mempunyai kemampuan manajemen proyek TI .
Rendah Tinggi

10 alasan perusahaan melakukan outsourcing: 1)Mengurangi dan mengatur biaya operasi 2) Meningkatkan pencapaian focus perusahaan (visi dan misi) 3) Mendapatkan akses ke kemampuan/kualitas kelas dunia 4) Sumber daya internal bisa digunakan untuk kepentingan perusahaan 5) Mempercepat manfaat rekayasa ulang 6) Sumberdaya yang diperlukan tidak tersedia secara internal 7) Sulit untuk mengelola fungsi secara internal (diluar kendali) 8) Membuat tersedianya dana / modal 9) Membagi resiko 10) Adanya infus/aliran kas
Hal –hal yang mempengaruhi kesuksesan penerapan proses outsorcing
 Memahami tujuan perusahaan
 Perencanaan strategi dan visi organisasi
 Memilih vendor yang tepat
 Hubungan manajemen yang sedang berlangsung
 Kontrak terstrukur dengan baik
 Komunikasi yang terbuka dengan individu /kelompok dalam perusahaan
 Dukungan dan keterlibatan eksekutif senior
 Perhatian terhadap isu-isu pribadi
 Kejelasan kondisi keuangan jangka pendek
 Penggunaan keunggulan dari pihak lain.

2. Mengapa pengembangan” prototyping” menjadi sangat popular dalam pengembangan sistem/ aplikasi bisnis? jelaskan! apa keuntungan dan kelemahan dari pendekatan prototyping? jelaskan!

Jawaban:
Prototyping merupakan pengembangan sistem teknologi informasi secara bertahap, yaitu dengan mengembangkan suatu prototip yang sederhana dulu dan ditingkatkan dari waktu kewaktu sampai sistem teknologi informasi selesai dikembangkan . Prototip dikembangkan oleh sistem analis dan hasil dari sistem teknologi informasi dioperasikan langsung oleh pemakai sistem.

Prototyping adalah proses pengembangan suatu prototip secara cepat untuk digunakan terlebih dahulu dan ditingkatkan terus menerus sampai didapatkan sistem yang utuh. Proses membangun sistem ini yaitu dengan membuat prototip atau model awal, mencobanya, meningkatkannya dan mencobanya lagi dan meningkatkannya dan seterusnya sampai didapatkan sistem yang lengkap yang disebut dengan proses iteratif (iterative process) dari pengembangan sistem.

Pertimbangan mengapa memilih metode prototyping dalam pengembangan sistem/apikasi bisnis sehingga prototyping menjadi sangat popular adalah karena metode prototyping dapat digunakan untuk mengembangkan sistem /aplikasi bisnis yang harus segera dioperasikan, jika tidak maka permasalahan tersebut sudah terlambat/basi dan keputusan menjadi terlambat.

Gambar 1. Diagram/alur membangun prototip

Keuntungan membangun prototyping adalah:
 Jika sistem yang dikembangkan ingin digunakan secepatnya karena keputusan yang akan diambil manajer merupakan keputusan yang harus segera dilakukan dengan berdasarkan pada informasi yang diberikan oleh sistem.
 Terjadi ketidakpastian terhadap rancangan dari sitem yang dapat berubah dengan berjalannya waktu disebabkan karena kebutuhan informasi pemakai sistem belum jelas. Dengan prototyping sistem akan selalu ditingkatkan jika kebutuhan pemakai dari waktu ke waktu muncul dan dibutuhkan.
 Prototyping mendorong partisipasi dan keterlibatan pemakai sistem dalam pengembangan sistem karena sistem akan terus ditingkatkan dari hasil saran-saran yang diberikan oleh pemakai sistem.
Sedangkan kelemahan dari pendekatan prototyping adalah:
 Kualitas sistem akan berkurang disebabkan sistem tidak dirancang secara terintegrasi sehingga dapat menyebabkan integrasi basis data kurang baik dan hubungan satu bagian dan bagian lain di sistem kurang terintegrasi.
 Dokumentasi dari sistem kurang baik dibandingkan dengan yang diberikan SDLC (System Development Life Cycle) yang sudah terancang dengan baik.

3. Maintainability merupakan salah satu karakteristik dari berkualitas tidaknya suatu software. Jelaskan urgensi maintainaibility ini dalam konteks implementasi suatu sistem informasi di organisasi!
Jawaban:
Menurut ISO (International Organization for standarization) 9126, software berkualitas memiliki beberapa karakteristik seperti tercantum pada tabel berikut:
Karakteristik Sub karakteristik
Functionality: kemampuan software untuk menjalankan fungsinya sebagaimana kebutuhan sistemnya. Suitability, accuracy, interoperability, security
Reliability: kemampuan software untuk dapat tetap tampil sesuai dengan fungsi ketika digunakan. Maturity, Fault tolerance, Recoverability
Usability: kemampuan software untuk menampilkan performans relatif terhadap penggunaan sumberdaya. Understanbility, Learnability, Operability, Attractiveness
Efficiency: kemampuan software untuk menampilkan performans relatif terhadap penggunaan sumberdaya. Time behaviour, Resource Utilization
Maintainability: kemampuan software untuk dimodifikasi (korreksi, adaptasi, perbaikan) Analyzability, Changeability, Stability, Testability
Portability: kemampuan software untuk ditransfer dari satu lingkungan ke lingkungan lain. Adaptability, Installability

Jadi sebuah software dikatakan berkualitas apabila memiliki enam karakteristik yang disebutkan diatas, salah satu karakteristik itu adalah maintainability. Maintainability adalah usaha yang diperlukan untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan dalam software. Maintanability juga disebut sebagai pemeliharaan sistem. Dimana setelah sebuah software berhasil dikembangkan dan diimplementasikan, akan terdapat berbagai hal yang perlu diperbaiki berdasarkan hasil uji coba maupun evaluasi. Sebuah software yang dirancang dan dikembangkan dengan baik, akan dengan mudah dapat direvisi jika diperlukan.
Perawatan perangkat lunak (software maintenance) adalah aktivitas yang dimulai sejak perangkat lunak mulai digunakan (after delivery) hingga akhirnya perangkat lunak tersebut tidak dapat digunakan lagi (retired). Tujuannya adalah untuk memperbaiki kesalahan (to correct), meningkatkan kinerja (to improve), menyesuaikan dengan kebutuhan (to adapt), atau untuk mencegah terjadinya kesalahan (to prevent).
Urgensi maintainability dari suatu software adalah pentingnya perawatan/pemeliharaan dan pengembangan suatu software. Tujuannya adalah agar software selalu dalam keadaan siap pakai. Dalam waktu tertentu tidak menutup kemungkinan software mengalami kerusakan atau perlu disempurnakan lagi, maka disitulah pentingnya maintainability.
Beberapa alasan mengapa suatu sistem informasi perlu dipelihara adalah sebagai berikut :
1. Perlu memperbaiki kesalahan-kesalahan sistem karena sistem memiliki kesalahan yang dulunya belum terdeteksi.
2. Adanya perubahan-perubahan sistem karena permintaan baru dari pemakai sistem.
3. Terjadi perubahan sistem karena perubahan lingkungan luar (perubahan bisnis).
4. Sistem perlu ditingkatkan.
Pemeliharaan sistem ini dapat digolongkan menjadi empat bagian, antara lain :
1. Pemeliharaan Korektif
Pemeliharaan korektif adalah bagian pemeliharaan sistem yang tidak begitu tinggi nilainya dan lebih membebani, karena pemeliharaan ini mengkoreksi kesalahan-kesahan yang ditemukan pada saat sistem berjalan.
2. Pemeliharaan Adaptif
Pemeliharaan adaptif dilakukan untuk menyesuaikan perubahan dalam lingkungan data atau pemrosesan dan memenuhi persyaratan pemakai baru. Lingkungan tempat sistem beroperasi adalah dinamik, dengan demikian, sistem harus terus merespon perubahan persyaratan pemakai.
3. Pemeliharaan Penyempurnaan
Pemeliharaan penyempurnaan mempertinggi cara kerja atau maintainabilitas (kemampuan untuk dipelihara). Tindakan ini juga memungkinkan sistem untuk memenuhi persyaratan pemakai yang sebelumnya tidak dikenal. Sebagai contoh, kegiatan pemeliharaan ini dapat berbentuk perekayasaan ulang atau restrukturisasi perangkat lunak, penulisan ulang dokumentasi, pengubahan format dan isi laporan, penentuan logika pemrosesan yang lebih efisien, dan pengembangan efisiensi pengoperasian perangkat.
4. Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan Preventif terdiri atas inspeksi periodik dan pemeriksaan sistem untuk mengungkap dan mengantisipasi permasalahan.
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa maintainability merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan kemampuan software untuk menjalani perubahan yang terjadi. Software maintenance merupakan aktivitas yang pertama kali dilakukan sejak perangkat lunak mulai dioperasikan sampai pada akhirnya perangkat lunak tersebut tidak dioperasikan atau digunakan lagi. Dengan adanya proses software maintenance yang dilakukan secara rutin dan berkala, perusahaan dapat dengan mudah melakukan penyesuaian terhadap lingkungan bisnis yang terus berkembang dan memanfaatkan peluang bisnis yang ada untuk mencapai tujuan perusahaan. Selain itu pentingnya pemeliharaan (maintenance) dan pengembangan suatu software atau sistem bertujuan agar software selalu dalam keadaan siap pakai.

4. Jelaskan bagaimana konversi sistem informasi dapat dilakukan!
Konversi sistem merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan IT dalam rangka menggantikan sistem yang lama atau proses pengubahan dari sistem lama ke sistem baru. Tingkat kesulitan dan kompleksitas dalam pengkonversian dari sistem lama ke sistem baru tergantung pada sejumlah faktor:
1) Konversi sistem akan relative lebih mudah jika sistem baru merupakan paket perangkat lunak terbungkus (canned) yang akan berjalan pada komputernya yang baru.
2) Konversi akan menjadi lebih sulit dan menantang jika konversi memanfaatkan perangkat lunak terkustomisasi baru, database baru, perangkat komputer dan perangkat lunak kendali yang baru, jaringan baru dan adanya suatu perubahan drastis dalam prosedurnya.
Terdapat empat metode konversi sitem yang biasa dilakukan pada sistem informasi, yaitu:
1. Konversi Langsung (Direct Conversion)
Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru. Cara ini merupakan yang paling berisiko, tetapi murah. Konversi langsung adalah pengimplementasian sistem baru dan pemutusan jembatan sistem lama, yang kadang-kadang disebut pendekatan cold turìey. Apabila konversi telah dilakukan, maka tak ada cara untuk balik ke sistem lama. Pendekatan atau cara konversi ini akan bermanfaat apabila :
1)Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain.2)Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai. 3) Sistem yang baru bersifat kecil atau sederhana atau keduanya.4) Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem– sistem tersebut tidak berarti.
Gambar 2. Ilustrasi konversi langsung
2. Konversi Paralel (Parallel Conversion)
Pada konversi ini, sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan. Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman tetapi merupakan cara yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua system sekaligus. Konversi Paralel adalah suatu pendekatan dimana baik sistem lama dan baru beroperasi secara serentak untuk beberapa période waktu dan kebalikan dari konversi langsung. Dalam mode konversi paralel, output dari masing-masing system tersebut dibandingkan, dan perbedaannya direkonsiliasi.

Gambar 3. Ilustrasi konversi parallel

3. Konversi Bertahap (Phase-In Conversion)
Konversi ditakukan dengan menggantikan suatu bagian dari system lama dengan system baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul modul lama yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Cara seperti ini lebih aman daripada konversi langsung. Dengan metode Konversi Phase-in, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, yang secara sedikit demi sedikit mengganti sistem yang telah diterapkan sejak lama/terdahulu. la menghindarkan
dari risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan. Untuk menggunakan metode phase-in, sistem harus disegmentasi.

Gambar 4. Ilustrasi Konversi Bertahap
4. Konversi Pilot (Pilot Conversion)
Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi
tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan
diperluas ke tempat-tempat yang lain. Ini merupakan pendekatan dengan biaya dan risiko
yang rendah. Dengan metode konversi pilot, hanya sebagian dari organisasilah yang
mencoba mengembangkan sistem baru. Kalau metode phase-in mensegmentasi sistem,
sedangkan metode pilot mensegmentasi organisasi.

Gambar 5. Ilustrasi Konversi pilot
Kelebihan dan kelemahan dari 4 tipe konversi sistem informasi:
No Tipe konversi sistem Kelebihan Kelemahan
1. Direct conversion Relatif tidak mahal Mempunyai resiko kegagalan yang tinggi
Apabila konversi langsung akan digunakan, aktivitas-aktivitas pengujian dan -pelatihan yang dibahas sebelumnya akan mengambil peran yang sangat penting.
2. Parallel conversion Memberikan tingkat proteksi yang tinggi kepada organisasi dari kegagalan sistem baru.
Besarnya biaya untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebu.
Ketika proses konversi suatu sistem baru melibatkan operasi paralel, maka orang-orang pengembangan sistem harus merencanakan untuk melakukan peninjauan berkala dengan personel operasi dan pemakai.
3. Phase-in conversion Kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi, dan sumber sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama période waktu yang luas.
Keperluan biaya yang harus diadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi, sebab orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem.
4. Pilot conversion Pendekatan dengan biaya dan resiko yang rendah Hampir tidak ada
Metode Untuk Mengkonversi File Data Yang Ada
Keberhasilan konversi sistem sangat tergantung pada seberapa jauh profesional sistem menyiapkan penciptaan dan pengkonversian file data yang diperlukan untuk sistem baru. Dengan mengkorversi suatu file, maksudnya adalah bahwa file yang telah ada {existing ) harus dimodifikasi setidaknya dalam : Format file tersebut
 Isi file tersebut
 Media penyimpanan dimana file ditempatkan dalam suatu konversi sistem, kemungkinan beberapa file bisa mengalami ketiga aspek konversi tersebut secara serentak.
Ada dua metode dasar yang bisa digunakan untuk menjalankan konversi file :
1. Konversi File Total : konversi jenis total dapat digunakan bersama dengan semua metode konversi file sistem di atas.
2. Konversi File Gradual : dilakukan secara (sedikit demi sedikit) terutama digunakan dengan metode paralel dan phase-in. Dalam beberapa contoh, ia akan bekerja untuk metode pilot. Umumnya konversi file gradual tidak bisa diterapkan untuk konversi sistem langsung.
1.Konversi File Total
Jika file sistem baru dan file sistem lama berada pada media yang bisa dibaca komputer, maka bisa dituliskan program sederhana untuk mengkonversi file dari format lama ke format baru. Umumnya pengkonversian dari satu sistem komputer ke sistem yang lain akan melibatkan tugas-tugas yang tidak bisa dikerjakan secara otomatis. Rancangan file baru hampir selalu mempunyai field-field record tambahan, struktur pengkodean baru, dan cara baru perelasian item-item data (misalnya, file-file relasional). Seringkali, selama konversi file, kita perlu mengkonstruksi prosedur kendali yang rinci untuk memastikan integritas data yang bisa digunakan setelah konversi itu.
Dengan menggunakan klasifikasi file berikut, perlu diperhatikan jenis prosedur kendali yang digunakan selama konversi :
 File Master: Ini adalah file utama dalam database. Biasanya paling sedikit satu file master diciptakan atau dikonversi dalam setiap konversi sistem.
 File Transaksi: File ini selalu diciptakan dengan memproses suatu sub-sistem individual di dalam sistem informasi. Akibatnya, ia harus dicek secara seksama selama pengujian sistem informasi.
 File Indeks: File ini berisi kunci atau alamat yang menghubungkan berbagai file master. File indeks baru harus diciptakan kapan saja file master yang berhubungan dengannya mengalami konversi.
 File Tabel: File ini dapat juga diciptakan dan dikonversi selama konversi sistem. File tabel bisa juga diciptakan untuk mendukung pengujian perangkat lunak.
 File Backup: Kegunaan file backup adalah untuk memberikan keamanan bagi database apabila terjadi kesalahan pemrosesan atau kerusakan dalam pusat data. Oleh karenanya, ketika suatu file dikonversi atau diciptakan, file backup harus diciptakan.

2. Konversi File Gradual
Beberapa perusahaan mengkonversi file-file data mereka secara gradual (sedikit demi sedikit). Record-record akan dikonversi hanya ketika mereka menunjukkan beberapa aktivitas transaksi. Record-record lama yang tidak menunjukkan aktivitas tidak pernah dikonversi. Metode ini bekerja dengan cara berikut :
1. Suatu transaksi diterima dan dimasukkan ke dalam sistem.
2. Program mencari file master baru (misalnya file inventarisasi atau file account receivable) untuk record yang tepat yang akan di update oleh transaksi itu. Jika record tersebut telah siap dikonversi, berarti peng-update-an record telah selesai.
3. Jika record tersebut tidak ditemukan dalam file master baru, file master lama diakses untuk record yang tepat, dan ditambahkan ke file master baru dan di update.
4. Jika transaksi tersebut adalah record baru, yakni record yang tidak dijumpai pada file lama maupun file baru (misalnya, pelanggan baru), maka record baru disiapkan dan ditambahkan ke file master baru.
Hal ini bisa terjadi dikarenakan beberapa hal diantaranya : Pengendalian yang kurang baik selama proses SDLC itu sendiri, permintaan user dan tujuan pengembangan sistem tidak sejalan, kurangnya keterlibatan stakeholder (termasuk internal auditor), minimnya dukungan dari manajemen, manajemen proyek yang kurang baik, teknologi dan arsitektur yang digunakan tidak cocok, scope variations, melebihi batasan waktu yang telah disepakati, melebihi anggaran yang ditetapkan, kualitas sistem kurang baik, kurangnya perhatian atas keamanan dan pengendalian (termasuk validasi dan audit trail) dalam sistem aplikasi, kriteria kinerja tidak tercapai, manajemen SDM yang kurang baik, kemampuan staff yang terlibat kurang baik, dokumentasi tidak dilakukan dengan baik, perlindungan kontrak yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan, pemilihan SDLC atau metode pengembangan sistem yang kurang sesuai, kurangnya perhatian atas interdependensi dengan aplikasi atau proses lain, inadequate configuration management, insufficient Planning for data conversion/migration and cutover, post cut-over distuption to business.
Sumber:
Jogiyanto, HM. 2003. Sistem Teknologi Informasi. Penerbit ANDI: Yogyakarta
O’Brien, JA. 2005. Pengantar Sistem Informasi. Penerbit Salemba Empat:Jakarta.

Profile photo of yaya52e

by yaya52e

Kata – Kata Inspiratif

17/03/2015 in Berita

 

suka cokelat” Bahagia karena Cokelat “

CHOCOLATE WARS

16/03/2015 in Berita

Graduate Student of  Management and Business, Bogor Agricultural University

Marketing Class E-52 – March 16, 2015

Lecture by Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc  

Inspirational Quotes :

1. Hershey’s the american chocolate

2. Hershey’s : If we had helped a hundred children it would have all been worthwhile

Perang Coklat HERSHEY dan MARS

16/03/2015 in Berita

Kata- kata inspiratif dari video perang coklat Hershey Dan Mars:

1. Hershley dengan iklannya: Hersley coklat Amerika
Menunjukkan bahwa orang Amerika sangat cinta produknya
sendiri.
2. Mars dengan iklannya: tidak hancur di tangan, hancur di
mulut.
3. Iklan dapat menyampaikan pesan.
4. Kegigihan akan mendatangkan sukses
5. Kemampuan menangkap peluang dan kesempatan mendatangkan
sukses

Profile photo of MULYADI

by MULYADI

“Chocolate War” Inspired Me

15/03/2015 in Berita

KULIAH MANAJEMEN PEMASARAN
Angkatan E-52
Dosen : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

Berdasarkan video “Chocolate War” yang kami lihat pada mata kuliah Manajemen Pemasaran dengan
dosen Prof DR.Ir. Ujang Sumarwan ,MSc, sekalipun menceritakan mengenai persaingan yang
luar biasa antara Hershey’s dan Mars banyak sekali value yang dapat dipetik dan strategi marketing yang sangat jitu dilakukan kedua produsen tersebut untuk memenangkan persaingan pasar.

Quote Pertama yang dapat diambil antara lain :

“Mengambil Pangsa Pasar Sebanyak Yang Kamu Bisa”

Pada saat Hershey menjadi icon untuk merk coklat di Amerika, Mars langsung merebut pasar coklat dengan menyupply produk coklatnya ke supermarket-supermarket sehingga menggeser penjualan Hershey. Dimana dengan stretegi produknya yang selalu terlihat di outlet-outlet supermarket meningkatkan pangsa pasar serta penjualan dari produknya tersebut.
Persaingan Hershey dan Mars sangat sengit, mulai dari persaingan dalam strategi pemasaran melaui promosi produk dengan iklan yang besar-besaran, inovasi produk yang beraneka ragam, pengembangan segmentasi pasar mulai dari dewasa, anak-anak bahkan kalangan militer. Target pasar pun menjadi hal yang diperebutkan. Namun dengan adanya kompetisi dalam memperebutkan konsumen, membuat kedua perusahaan ini selalu berpikir secara kreatif untuk membuat strategi-strategi pemasaran yang jitu agar penjualan produk merek semakin meningkat.

Quote Kedua yang dapat diambil antara lain :

“Sebagus Apapun Produk Anda Tidak Akan Diketahui Konsumen Tanpa Pemasaran”

Mars dan Hershey berlomba-lomba dalam mempromosikan produk mereka dengan membuat iklan semenarik mungkin untuk menggaet konsumen agar membeli produk mereka. Mars meningkatkan penjualannya dengan menayangkan iklan animasi kartun yang ditujukan untuk anak-anak. Karakter kartun tersebut dibuat semenarik mngkin dengan menggunakan warna-warna yang colourfull menggambarkan produk andalam Mars yaitu permen coklat M&M. Selain itu, Mars juga mencetak nama selebriti pada piklan produk mereka sehingga mudah diingat oleh konsumen. Sementara Hershey pun semakin gencar mengejar ketinggalannya dalam mempromosikan produk, Hershey pun menjadi icon Amerika yaitu “American Chocolate (coklatnya orang Amerika). Harshey bekerjasama dengan industri film yaitu film E.T dan penjualan Hershey pun menjadi meningkat. Dimana pada awalnya hershey merupakan produsen chocolate yang tanpa ada departemen pemasaran, dan menyadari persaingan tersebut maka dilakukan perubahan pada strategi pemasaran untuk hershey dalam menghadapi persaingan tersebut.

mars and Hershey

Hershey VS Mars

15/03/2015 in Berita

“Terdapat perang yang sangat pahit dibalik manisnya bisnis coklat”

 “Untuk sukses yang dibutuhkan adalah kegilaan, keberanian dan sekantung mimpi”

Kesan Pertama Kuliah Manajemen Pemasaran

15/03/2015 in Berita

MARKETING CLASS
Lecturer
Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc.
(www.ujansumarwan.blog.mb.ipb.ac.id, www.sumarwan.staff.ipb.ac.id, sumarwan@mb.ipb.ac.id)
Dr. Ir. Hartoyo, M.Sc.
Dr. Ir. Dodik Nur Rachmat, M.Sc.F.
Dr. Kirbandoko, M.S.M.
Dr. Ir. Mukhammad Najib, M.M

Pada kuliah pertama yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. saya mendapatkan ilmu baru mengenai rencana pemasaran. Beliau memaparkan dengan sangat baik, terkait materi tersebut. Dari keseluruhan materi tersebut yang menarik buat saya adalah mengenai analisis lingkungan, yang terdiri dari :

  1. Analisis SWOT
  2. Analisis Industri
  3. Identifikasi Pesaing
  4. Analisis Pelanggan.

Yang pertama adalah terkait dengan SWOT, dimana kita harus menganalisis secara subjektif kekuatan dan kelemahan yang dimiliki organisasi kita secara keseluruhan. Selain itu juga kita harus bisa melihat peluang dan ancaman bagi perusahaan dari faktor konsumen, sosial, ekonomi, persaingan, perkembangann teknologi, peraturan dan perundang-undangan serta perdagangan global dan perkembangan masyarakat ekonomi ASEN.

Selanjutnya adalah analisis industri dimana kita melihat perkembangan dan pertumbuhan industri yang kita geluti. Bagaimana situasi yang ada sekarang berdampak pada bisnis yang kita jalankan.

Yang ketiga adalah identifikasi pesaing mengenai kelemahan dan kelebihan yang mereka punya. Produk-produk apa saja yang mereka hasilkan dan bagaimana pasar merespon atas produk tersebut.

Dan yang terakhir adalah analisis pelanggan, yaitu kita melihat karakteristik pelanggan perusahaan kita. Bagaimana trend konsumen yang ada yang akan berdampak pada permintaan produk yang kita produksi.

Selain analisis lingkungan, strategi apa yang akan digunakan perusahaan untuk produk dan merk yang akan dipasarkan juga merupakan salah satu pembahasan yang menarik dari Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc., strategi tersebut adalah :

  1. Overall cost leadership, yaitu strategi untuk menekan dan mengendalikan biaya produksi yang rendah sehingga mampu memberikan harga yang lebih murah kepad aproduk-produknya
  2. Differentiation, yaitu membuat produk yang memiliki fitur atau karakteristik yang tidak dapat diciptakan perusahaan pesaing dan fitur tersebut dapat memberikan nilai tambah
  3. Focus, yaitu memfokuskan kepada pelanggan tertentu, produk tertentu atau pasar tertentu
  4. Product or service alliances, yaitu memberikan lisensi kepada perusahaan lain untuk memproduksi produknya atau bermitra dengan perusahaan lain untuk memasarkan produk barunya
  5. Promotional alliances, yaitu bekerjasama dengan perusahaan lain untuk memasarkan produk perusahaan dengan mitra tersebut atau meminta perusahaan lain untuk memasarkan produk perusahaan
  6. Logistics alliances, yaitu meminta perusahaan lain untuk mendistribusikan produknya
  7. Pricing collaboration, yaitu bermitra dengan perusahaan lain untuk memasarkan produk masing-masing bersama-sama dengan menetapkan harga tunggal dari dua atau lebih produk dari kedua perusahaan yang bermitra.

Text Book
Ujang Sumarwan (editor). 2015. Pemasaran Strategic: Perspektif Perlilaku Konsumen dan Marketing Plan. IPB Press.
Silahkan download e-book:
2015 01 BUKU Pemasaran Strategik Perspektif Perilaku Konsumen dan Marketing Plan

http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/files/2015/01/2015-01-BUKU-Pemasaran-Strategik-Perspektif-Perilaku-Konsumen.pdf

Buku Pemasaran Strategik

Sumarwan Ujang; Agus Djunaedi; Aviliani; H.C Royke; Jusuf Agus Sayono; Rico R Budidarmo; Sofyan Rambe. (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth and Share Holder Value).-Pemasaran Strategik: Strategi Untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham . Published byInti Prima, Februari 2009, ISBN 979-450-451-3 Please dowload link below for book preview:
Silahkan download e-book:
2009 UJANG SUMARWAN PEMASARAN STRATEGIK – STRATEGI UNTUK PERTUMBUHAN PERUSAHAAN

Buku Pemasaran Strategik2

Buku Pemasaran Strategik4

Profile photo of dian52e

by dian52e

Good quotes from the chocolate war

15/03/2015 in Berita

hershey

 

The good quotes from the success stories of the two giant chocolate companies, Hershey and M&M’s are :

“The biggest war is how to grab the market “

And

“How the employee loyalty could save the company collapse”

M&M's (2)

inspirative statements from watching video “chocolate war hershey’s vs M&M”

15/03/2015 in Berita

pg-38-hersheys-bloomberg

They’ll fight to get more and more

Whoever comes up with an idea, will always be opposed

Skip to toolbar