You are browsing the archive for maintainability.

Urgensi mantainaibility dalam konteks implementasi suatu sistem informasi di perusahaan

13/01/2015 in Sistem Informasi



oleh:
Gibranius Berutu
gibranius51e@mma.ipb.ac.id; g.berutu@gmail.com
Program Pasca Sarjana Manajemen dan Bisnis-Institut Pertanian Bogor

 

ABSTRAK: Sistem informasi (SI) berperan penting mendukung berjalannya fungsi bisnis perusahaan. Aplikasi perangkat lunak yang membangun SI akan mengalami serangkaian penyesuaian dan perubahan sejak penginstalannya untuk memenuhi persyaratan dan kebutuhan. Makalah ini akan menguraikan pentingnya kemampuan perangkat lunak untuk dipelihara (maintainability) dalam konteks implementasi SI dalam suatu organisasi atau perusahaan. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil studi mengungkapkan pemeliharaan memerlukan praktek manajemen yang baik untuk menjamin tersedianya sumberdaya, di mana besarnya biaya perlu diseimbangkan dengan benefit yang diterima perusahaan. Kemampuan SI untuk dimodifikasi perlu dipikirkan sejak tahap pengembangan sehingga aktivitas pemeliharaan bisa dikerjakan dengan resource yang seekonomis mungkin. Selain itu untuk menjamin keefektifitasannya, disarankan agar perusahaan menggunakan tenaga spesialis dengan kualifikasi pemeliharaan.

Kata kunci: maintainability, pemeliharaan, perangkat lunak, sistem informasi.


PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Perusahaan-perusahaan di dunia telah mengembangkan Sistem informasi (SI) berbasis teknologi informasi (TI) untuk mendukung fungsi operasional dan fungsi manajerialnya. SI merupakan bagian penting dari kegiatan operasional perusahaan, perencanaan strategis, dan sering kali mempunyai peran vital terhadap keunggulan kompetitif usaha (Klaus et al. 2000 dalam Agrawal et.al 2009). Aplikasi perangkat lunak yang membangun SI akan mengalami beberapa penyesuaian dan perubahan sejak penginstalannya sebagai respon terhadap pemenuhan persyaratan dan kebutuhan. Urgensi maintainability SI perlu dicermati karena biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan relatif tinggi sehingga alokasi sumberdaya (cost & effort) perlu diperhitungkan dengan baik.

1.2. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai pentingnya kemampuan perangkat lunak untuk dipelihara dalam konteks implementasi SI.

1.3. Batasan Masalah

Tulisan ini dibatasi pada lingkup kegiatan pemeliharaan SI yang dibangun dengan perangkat lunak dalam suatu organisasi atau perusahaan.

1.4. Kerangka Metode

Untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai pentingnya kemampuan perangkat lunak untuk dipelihara dalam konteks implementasi SI, pemakalah menggunakan metode analisis deskriptif menggunakan data-data sekunder hasil observasi peneliti lain.

1.5. Kerangka Teoritis

a. Sistem Informasi

Sebuah sistem informasi merupakan suatu kombinasi terorganisir dari kumpulan orang-orang, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi, data resources, peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur yang menyimpan, memanggil, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam suatu organisasi (O’Brien & Marakas, 2007). Aktifitas utama dalam suatu SI adalah pemasukan, pengolahan, penyimpanan, produksi dan pengendalian data atau informasi. Peranan SI yaitu, mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mendistribusikan informasi sehingga informasi tersebut dapat digunakan oleh penggunanya dalam proses bisnis, dalam proses pembuatan keputusan atau dalam proses penyusunan strategi suatu organisasi.

Peranan SI dalam mendukung fungsi Operasional seperti,

  1. Sistem pemrosesan transaksi (transaction processing systems), misalnya: pencatatan dan pemrosesan data dari kegiatan transaksi usaha secara real-time;
  2. Sistem pengendalian proses (process control systems), yaitu monitoring dan pengendalian proses fisik di lapangan,
  3. Sistem kolaborasi unit kerja perusahaan (enterprise collaboration systems), yaitu berperan dalam peningkatan komunikasi dan produktifitas unit kerja menggunakan office automated systems seperti e-mail untuk mengirim pesan dan dokumen elektronik dan videoconference untuk menggelar rapat virtual.

Peranan SI dalam mendukung fungsi Manajerial yang terdiri atas:

  1. Sistem informasi manajemen (management information systems), yaitu membantu penyediaan informasi dalam bentuk laporan;
  2. Sistem pendukung pengambilan keputusan (decision support systems), yaitu dukungan fitur dari aplikasi yang membantu manajer dalam proses tersebut. dan
  3. Sistem informasi eksekutif (executive information systems), yaitu penyediaan highlight informasi strategis pada key area mencakup seluruh aspek dan sumber daya perusahaan yang disajikan untuk jajaran eksekutif dan manajer.

Implementasi aktual dari suatu sistem informasi merupakan perpaduan beberapa fungsi (cross-functional informational systems) yang dibangun dan dikembangkan sesuai kebutuhan organisasi. Fungsi-fungsi SI yang lain, selain operasional dan manajerial beberapa di antaranya adalah sistem kepakaran (expert systems), sistem manajemen pengetahuan (knowledge management systems), sistem informasi strategis (strategic information systems) dan sistem fungsional bisnis (functional business systems, misal: pembukuan, keuangan, human capital, dsb).

b. Maintainability sebagai Salah Satu Kriteria Kualitas Produk Perangkat Lunak

ISO 9126 menjelaskan bahwa terdapat enam karakteristik kualitas perangkat lunak, yaitu functionality, reliability, usability, efficiency, maintainability dan portability sebagaimana dijelaskan dalam Gambar 1-1. Menurut penjelasan yang dimuat dalam dokumen ISO 9126, maintainability adalah kapabilitas produk perangkat lunak untuk dapat dimodifikasi. Modifikasi dapat berupa tindakan koreksi, peningkatan fungsi atau adaptasi perangkat lunak terhadap perubahan, serta modifikasi dalam kaitan kebutuhan dan spesifikasi fungsionalnya. ISO 9126 membagi aspek maintainability ke dalam lima sub kriteria sebagai berikut,

Gambar 1 1. Kriteria Kualitas Perangkat Lunak Sumber: ISO/IEC 9126 (2000) hlm. 7

Gambar 1-1. Kriteria Kualitas Perangkat Lunak
Sumber: ISO/IEC 9126 (2000) hlm. 7

  • Analysability, yaitu kemampuan suatu produk perangkat lunak untuk dapat dianalisis atas terjadinya defisiensi, untuk dapat dipelajari penyebab-penyebab kegagalan di dalam perangkat lunak tersebut, atau kapabilitas untuk dapat diidentifikasi bagian-bagian di dalam software tersebut bilamana diperlukan modifikasi;
  • Changeability, yaitu kemampuan suatu produk perangkat lunak untuk boleh menerima modifikasi-modifikasi tertentu yang akan diimplementasikan pada software tersebut;
  • Stability, yaitu kemampuan suatu produk perangkat lunak untuk terhindar dari dampak tak terduga akibat modifikasi pada software tersebut;
  • Testability, yaitu kemampuan suatu produk perangkat lunak untuk dapat dilakukan validasi atas perubahan yang telah ditanamkan di dalamnya;
  • Maintainability compliance, yaitu kemampuan suatu produk perangkat lunak untuk mengikuti / sesuai standard dan ketentuan terkait maintainability.

c. Alur kerja Pemeliharaan Produk Perangkat Lunak

Saat produk perangkat lunak telah selesai dipasang (installed) dan mulai diimplementasikan, beberapa jenis perubahan akan terjadi sejalan waktu penggunaannya. Jones (2010) menyatakan bahwa ada tiga aktivitas pemeliharaan produk perangkat lunak, yaitu

  1. perbaikan kerusakan (defect repair),
  2. perluasan atau peningkatan produk perangkat lunak (enhancement), dan
  3. pemugaran (renovation).

Alur kerja dari ketiga aktivitas pemeliharaan tersebut ditunjukkan dalam Gambar 1-2.

Gambar 1-2. Alur Kerja dari Tiga Aktivitas Pemeliharaan Software Sumber: Jones (2010) hlm. 15

Gambar 1-2. Alur Kerja dari Tiga Aktivitas Pemeliharaan Software
Sumber: Jones (2010) hlm. 15

PEMBAHASAN

2.1. Aktivitas Pemeliharaan Perangkat Lunak

Pemeliharaan dilakukan untuk menjaga software tetap andal dan responsif bagi penggunanya setelah hal tersebut selesai dikembangkan dan diinstal. Jones (2010) mengungkapkan bahwa pemeliharaan merupakan hal yang lebih sulit dan kompleks untuk dianalisis dibandingkan dengan proses pengembangannya. Pemeliharaan perangkat lunak mencakup banyak aktivitas yang berbeda. Jones (2010) menyebutkan sedikitnya ada 23 jenis pekerjaan yang dapat dikelompokkan dalam lingkup pemeliharaan sebagaimana dijelaskan dalam Tabel 2-1. Keduapuluhtiga aktivitas pemeliharaan ini merupakan bentuk-bentuk dari modifikasi perangkat lunak eksisting. Terkadang beberapa aktivitas tersebut dapat terjadi berurutan dalam satu aliran kerja modifikasi, misanya reverse engineering seringkali mendahului aktivitas reengineering.

maintainability issue_1

Seperti yang telah disinggung di bagian atas, pemeliharaan merupakan pekerjaan yang relatif lebih kompleks daripada tahap pengembangan perangkat lunak. Jones (2010) mengungkapkan hal-hal yang menjadi kunci keberhasilan suatu perusahaan dalam aktivitas ini. Best practices dalam software maintenance di antaranya seperti,

  • menggunakan jasa spesialis pemeliharaan dibandingkan orang dengan kualifikasi sebagai developer;
  • mempertimbangkan opsi outsourcing;
  • merekam atau mencatat semua bugs / kesalahan yang pernah dilaporkan pengguna;
  • mencatat response time sejak laporan kerusakan/bugs diterima hingga tindakan koreksi mulai dilakukan;
  • mencatat response time sejak tindakan koreksi mulai dilakukan hingga penanganan selesai;
  • mencatat semua aktivitas pemeliharaan yang dilakukan dan juga biayanya.

2.2. Kebutuhan akan Penyesuaian dan Perubahan Perangkat Lunak

Jones (2010) mengungkapkan bahwa suatu aplikasi perangkat lunak akan mengalami beberapa penyesuaian dan perubahan sejak penginstalannya, beberapa di antaranya seperti,
Semua aplikasi perangkat lunak memiliki “bugs” atau kesalahan dalam baris perintah atau bagian lain dalam software tersebut, saat bugs ditemukan (memang biasanya baru diketahui kemudian saat program dijalankan) maka kesalahan tersebut perlu diperbaiki;

  • Dalam pengembangan bisnis perusahaan, fitur dan kebutuhan baru akan muncul, untuk itu maka aplikasi lama yang sedang dioperasikan perlu di-update agar tetap sesuai dengan kebutuhan pengguna;
  • Adanya perubahan atau penetapan regulasi yang baru dari pemerintah yang harus dipatuhi sehingga perlu diadakan update pada aplikasi perangkat lunak. Kadangkala masa transisi menuju pemberlakuan regulasi sangat singkat;
  • Structural decay yang terjadi sejalan dengan semakin tuanya suatu software akan memperlambat performa atau juga meningkatkan bugs/kesalahan. Oleh karena itu, bilamana masih memberikan nilai bagi perusahaan, perangkat lunak tersebut perlu di ‘renovasi’. Aktivitas renovasi perangkat lunak ini misalnya restrukturisasi atau refaktorisasi untuk menyederhanakan kerumitan (contohnya: migrasi ke struktur file yang baru, migrasi ke bahasa pemrograman yang baru), mengidentifikasi kemudian membuang modul-modul yang error dan memberikan tambahan fitur-fitur pada proses modifikasi ini;
  • Setelah beberapa tahun penggunaan, aplikasi tersebut mungkin perlu diganti dengan yang lebih baru.

2.3. Indikator Maintainability Sistem Informasi

Kapabilitas setiap sistem informasi untuk dapat dipelihara berpadanan dengan kondisi tertentu yang memberikan petunjuk atau indikasi apakah SI tersebut ada pada level kurang atau lebih mudah untuk bisa dimodifikasi. Swanson (1999) mengungkapkan penaksiran kondisi-kondisi yang dimaksud dilihat dari tiga perspektif, yaitu pada pengembangannya (in development), pengoperasian (in operation) dan penggunaannya (in use). Tabel 2-2 mengelaborasi deskripsi sugestif untuk masing kondisi maintainability dalam tiga perspektif tersebut.

maintainability issue 2_1

2.4. Urgensi Maintainability Sistem Informasi

Swanson (1999) mengartikan maintainability dari suatu Sitem Informasi (SI) sebagai kapabilitas SI untuk ditingkatkan atau diperluas fungsi-fungsinya, di mana pemakaian sumberdaya dalam aktivitas pemeliharaan, pengoperasian dan penggunaannya adalah seekonomis mungkin. Alokasi sumberdaya perlu dipertimbangkan dengan cermat, baik biaya maupun effort yang akan dikeluarkan kelak dalam pemeliharaan SI. Hal ini perlu dicermati bilamana organisasi menilai maintainability SI yang dimilikinya akan memberikan benefit dikemudian hari.

Gambar 2-1. Biaya perbaikan kesalahan yang meningkat sejalan dengan tahapan pengembanagan Sumber  :  Boehm, software Engineering Economics (1981) dalam Suroso (2014)

Gambar 2-1. Biaya perbaikan kesalahan yang meningkat sejalan dengan tahapan pengembanagan
Sumber : Boehm, software Engineering Economics (1981) dalam Suroso (2014)

Urgensi maintainability SI perlu dicermati karena biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan cukup besar. Boehm (1982) dalam Suroso (2014) mengungkapkan hasil studinya di mana biaya pemeliharaan memakan porsi resource dana kegiatan pengembangan dan implementasi perangkat lunak yang relatif besar, di mana biaya pemeliharaan perangkat lunak mengambil porsi 49%, sedangkan biaya pengembangan adalah 43% dan sisanya (8%) untuk kegiatan lain-lain. Biaya perbaikan kesalahan pada suatu perangkat lunak juga meningkat sejalan dengan tahapan pengembangannya. Boehm (1981) dalam Suroso (2014) mengungkapkan multiplikasi biaya tindakan korektif, di mana biaya perbaikan kesalahan pada tahap analisa yang hanya memerlukan biaya 2 satuan dibandingkan biaya perbaikan untuk kesalahan yang sama pada tahap operasi yang memelukan biaya 200 satuan (lihat Gambar 2-1).

Maintainability merupakan hal yang penting karena SI harus terus beradaptasi terhadap perubahan lingkungan penggunaan maupun kebutuhan-kebutuhan yang baru, selain memenuhi tuntutan user untuk keandalan sistem perangkat lunak yang membangun SI dari koreksi atas kesalahan-kesalahan (bugs). Contoh-contoh ilustrasi kebutuhan akan penyesuaian dan perubahan perangkat lunak sebagaimana diuraikan dalam subbab 2.2 direspon dengan tindakan–tindakan spesifik dalam lingkup tugas pemeliharaan yang dirangkum dalam Tabel 2-1. Boehm (1982) dalam Suroso (2014) memecah serapan biaya pemeliharaan sebesar 49% kedalam empat jenis aktivitas, yaitu tindakan corrective (21%), adaptive (25%), preventive (4%) dan perfective (50%). Kelompok aktivitas penyempurnaan (perfective) ternyata mengambil setengah porsi dari total kebutuhan biaya pemeliharaan.

Untuk mendukung keandalan dan memenuhi kebutuhan serta mempertimbangkan biaya pemeliharaan software yang besar, alokasi sumberdaya perlu diperhitungkan dengan baik. Resource yang ditinjau meliputi biaya (maintenace cost) dan usaha (maintenance effort) seperti penjelasan berikut ini,

    • Maintenance Cost

Swanson (1999) mengungkapkan pemeliharan SI yang berbasis Teknologi Informasi (TI) memakan biaya yang relatif mahal. Perubahan atau modifikasi atas suatu perangkat lunak akan membutuhkan biaya dalam pelaksanaan kegiatannya. Banker (1993) dalam Huber (2009) menyebutkan ada dua tipe biaya dalam modifikasi software, yaitu biaya finansial dan biaya waktu. Biaya finansial adalah akumulasi biaya dari komponen pekerja yang terlibat di dalamnya. Semakin banyak pekerja yang terlibat maka biaya ini akan semakin tinggi. Biaya waktu adalah akumulasi biaya yang timbul dari aktivitas ini sepanjang rentang waktu berlangsungnya aktivitas, di mana biaya finansial adalah komponen yang mempengaruhi biaya waktu. Semakin lama proses modifikasi software berlangsung untuk mencari tahu (discover), mengimplementasikan (implement), menguji (test) dan mendokumentasikan (document), maka komponen biaya ini akan semakin tinggi.

    • Maintenance Effort

Jika suatu aplikasi perangkat lunak yang dimiliki oleh sebuah organisasi dalam proses pengembangannya dibuat agar lebih mudah untuk dimodifikasi, misalnya dibangun dengan tingkat kerumitan yang rendah, maka usaha (effort) yang dicurahkan oleh organisasi tersebut dikemudian hari akan lebih ringan (Swanson, 1999). Maintenance effort sebagai input aktivitas pemeliharaan terdiri dari sumberdaya yang dialokasikan dan digunakan dalam tugas ini, misalnya sumberdaya mesin, workbenches dan sumberdaya manusia atau staff. Sumberdaya manusia sendiri dibedakan berdasarkan keterampilan (skills), pengalaman dan motivasinya, yang kemudian dikelompokkan lagi sesuai job class serta besaran gaji.

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Pemeliharaan dilakukan untuk menjaga software tetap andal dan responsif bagi penggunanya. Kegiatan pemeliharaan memerlukan praktek manajemen yang baik untuk menjamin tersedianya sumberdaya untuk mendukung hal tersebut sehingga kebutuhan akan perubahan dan penyesuaian, yang termasuk dalam lingkup pekerjaan pemeliharaan, dapat dipenuhi. Besarnya biaya dalam aktivitas pemeliharaan perlu diseimbangkan dengan besarnya benefit yang akan diterima perusahaan.

3.2. Saran

Tingginya biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan pemeliharaan perlu dicermati sejak awal pengembangan sistem informasi. Kemampuan dan tingkat kemudahan SI untuk dimodifikasi sebaiknya dipikirkan sejak tahap pengembangan untuk mengakomodir aktivitas penyempurnaan (perfective) dikemudian hari agar bisa dikerjakan dengan resource yang seekonomis mungkin bilamana dibutuhkan. Perusahaan atau organisasi dapat mengukur maintainability SI melalui indikator ilustratif yang diusulkan Swanson (1999). Karena pemeliharaan merupakan pekerjaan yang relatif lebih kompleks daripada tahap pengembangan perangkat lunak, maka disarankan pula untuk menggunakan tenaga spesialis dengan kualifikasi pemeliharaan software untuk menjamin keefektifitasannya.


 

Daftar Pustaka

ISO 9126, I. (2000). Information technology – Software product quality, Part 1: Quality Model. International Organization for Standardization.

Agrawal, Aditya et. al. (2009). ORE: A Framework to Measure Organizational Risk During Information Systems Evolution. (C. Barry, K. Conboy, M. Lang, G. Wojtkowski, & W. Wojtkowski, Eds.) Information Systems Development: Challenges in Practice, Theory and Education, 2, 675-686.

Huber, J. R. (2009). A Thesis: Software Documentation Guidelines for Maintainability. Grand Forks: University of North Dakota.

Jones, C. (2010). Software Engineering Engineering: Lessons from Successful Projects in the Top Companies. New York: McGraw-Hill.

O’Brien, J., & Marakas, G. (2007). Management Information Systems (10 ed.). New York: McGraw-Hill/Irwin.

Suroso, I. A. (2014). Pembangunan Sistem Informasi. Bahan Kuliah Sistem Informasi Manajemen MB-IPB, (Tidak diterbitkan).

Swanson, E. B. (1999). IS “Maintainability”: Should It Reduce the Maintenance Effort? (Winter, Ed.) Database for Advances in Information Systems, 30/1, 65-76.

PAPER UA SIM [JANUARI 2010]

11/01/2015 in TUGAS KULIAH

Pengembangan Sistem Informasi Organisasi Bisnis di Indonesia dengan Pendekatan Outsourcing dan Urgensi Maintainability dalam Pembangunan Sebuah Sistem Informasi

Oleh: Adistiar Prayoga [P056134142. 51 E]

Abtraksi

Pendekatan outsourcing yang berkembang di dunia pada awal 1990-an, dewasa ini menjadi trend di Indonesia. Meskipun dipandang lebih produktif dan efisien, hasil outsourcing di bidang informasi dan teknologi (IT) tak selamanya sesuai dengan harapan. Beberapa kasus menggambarkan kekecewaan, sehingga membuat outsourcing dan investasi milyaran rupiah seakan sia-sia. Disisi lain, pendekatan outsourcing masih menjadi polemic di Indonesia. Maka dari itu, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan pendekatan outsourcing dalam IT dan urgensi maintainability dalam pembangunan atau penerapan sistem informasi oleh organisasi bisnis di Indonesia.

                Kata kunci: outsourcing, informasi dan teknologi (IT), maintainability

 

Latar Belakang

Perubahan zaman harus direspon dengan cepat oleh sebuah organisasi bisnis. Dinamisnya kondisi lingkungan seperti perkembangan daya pikir, penemuan teknologi baru, benturan budaya, maupun realitas social lainnya secara tidak langsung akan mempengaruhi preferensi seseorang dalam mengkonsumsi sebuah produk. Kesuksesan Nestle contohnya. Penjualan produk ini meningkat drastic di Arab dan negeri-negeri muslim, karena berhasil “mengislamkan” 70% dari produknya dengan memilih bahan dan menampilkan proses produksi yang “halal”. Contoh lainnya adalah Pepsi yang sukses merebut pasar Coca-cola karena “mematuhi” ajakan boikot atas Israel sebagai reaksi atas agresi penguasa kaum Zion tersebut ke Gaza. Sementara Coca-cola yang memutuskan untuk tetap berkongsi dengan Israel harus merasakan masa-masa pahit kehilangan pasar potensialnya. Menurut Wall Street Journal bagian Asia (29/01/2003), Coca-Cola memperkirakan telah kehilangan 40-50 Juta krat dalam setahun di pasar semenanjung Arabia. Butuh waktu yang cukup lama bagi Coca-cola untuk mengembalikan kepercayaan konsumen di Arab.

Selain dihadapkan pada perubahan zaman, organisasi bisnis juga dituntut untuk mewaspadai ketatnya persaingan. Boleh jadi sebuah perusahaan yang tahun lalu dinobatkan menjadi market leader, dalam hitungan bulan akan turun kasta jika tidak mewaspadai hal ini. Nokia (pioneer smartphone melalui symbian, 2002) adalah contoh konkrit perusahaan yang tak berdaya melawan i-Phone dan harus rela ketika pelanggannya direbut oleh Android. Maka dari itu, setiap manajemen organisasi selalu berusaha melakukan analisis yang cepat dan tepat agar setiap keputusan yang diambilnya dapat berjalan efektif dan efisien.

Adapun tingkat akurasi serta keberhasilan sebuah keputusan, sangat tergantung dari kemampuan manajemen dalam membaca realitas pasar melalui data dan informasi yang telah dikumpulkan. Oleh karena itu, dalam hal ini peran dari system informasi tidak dapat dinafikan lagi. Namun, dalam penciptaan sebuah system informasi yang canggih serta mampu menghasilkan output yang berdaya saing, organisasi seringkali dihadapkan oleh tantangan baru berupa keterbatasan sumber daya. Sebuah system yang bagus, tentu membutuhkan biaya yang besar. Pada kondisi ini, perusahaan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit seperti:

  1. pilihan antara investasi teknologi untuk meningkatkan daya saing atau efisiensi,
  2. pilihan antara menciptakan barrier dan merawat pasar atau melakukan ekspansi ke pasar yang dianggap potensial, dan
  3. pilihan antara melakukan outsourcing atau insourcing.

Semua pilihan-pilihan tersebut harus direncanakan secara matang, agar output yang dihasilkan mampu membantu sebuah organisasi bisnis dalam mencapai tujuannya. Pihak manajemen organisasi hendaknya tidak latah dengan trend yang berkembang, yakni mengikuti keputusan dari manajemen organisasi-organisasi lain tanpa diiringi dengan analisis yang mendalam agar dapat sesuai dengan kebutuhan utama organisasi serta bermanfaat bagi kepentingan jangka panjang. Perihal outsourcing misalnya.

Pemikiran tentang outsourcing pertama kali diperkenalkan oleh Adam Smith, yang menyebutkan bahwa perusahaan akan lebih efektif dan efisien apabila salah satu unit bisnisnya diserahkan pengerjaannya kepada perusahaan lain yang memiliki kompetensi dan spesialisasi dalam proses produksi tersebut (Hatonen dan Eriksson, 2009). Sejak abad ke -19, outsourcing menjadi mulai menjadi trend industri bisnis modern. Sejarah industrialisasi dan modernisasi pada negara-negara berkembang memberikan informasi bahwa mereka tak dapat lepas dari keterkaitan dengan pihak asing. Jepang misalnya, setelah revolusi pada tahun 1868, Jepang berada di jalur cepat modernisasi. Mereka menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan ahli, sehingga mereka melakukan outsourcing dalam hal engineering untuk mengatur sistem pabrik mereka dan mentransfer pengetahuan kepada penduduk asli Jepang bagaimana untuk mengoperasikan peralatan berteknologi tinggi (Gonzales, Andrae, et al, 2004). Pada tahun 1990-an hampir semua perusahaan dunia menggunakan system outsourcing (Webster dan Harding, 2001). Masa ini disebut dengan ‘Masa Dentuman Besar Outsourcing’ (Wiryana, 2012).  Mercer dan Cranfiled School of Management pada tahun 2000 menyebutkan bahwa, outsourcing telah digunakan oleh 90 persen lebih dari perusahaan di Eropa dan Amerika Utara pada salah unit bisnisnya (Wiryana, 2012). Adapun, di bidang informasi dan teknologi (IT), outsourcing untuk pertama kali dilakukan dalam pelayanan jasa, yakni customer service dan call center pada tahun 1980 (Lacity dan Hirschheim, 1993).

Meskipun dipandang lebih produktif dan efisien, hasil outsourcing di bidang IT tak selamanya sesuai dengan harapan. Beberapa kasus menggambarkan kekecewaan, sehingga membuat outsourcing dan investasi milyaran rupiah seakan sia-sia. Perusahaan yang melakukan outsourcing hanya karena alasan untuk mereduksi biaya dapat menyebabkan perusahaan sembarangan memilih fungsi teknologi atau sistem informasi yang akan di-outsource-kan kepada mitra. Hal ini berarti perusahaan tidak memisahkan fungsi sistem informasi yang tidak memiliki nilai tambah dari fungsi kompetensi inti sistem informasi yang memiliki nilai tambah (Hayes et al., 2000 dalam Toruan, 2013). Bahkan Aalders (2002), berkesimpulan bahwa generasi pertama yang melakukan outsourcing hanya karena alasan penghematan biaya seringkali menemui kegagalan. Contoh eksterm dari kegagalan outsourcing adalah kasus tuntutan Direksi Artha Graha kepada Polaris software Lab. Ltd. Direksi Artha Graha menganggap Polaris telah menyalahi kesepakatan dan aplikasi yang dibuat pun tidak layak pakai. Ujungnya, Direksi Arta Graha menuntut proyek pengembangan aplikasi system informasi tersebut dibatalkan dan semua uang pembayaran atas jasa senilai 11,5 milyar rupiah segera dikembalikan (Majalah SWA, 23 Januari-5 Februari 2013).

Proses manajemen SI pada suatau organisasi bisnis merupakan salah satu hal yang menarik untuk dikaji. Apalagi, dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, kegiatan outsourcing tengah menimbulkan polemik. Pada paper ini akan dibahas tentang dilemma yang harus dihadapi organisasi bisnis di Indonesia ketika memilih pendekatan outsourcing dalam pengembangan system informasi, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendekatan outsourcing dan urgensi maintainability dalam outsourcing IT.

______________________________

DOWNLOAD FULLPAPER

Skip to toolbar