You are browsing the archive for MB IPB.

Pertemuan Pertama Manajemen Pemasaran

29/01/2015 in Berita

HERTU APRIYANA E51 MB IPB 2014 – kanghertu@gmail.com- hertu51@mma.ipb.ac.id School of Business  and Management, Bogor Agricultural University – www.mb.ipb.ac.idwww.ipb.ac.id

MARKETING CLASS
Lecturer
Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. (www.ujansumarwan.blog.mb.ipb.ac.id, www.sumarwan.staff.ipb.ac.id)
Dr. Ir. Hartoyo, M.Sc.
Dr. Ir. Dodik Nur Rachmat, M.Sc.F.
Dr. Kirbandoko, M.S.M.
Dr. Ir. Mukhammad Najib, M.M.


 

Pertemuan Pertama Kuliah Manajemen Pemasaran

Pertemuan pertama dengan Bapak Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, Msc. dalam mata kuliah Manajemen Pemasaran berlangsung pada hari Selasa tanggal 20 Januari 2015 di ruang kuliah Damar MB IPB Bogor. Perkuliahan perdana kami dimulai dengan pertanyaan dari beliau “Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata MARKETING?”.
Pertanyaan beliau ditanggapi oleh mahasiswa E51 dengan beragam jawaban, seperti Pasar, Pemasaran, Penjualan, Pertemuan Konsumen dan Produsen. Berbagai jawaban tersebut hanya merupakan Pemasaran dalam arti sempit, yaitu berhubungan dengan adanya transaksi antara konsumen dan produsen. Pemasaran adalah salah satu kegiatan pokok yang perlu dilakukan oleh perusahaan baik itu perusahaan barang atau jasa dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya. Hal tersebut disebabkan karena pemasaran merupakan salah satu kegiatan perusahaan, di mana secara langsung berhubungan dengan konsumen. Maka kegiatan pemasaran dapat diartikan sebagai kegiatan manusia yang berlangsung dalam kaitannya dengan pasar. menurut Kotler (2001) mengemukakan pemasaran berarti bekerja dengan pasar sasaran untuk mewujudkan pertukaran yang potensial dengan maksud memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan pemasaran merupakan kunci kesuksesan dari suatu perusahaan.

Prof. Ujang Sumarwan menjelaskan bauran pemasaran (marketing mix) sebagai Pertempuran bisnis yang sesungguhnya adalah di bagian pemasaran sehingga perusahaan sangat membutuhkan banyak marketer. Hal ini dikarenakan bagian pemasaran dapat memperluas jaringan perusahaan dengan cara menarik konsumen lebih banyak. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh marketer adalah berkomunikasi dengan baik, sebab strategi paling efektif untuk menarik konsumen adalah dengan bertemu secara langsung. Sekarang, marketing merupakan salah satu komunikasi pemasaran efektif yang secara langsung melalui peorangan dan konsumen. Maka dari itu, marketing dibutuhkan suatu perusahaan dalam jumlah tenaga kerja yang banyak. Perusaahan-perusahaan mulai bergerak secara khusus dalam bidang periklanan, perusahaan tersebut membantu suatu perusaahan lain dalam bidang marketing produknya. Perusahaan khusus tersebut dikenal sebagai Advertising Agency.

Terdapat perbedaan orientasi dalam bisnis pada negara maju dan negara berkembang. Negara berkembang memiliki orientasi pada produksi, sedangkan negara maju berorientasi kepada marketing dan R&D (research and development). Salah satu negara berkembang yang memiliki strategi marketing yang sangat baik adalah Negara Korea Selatan. Seperti yang kita ketahui, demam korea sudah melanda hampir seluruh dunia khususnya di negara-negara Asia. Korea selatan memanfaatkan hal ini sebagai kegiatan promosi, hal ini terlihat pada serial drama korea biasanya latar belakang ceritanya mengenai perusahaan dan sering dimunculkan berbagai produk dari Korea seperti ponsel. Selain itu, kebudayaan korea juga diperkenalkan untuk meningkatkan minat turis asing untuk berkunjung ke negara tersebut sehingga berpengaruh positif terhadap sektor perekonomiannya. Salah satu contoh adalah kebudayaan korea yang dikenalkan lewat serial drama dan minuman khas GINSENG Korea.

Konsep bauran pemasaran dikategorikan menjadi 7P (4P +3P) yaitu: Price, Promotion, Place, Product, Process, Physical environment, and people. Pada dasarnya Bauran pemasaran terdiri dari 4P yaitu (product, price, place dan promotion). teori bauran pemasaran juga terus berkembang. Dalam perkembangannya, dikenal juga istilah 7P dimana 3P yang selanjutnya adalah People (Orang), Physical Evidence (Bukti Fisik), Process (proses). Bauran pemasaran seiring perkembangan jaman dan tuntutan pasar yang senantiasa mengalami perkembangan telah mengalami evolusi dan terus berkembang searah dengan perkembangan perilaku konsumen dan kecerdasan para ahli pemasaran. Lovelock dan Wright (2002) mengembangkan bauran pemasaran (marketing mix) menjadi integrated service management dengan menggunakan pendekatan 7P. Ketujuh aspek tersebut menjadi acuan perusahaan dalam pengembangan komunikasi terhadap konsumen. Kegiatan pemasaran bersumber kepada STP (Segmentation, Targetting and positioning) dan Marketing Mix (Bauran Pemasaran).


Text Book

Ujang Sumarwan (editor). 2015. Pemasaran Strategic: Perspektif Perlilaku Konsumen dan Marketing Plan. IPB Press.
Silahkan download e-book:

2015 >  01  BUKU PEMASARAN STRATEGIK PERSPEKTIF PERILAKU KONSUMEN DAN MARKETING PLAN

2

Sumarwan Ujang; Agus Djunaedi; Aviliani; H.C Royke; Jusuf Agus Sayono; Rico R Budidarmo; Sofyan Rambe. (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth and Share Holder Value).-Pemasaran Strategik: Strategi Untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham . Published byInti Prima, Februari 2009, ISBN 979-450-451-3

2010 > UJANG SUMARWAN PEMASARAN STRATEGIK – PERSPEKTIF VALUE-BASED MARKETING

34

Sumarwan, U., Achmad Fachrodji., Adman Nursal., Arissetyanto Nugroho., Erry Ricardo Nurzal., Ign Anung Setiadi., Suharyono., Zeffry Alamsyah. 1st Printing. 2011. Marketing Strategic: Value Based Marketing and Marketing Metrics. Pemasaran Strategik: Persfektif Value-Based Marketing dan Pengukuran Kinerja. Bogor, IPB Press.

2009> 02  UJANG SUMARWAN PEMASARAN STRATEGIK – STRATEGI UNTUK PERTUMBUHAN PERUSAHAAN

1

SINOPSIS
Pemasaran strategik menguraikan bagaimana sebuah perusahaan harus memahami konsumen, sehingga dapat menyusun strategi pemasarannya untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan guna meningkatkan kinerja perusahaan dan menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.Pemasaran adalah memahami berbagai kebutuhan para pelanggan dan mengembangkan sebuah proposisi untuk menawarkan nilai yang superior. Melalui penyediaan nilai pelanggan yang lebih tinggi maka manajemen dapat memberikan dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi pula kepada para pemegang saham. Nilai suatu merek dagang terbentuk dari kepercayaan para pelanggan terhadap merek dagang perusahaan. Kepercayaan ini membentuk relasi antara merek dan pelanggan yang mendorong preferensi, loyalitas merek, dan keinginan untuk mempertimbangkan produk dan jasa baru yang ditawarkan perusahaan di masa depan dengan merek tersebut. Buku ini juga menguraikan bagaimana langkah-langkah untuk membangun ekuitas merek serta menjelaskan beberapa metode untuk mengukur ekuitas merek.

Marketing Class 20.01

29/01/2015 in TUGAS KULIAH


Adistiar Prayoga ( P056134142.51E )

School of Business and Management, Bogor Agricultural University – www.mb.ipb.ac.idwww.ipb.ac.id

MARKETING CLASS
Lecturer
Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. (www.ujansumarwan.blog.mb.ipb.ac.id, www.sumarwan.staff.ipb.ac.id)
Dr. Ir. Hartoyo, M.Sc.
Dr. Ir. Dodik Nur Rachmat, M.Sc.F.
Dr. Kirbandoko, M.S.M.
Dr. Ir. Mukhammad Najib, M.M.


Marketing and Marketing Management

Pemasaran (Marketing) adalah bagian yang unik dari perusahaan. Prof. Ujang Sumarwan (2015), dosen pemasaran MB IPB berkata: “dalam operasionalnya, perusahaan terbagi menjadi beberapa bagian, yakni: produksi (operasi), sumber daya manusia, keuangan, dan pemasran. Dari semua bagian tersebut hanya pemasaran lah yang mampu menghasilkan uang”.  Tanpa adanya pemasaran,sebagus apapun suatu produk/jasa hanya akan menjadi sampah yang tiada nilainya.

Meski ujung-ujungnya adalah duit, pemasaran juga butuh banyak duit. Adapun yang perlu dipahami, pemasaran bukan sekedar beriklan, menyebar brosur, memberi diskon, atau menarik konsumen melalui tontonan “keindahan” sales promotion girl, sebagaimana yang sering ditampilkan di negeri ini. Pemasaran adalah tindakan perusahaan untuk mengambil posisi yang tepat antara produk yang ditawarkan dengan kondisi permintaan di pasar. Secara lebih detil, pemasaran dapat diartikan sebagai sebuah proses social antara individu dan kelompok untuk mempertemukan kebutuhan dan keinginan melalui kegiatan penciptaan produk, penawaran, dan pertukaran nilai antar produk berupa barang/jasa dengan lainnya.

http://yellowsubmarketing.com/website/tough-nut/

Sebagai suatu proses social, pemasaran tentunya sangat peka terhadap perubahan kondisi sosial, khususnya yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi-informasi. Walaupun perubahan sosial adalah keniscayaan yang penuh dengan ketidakpastian*, bukan berarti hal tersebut tak dapat diprediksi dan diantisipasi. Dr. Kirbandoko (2009), memberikan gambaran terkait beberapa permasalahan  dasar dalam pemasaran dalam kaitannya sebagai proses social, yakni:

1. Bagaimana memilih segmen pasar yang tepat?
2. Bagaimana membuat produk kita berbeda dengan produk pesaing?
3. Bagaimana jika pelanggan meminta harga yang lebih rendah?
4. Bagaimana kita bersaing dengan pesaing harga rendah?
5. Bagaimana membangun kekuatan merk?
6. Bagaimana membuat pelanggan loyal?
7. Bagimana meningkakan produktivitas tenaga penjual?

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas munculah konsep-konsep pemasaran populer seperti Market’s STP, Needs or Wants, Demand and Benefits, Marketing Mix, Value, Exchange, Transaction, Satisfaction, Service Quality dan lain-lain. Konsep-konsep tersebut terus dikembangkan hingga kini berdasarkan berbagai pengalaman, problematika, dan tantangan ketidakpastian secara empiris dan terverifikasi hingga membentuk sebuah cabang pengetahuan bernama Marketing Management. Oleh karena itu, setiap manajemen perusahaan harus mempelajari ilmu pemasaran. Tujuannya adalah mereduksi kemungkinan kegagalan design produk, melakukan tindakan yang efektif secara gradual untuk mencapai hasil yang optimum, dan  melakukan manuver yang tak mampu diprediksi oleh pesaing, sehingga perusahaan dapat  bertahan atau bahkan mendominasi pasar.

Pada akhirnya, dapat kita ambil kesimpulan sederhana bahwa pemasaran laiknya senjata utama perusahaan. Adapun Marketing management adalah seni menggunakan senjata tersebut. Jadi, sayang sekali jika pengetahuan-pengetahuan terkait pemasaran dibiarkan berlalu begitu saja.


*sebagaimana adagium ‘satu-satunya hal yang berubah adalah perubahan dan satu-satunya kepastian yang ada hanyalah ketidakpastian’, 


Text Book

Ujang Sumarwan (editor). 2015. Pemasaran Strategic: Perspektif Perlilaku Konsumen dan Marketing Plan. IPB Press.
Silahkan download e-book:

2015 >  01  BUKU PEMASARAN STRATEGIK PERSPEKTIF PERILAKU KONSUMEN DAN MARKETING PLAN

 2

Sumarwan Ujang; Agus Djunaedi; Aviliani; H.C Royke; Jusuf Agus Sayono; Rico R Budidarmo; Sofyan Rambe. (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth and Share Holder Value).-Pemasaran Strategik: Strategi Untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham . Published byInti Prima, Februari 2009, ISBN 979-450-451-3

2010 > UJANG SUMARWAN PEMASARAN STRATEGIK – PERSPEKTIF VALUE-BASED MARKETING

34

Sumarwan, U., Achmad Fachrodji., Adman Nursal., Arissetyanto Nugroho., Erry Ricardo Nurzal., Ign Anung Setiadi., Suharyono., Zeffry Alamsyah. 1st Printing. 2011. Marketing Strategic: Value Based Marketing and Marketing Metrics. Pemasaran Strategik: Persfektif Value-Based Marketing dan Pengukuran Kinerja. Bogor, IPB Press.

2009> 02  UJANG SUMARWAN PEMASARAN STRATEGIK – STRATEGI UNTUK PERTUMBUHAN PERUSAHAAN

1

SINOPSIS
Pemasaran strategik menguraikan bagaimana sebuah perusahaan harus memahami konsumen, sehingga dapat menyusun strategi pemasarannya untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan guna meningkatkan kinerja perusahaan dan menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.Pemasaran adalah memahami berbagai kebutuhan para pelanggan dan mengembangkan sebuah proposisi untuk menawarkan nilai yang superior. Melalui penyediaan nilai pelanggan yang lebih tinggi maka manajemen dapat memberikan dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi pula kepada para pemegang saham. Nilai suatu merek dagang terbentuk dari kepercayaan para pelanggan terhadap merek dagang perusahaan. Kepercayaan ini membentuk relasi antara merek dan pelanggan yang mendorong preferensi, loyalitas merek, dan keinginan untuk mempertimbangkan produk dan jasa baru yang ditawarkan perusahaan di masa depan dengan merek tersebut. Buku ini juga menguraikan bagaimana langkah-langkah untuk membangun ekuitas merek serta menjelaskan beberapa metode untuk mengukur ekuitas merek.

Vice Presidential Lecture: Competitiveness of Indonesia

26/11/2014 in Berita, Catatan Kuliah, CEO Forum & Seminar, Islam

Hari Sabtu 13 September 2014 kemarin, Alhamdulillah saya berkesempatan menghadiri acara tahunan Penglepasan Alumni Magister Manajemen dan Doktor Manajemen Bisnis Tahun 2013/2014 Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis (MB), Institut Pertanian Bogor (IPB) di Hotel Borobudur, Jakarta. Acara ini merupakan acara tahunan yang diadakan oleh MB-IPB dalam rangka pemberian apresiasi kepada lulusannya. Dalam acara tersebut, MB-IPB selalu menghadirkan orang-orang hebat yang mampu memberikan wejangan dan motivasi pada semua lulusan untuk dapat berkontribusi pada bangsa dan negara. Dan pada kesempatan ini, MB-IPB mendatangkan Wakil Presiden RI, Prof. Dr. H. Boediono, M.Ec.

Acara yang dimulai pukul 09.00 ini diawali dengan sambutan Rektor IPB (Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc). Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa acara pelepasan Alumni MB-IPB tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Dies Natalis IPB yang bertemakan Sistem dan Kompatibilitas IPB untuk Pengarus Utamaan Pertanian. Tema tersebut diangkat untuk membangun paradigma yang lebih berkedaulatan, lebih berkeadilan, serta berkelanjutan menjadi driving force pembangunan nasional.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Wakil Presiden (Wapres) RI. Topik yang disampaikan dalam kesempatan adalah daya saing bangsa Indonesia (Competitiveness of Indonesia). Dihadapan 142 alumni Magister Manajemen dan 38 alumni Doktor Manajemen Bisnis, Wapres mengajak untuk mendalami konsep Ekonomi Nasional. Menurutnya pengertian Daya Saing Bangsa dalam konsep ini relevan bagi Indonesia dan bagi negara-negara berkembang. Di awal sambutannya, Wapres bercerita saat ia bersama almarhum Prof. Mubyarto menulis sebuah artikel untuk buku “Ekonomi Pancasila” sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Dalam tulisannya beliau menyebutkan bahwa salah satu ciri utama Ekonomi Pancasila adalah terbangunnya ekonomi nasional yang tangguh. Ia menggaris bawahi  istilah ‘nasional’ untuk membedakan dengan konsep perekonomian yang biasa dibaca dalam buku-buku teks ekonomi.  Di dalam tulisan itu Wapres mengutip pendapat seorang ekonom Jerman abad 19 bernama Friedrich List, yang dianggapnya mempunyai konsepsi penting mengenai Ekonomi Nasional yang relevan dengan kondisi Indonesia.

Wapres mengatakan bahwa menurut Friedrich List, suatu bangsa akan survive dan maju dalam percaturan global apabila bangsa tersebut dapat membangun kemampuan produktif.  Kemampuan produktif ini bukan sekedar kemampuan untuk menghasilkan barang dengan harga yang lebih murah dan kualitas lebih baik dibandingkan negara-negara pesaingnya di pasar global.  Kemampuan produktif yang dimaksud dalam hal ini adalah kemampuan total bangsa untuk meningkatkan dirinya secara berkesinambungan menuju dan menjadi negara maju dan modern (kemampuan bersaing dalam mengejar ketertinggalan).

Competitiveness of Indonesia

Competitiveness of Indonesia

Wapres juga menjelaskan, bahwa  menurut List untuk meningkatkan daya saing bangsa bukan dengan meningkatkan PDB (Product Domestic Bruto) atau pertumbuhan ekonomi semata. PDB bukan indikator yang cocok untuk mengukur kemajuan kemampuan produktif suatu bangsa melainkan hanya mengukur nilai tambah yang dihitung pada harga pasar dari kegiatan ekonomi yang terjadi di suatu negara dalam kurun waktu satu tahun (Exchange Values dari barang/jasa yang dihasilkan). Jika PDB naik karena produksi barang/jasa meningkat, maka kenaikan PDB itu tidak selalu mencerminkan peningkatan kemampuan produktif negara apabila barang /jasa yang dihasilkan tersebut berasal dari proses produksi yang sederhana yang tidak memberi peluang bagi pemanfaatan teknologi baru yang lebih tinggi/lebih produktif.  Kenaikan PDB juga tidak mencerminkan kemampuan produktif yang lebih besar apabila barang dan jasa yang dihasilkan hanya laku di pasar karena harganya lebih murah karena diproduksi dengan upah yang murah pula.  Dan yang lebih parah, apabila kenaikan nilai PDB berasal dari penjualan “harta warisan” bangsa, yaitu kekayaan alamnya, tanpa ada upaya untuk meningkatkan nilai tambah. Singkatnya PDB atau pertumbuhan ekonomi mencerminkan peningkatan kemampuan produktif hanya apabila bersumber pada peningkatan produktivitas bukan sekedar karena kenaikan volume produksi.

List menekankan perbedaan antara produksi dan produktivitas. Kemampuan produktif hanya meningkat melalui peningkatan produktivitas.  Di mana kreativitas manusia dan physical capital menjadi sumber dari peningkatan produktivitas yang dimaksud. Wapres juga menjelaskan bahwa dalam terminologi masa kini sumber peningkatan produktivitas ini disebut technical progress. Pada physical capital termasuk di dalamnya adalah infrastruktur dan mesin-mesin dan sarana produksi lain atau disebut capital deepening. Sedangkan konsep peningkatan investasi melalui kreativitas List tidak memaparkan dengan jelas.

Menurut Wapres, konsep kreativitas selanjutnya dijabarkan oleh Schumpeter, seorang ahli ekonomi dari Austria. Schumpeter mengatakan bahwa ide atau penemuan yang dihasilkan dari kreativitas manusia akan mempunyai dampak pada produktivitas apabila diterjemahkan menjadi inovasi dalam proses produksi dan dalam kegiatan ekonomi nyata. Dalam hal ini Schumpeter menekankan peranan sentral dari wirausaha atau entrepreneurs dalam mentransformasi ide menjadi kenyataan (peningkatan produktivitas). Schumpeter juga memperkenalkan proses creative destruction, yakni peningkatan produktivitas dapat diperbolehkan dengan cara menggeser bahkan mengganti perusahaan yang produktivitasnya rendah atau bahkan yang tidak lagi produktif. Dimana menurut Wapres, kebijakan di bidang kompetisi usaha yang mendukung proses creative destruction harus dilaksanakan dengan konsisten.

Teori Schumpeter melengkapi teori Daya Saing List, yang mana konsep List dalam teori peningkatan physical capital  dapat dilakukan dalam bentuk investasi di bidang pendidikan dan kesehatan serta investasi di bidang sarana dan prasarana produksi. Sedangkan Schumpeter  melengkapi dengan program dan kebijakan khusus untuk mendorong terciptanya kelompok wirausaha yang mampu menerjemahkan ide atau penemuan menjadi praktek nyata dalam proses produksi.

Wapres kemudian menyoroti fenomena yang terjadi di Indonesia, yakni pengaruh pertumbuhan kelompok masyarakat kelas menengah. Pertumbuhan kelompok menengah dirasa mempunyai peran dalam menentukan arah kehidupan ekonomi dan bahkan juga arah kehidupan politik suatu bangsa. Di beberapa negara yang sekarang maju, kelas menengah tumbuh menjadi kelompok wirausaha yang tangguh dan menjadi ujung tombak inovasi dan peningkatan produktivitas. Mereka menyisihkan sebagian income-nya sebagai bagian dari tabungan nasional untuk membiayai investasi yang diperlukan dalam membangun daya saing bangsa. Mereka berani mengambil risiko sebagai wirausaha untuk berinovasi.

Pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, hal tersebut belum dapat dipastikan terjadi. Kelas menengah dengan income dan kemampuan daya beli yang besar justru dapat menjadi kelompok konsumtif yang menghabiskan income-nya untuk conspicuous consumption atau konsumsi berlebihan, yang tidak menyumbang apa-apa bagi pembangunan daya saing bangsa. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang ekonom di abad 19, Thorstein Veblen. Ia mengingatkan adanya risiko kelompok berduit menjadi kelompok masyarakat parasit yang  mengutamakan cara hidup konsumtif dan mengutamakan gaya hidup hura-hura (kemewahan), yang ia sebut sebagai The Leisure Class.

Wapres kemudiian mangakhiri kuliah singkatnya dengan memberikan simpulan pada beberapa program strategis yang dapat dijalankan dalam memperkuat daya saing bangsa, yakni investasi pada dunia pendidikan dan kesehatan, pembagunan sarana dan prasarana produksi, pengembangan wirausaha, menjalankan kompetisi usaha yang efektif, upaya peningkatan kualitas kelompok menengah agar menjadi lebih produktif dan adanya sistem pertahanan terhadap krisis. Semua strategi kebijakan tersebut harus dilakukan melalui langkah-langkah operasional dan konkrit, konsisten dan tidak saling bertrabrakan satu dengan lainnya, serta terkendali dan dapat diawasi.

Seiring dengan berakhirnya pemaparan Wapres tersebut, kemudian muncul pertanyaan dalam diri saya, peran apa yang bisa saya berikan untuk memperkuat daya saing bangsa Indonesia? Apakah pendidikan, kesehatan, private sector, wirausaha atau pelaksana program pemerintahan (PNS)? Dan bagaimana dengan pilihan ANDA??? Laluuu….dengan begitu indahnya paparan Wapres tersebut, sudah seberapa besar dampak kemajuan Bangsa Indonesia yang dapat kita rasakan?? Entahlaah….yang penting adalah bagaimana kita bisa mengawali tindakan-tindakan tersebut dengan langkah kecil yang secara konsisten dapat menanamkan nilai-nilai yang baik pada lingkungan sekitar kita hingga suatu saat bisa terjadi perubahan.

So….let’s Think Globally, Act Locally!!

Studi Kasus “Metode Inovasi Perusahaan” Sistem Informasi Manajemen

23/11/2014 in TUGAS KULIAH

Tugas Studi Kasus: The New York Times and Boston Scientific: Two Different Ways Of Innovating With Information Technology

 

Oleh : Adistiar Prayoga (P056134142.51E)

Program Studi Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor –  Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc,CS

 

  1. Seperti yang dinyatakan dalam kasus, The New York Times memilih untuk menyebarkan inovasi dukungan kelompok mereka sebagai shared service di seluruh unit bisnisnya. Menurut Anda apakah pengertian dari hal tersebut? Keuntungan apa yang didapat oleh perusahaan atas pendekatan tersebut? Adakah kelemahannya juga?

 

Shared Service dan Inovasi

The New York Times memfokuskan strategi keunggulan kompetitifnya pada sisi inovasi. Michael Porter (1990: 3) mengatakan bahwa keunggulan dalam bersaing (competitive advantage) adalah jantung kinerja pemasaran. Strategi ini harus didesain untuk mewujudkan keunggulan bersaing yang memiliki sustainabilitas sehingga perusahaan dapat mendominasi baik di pasar, baik pasar lama maupun pasar baru. Keunggulan bersaing pada dasarnya tumbuh dari nilai-nilai atau manfaat yang merupakan hasil inovasi perusahaan kepada para pelanggannya.

          The New York Times telah menginvestasikan sebagian besar sumber daya keuangannya untuk melakukan inovasi (paragraph 1). Dan pada puncaknya, mereka bekerjasama dengan sebuah perusahaan penelitian dan pengembangan (litbang) swasta yang berdiri pada tahun 2006. Perusahaan litbang ini memiliki track record cukup bagus karena telah berhasil memberikan pelayanan kepada sekitar 24 surat kabar, stasiun radio, dan lebih dari 50 situs Web (paragraph 2). Tim yang tersebut berusaha keras untuk menciptakan produk baru bagi para pelanggan The New York Times.

          Sebuah hal menarik dari The New York Times dalam proses menciptakan keunggulan kompetitif adalah mekanisme shared service yakni system layanan yang berbasis pada pembagian inovasi baru yang ditemukan oleh sebuah departemen/divisi di suatu perusahaan. Jadi setiap departemen/divisi didorong untuk melakukan analisis kondisi, proses berfikir, serta penciptaan inovasi baru. Ketika muncul inovasi, dibagilah inovasi tersebut kepada seluruh departemen/divisi di suatu organisasi. Kata kuncinya adalah “berbagi gagasan” yang dapat memudahkan kerja bersama demi tercapainya tujuan organisasi.

Keunggulan Shared Service

  • Adanya pengetahuan yang komperhensif di masing-masing departemen/divisi terkait proses pencapaian tujuan perusahaan karena terbangunnya penyatuan sistematika berfikir. Hal ini merupakan langkah jitu dalam penerapan system manajemen terintegrasi yang berpengaruh terhadap efisiensi biaya dan efektivitas waktu kerja. Frons (CTO Pengembangan Digital The New York Times) mengatakan bahwa “Kami sedang mencoba untuk memecahkan permasalahan-permasalahan spesifik dan memikirkan kemana bisnis akan bergerak,”. Maka dari itu, Frons dapat berfokus pada kenaikan pendapatan, pemotongan biaya, dan meningkatkan efisiensi melalui proses perbaikan dan otomatisasi
  • Penghematan biaya investasi atas sebuah inovasi, Frons (CTO Pengembangan Digital The New York Times) mendorong 120 orang timnya untuk berfikir lebih maju dengan konteks inovasi 2 tahunan. Mereka dipacu dan mendapatkan penghargaan. Para pemenang mendapatkan uang tunai, pengakuan eksistensi, dan sumber daya untuk mengubah ide mereka menjadi kenyataan. Eksperimen pun bebas, cepat, dan tentu mereduksi biaya investasi yang cukup besar.
  • Sistem terintegrasi yang dirasakan oleh pelanggan mampu menumbuhkan kepuasan dan loyalitas pelanggan,  Sistem teritengrasi tentu akan memudahkan pelanggan untuk mendapatkan produk atau jasa sesuai keinginannya. Jika hal ini tersaji dengan baik, maka pelanggan akan puas, sebagaimana dijelaskan oleh Parasuraman, et al (1988) dalam teori kualitas jasa dimana seorang pelanggan akan membandingkan persepsi atas suatu layanan dan layanan yang tersaji. Jika persepsi dan kualitas jasa yang tersaji sama besar, maka para pelanggan akan merasa puas. Lovelock dan Wright (2007) mengatakan bahwa kepuasan merupakan reaksi emosional jangka pendek pelanggan terhadap kinerja jasa tertentu. Secara konseptual banyak peneliti yang berkesimpulan bahwa ada hubungan terpola bersifat positif antara kepuasan dengan kualitas jasa. Bartikowski dan Llosa dalam Johannes (2009), menyatakan bahwa pelanggan yang memperoleh tingkat kepuasan tinggi diyakini akan menjadi pelanggan yang loyal, dan pelanggan loyal tidak akan berpindah sehingga memungkinkan organisasi memperoleh laba sepanjang masa (Prayoga, 2011:58).
  • Menumbuhkan soliditas internal yang memiliki implikasi positif terhadap produktivitas.

 

Kelemahan Shared Service

  • Shared service memiliki jangkuan luas, namun menghendaki pemahaman yang baik serta komunikasi yang lancar, gangguan terhadap kedua hal tersebut membuat informasi tak dapat ditangkap dengan sempurna sehingga aplikasi akan sulit.
  • Diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan proses transfer informasi secara menyeluruh kepada masing-masing departemen/devisi. Oleh karena, kesabaran dalam transfer dan keterbukaan untuk menerima setiap saran positf adalah kuncinya
  • Dibutuhkan kekuatan manajemen dalam setiap kebijakan shared service sehingga dapat mereduksi sekecil mungkin segala bentuk kepentingan bersifat personal atau parsial yang rentan akan konflik di masa mendatang.

 

  1. Boston Scientific menghadapi tantangan dalam hal menyeimbangkan keterbukaan dan sharing informasi dengan keamaan atas sebuah informasi. Bagaimana penggunaan teknologi yang dapat memungkinkan perusahaan untuk mencapai kedua tujuan tersebut pada waktu yang bersamaan? Perubahan budaya apa saja yang dibutuhkan untuk kemungkinan tersebut? Apakah hal-hal tersebut menjadi sangat penting daripada teknologi terkait isu di atas? Berikan beberapa contoh untuk mendukung jawaban anda!

 Boris Evelson, seorang analis utama di Forrester mengatakan bahwa “Semakin banyak informasi pengetahuan yang Anda berikan kepada karyawan, maka mereka akan semakin efektif dalam menciptakan nilai-nilai bagi perusahan, namun hal ini juga menciptakan kemungkinan resiko yang besar pula, yakni pengungkapan atas informasi pengetahuan ketika seorang karywan resign kemudian membawa data serta membocorkan data memberikannya kepada pesaing.” (paragraf 14).

Sebagai upaya untuk mengatasi hal tersebut, Boston Scientific telah melakukan riset dan pengembangan yang menghabiskan dana sebesar 8 milyar dollar untuk mencari perangkat lunak (software) yang memungkinkan adanya keterbukaan, sharing info, dan keamanan atas akses informasi. (paragraph 15) Akhirnya ditemukanlah aplikasi Goldfire.

 Adapun perubahan budaya yang dibutuhkan dalam proses aplikasi hal tersebut adalah:

  1. Tingkat kedisiplinan manajemen

Pihak manajemen hendaknya mampu memantau secara rutin terkait pihak-pihak yang dapat mengakses data serta senantiasa melakukan penyesuaian izin sesuai dengan perubahan kondisi-kondisi bisnis

  1. Menghidupkan kembali inovasi internal setelah sekian lama terjebak dalam penyelesaian masalah regulasi dari akuisisi.

Boston Scientific selama beberapa tahun terakhir berfokus dalam sisitem kualitas, mempertahankan pasar, dan mewarisi permasalahan regulasi selama kurun waktu tertentu (paragraph 16). Setelah ditemukan perangkat lunak yang memungkinkan atas penyelesaian masalah tersebut serta keamanan data, maka Boston Scientific harus segera berpindah focus untuk mendorong inovasi internal yang mampu menghasilkan keunggulan kompetitif baru.

  1. Pemahaman yang komprehensif kepada karyawan terkait pentingnya sebuah pengetahuan, kesabaran, dan rahasia perusahaan

Aplikasi Goldfire membuat alur kerja otomatis yang memberikan kemudahan sharing informasi, kemungkinan terciptanya inovasi baru serta kemanan data perusahaan,

Secara teknis, para peneliti di Boston Scientific dapat menggunakan perangkat lunak untuk menemukan hubungan dari sumber-sumber yang berbeda, misalnya dengan menyorot persamaan ide. Kemudian, para teknisi dapat menggunakan analisis tersebut untuk memperoleh ide produk-produk baru dan memulai studi kelayakannya. Setelah itu mereka dapat saling mengakses Informasi. Akan tetapi “Orang yang berada dalam masalah tidak sabar menunggu datangnya hari itu,” katanya Jude Currier (Manajer Sains di Boston Scientific) – paragraph 20.

 Hal tersebut wajar dan baik, namun namun tidak semua data dapat dibuka selamanya. Sebagai contoh, semakin dekat proyek dengan tahap hak paten, akses data terbatas hanya pada segelintir orang, kata Currier –paragraf 21.

 Oleh karena itu manejemen dari Boston Scientific harus mendidik pola piker semua karyawannya orang agar tidak membuang keamanan secara sembarang dan senantiasa berusaha menciptakan pengetahuan baru bagi organisasi.

  1. Peta penyewaan video dikembangkan oleh The New York Times dan Netflix Graphically dalam menampilkan film populer di seluruh lingkungan dari kota-kota besar di Amerika Serikat. Bagaimana Netflix menggunakan informasi ini untuk meningkatkan bisnis mereka? Dapatkah perusahaan-perusahaan lain mengambil keuntungan dari data ini? Bagaimana? Berikan beberapa contoh.

 “Peta Pintar Netflix” dan keuntungan bagi perusahaan

The New York Times bekerja sama dengan Netflix Graphically berhasil melaunching hasil riset dan pengembangannya berupa peta interaktif yang mampu menunjukkan detil posisi rental Netflix yang terkenal di seluruh 12 kota besar, di Amerika Serikat, yakni: New York, San Fransisco/Area teluk, Boston, Chicago, Washington, Los Angeles, Seattle, Minneapolis, Denver, Atlanta, Dallas, dan Miami (paragraph 7).

Peta pintar tersebut merupakan database grafik dari 100 film Netflix yang paling banyak disewa pada tahun 2009. Tampilannya dibuat semenraik mungkin dan disajikan dalam bentuk peta interaktif. Para pelanggan dapat mengeksplorasi secara grafik film utama Netflix pada tahun 2009 berdasarkan tiga criteria:

  1. film yang dibenci para kritikus,
  2. film yang dicintai oleh para kritikus, serta
  3. daftar huruf alfabet dan paling banyak disewa

Sebagai contoh, peta tersebut akan mengarahkan konsumen kepada menu “pilih yang paling banyak disewa”, dan ketika pelanggan menempatkan mouse diatas Zip Code, sebuah jendela baru akan muncul serta menunjukkan kepada pelanggan posisi rental utama Netflix apa pada daerah spesifik. (Pargraf 8)

Inovasi tersebut tentu sangat berguna bagi manajemen Netflix dalam proses pengambilan keputusan yang tentu berhubungan erat dengan maksimasi keuntungan perusahaan. Dari inovasi peta grafis tersebut, Netflix mendapat informasi detil terkait permintaan masyarakat. Sehingga pihak manajemen dapat membuat keputusan yang tepat terkait film-film yang perlu diperbanyak dan film-film yang perlu dibatasi. Berdasarkan data permintaan pasar, bukan atas persepsi manajemen Netflix.

Adapun contohnya, terkait beberapa kecenderungan yang telah mampu diprediksi Netflix yakni film Netflix di tahun 2009 yang paling terkenal adalah The Curious Case of Benjamin Button, meskipun Slumdog Millionaire dan Twilight juga berada dalam posisi 10 besar. Milk, sebuah cerita tentang Harvey Milk, seorang aktivis di San Fransisco, populer di San Fransisco dan pusat kota lainnya, tetapi tidak banyak diminati di pinggiran selatan kota (seperti Dallas dan Atlanta). Mad Men, sebuah drama tahun 1960 yang mengatur tentang eksekutif periklanan, berkibar di sebagian daerah Manhattan dan Brooklyn, namun “tidak laku” di kota besar lainnya seperti Denver dan Dallas. Bahkan di daerah Miami tidak diminati sama sekali.

 Adapun beberapa kecenderungan yang ternyata diluar dugaan dan dapat diatasi Netflix dengan memanfaatkan peta pintar adalah

  1. BeberapaBig blockbuster ternyata tidak seterkenal di pusat kota (Wanted dan Transformers: Revenge of the Fallen, hampir tidak membuat percikan sama sekali di pusat kota Manhattan dan San Fransisco), meskipun ada kemungkinan lain seperti kecenderungan orang untuk menonton Blockbusters di bioskop daripada di rumah masing-masing.
  2. Last Chance Harvey, sebuah drama komedi romantis yang diperankan Dustin Hoffman dan Emma Thompson, dinikmati di pinggiran kaya kota (seperti Scarsdale), namun bukan di pusat kota (seperti Manhattan).
  3. Film Tyler Perry (Tyler Perry’s Madea Goes to Faildan Tyler Perry’s The Family That Preys) ternyata sangat terkenal di kawasan yang didominasi kulit hitam.

 Keuntungan dari Peta Pintar Netflix bagi perusahaan lain

Perusahaan lain tentu bisa berpura-pura sebagai pelanggan dan membeli aplikasi Netflix kemudian mencari celah pasar untuk mengambil profit dari data yang disajikan oleh peta pintar Netfilix. Namun, keberadaan perusahaan lain tersebut tidak terlalu berbahaya dan mungkin hanya akan menjadi market follower Netflix selama mereka tidak mampu membuat inovasi baru atau keunggulan kompetitif yang terkait aliansi, karena Netflix tentu lebih unggul di bidang

  1. Kecepatan dan ketepatan dalam data serta analisis pasar
  2. Harga dan penguasaan area pelanggan
  3. Tanpa informasi yang akurat terkait poin a dan c perusahaan pesaing tentu akan sulit membuat produk diferensiasi

 

Kesimpulan Kasus

  1. Inovasi produk atau layanan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi organisasi dalam upaya meraih pasar baru maupun mempertahankan pasar lama.
  2. Inovasi berbasis internal dan proses sharing informasi akan mempercepat pertumbuhan perusahaan dan menambah daya tahan perusahaan dalam proses adaptasi terhadap perkembangan zaman.
  3. Proses penciptaan inovasi berbasis sharing data kekuatan internal membutuhkan kehati-hatian dan keamanan yang kuat karena suatu saat karyawan dapat berpindah dan memberikan informasi yang berharga terhadap pesaing.
  4. Sebuah organisasi harus memiliki disiplin kerja yang tinggi dan menanamkan loyalitas terhadap karyawannya dengan cara-cara yang sesuai dengan kondisi di masing-masing organisasi.
  5. Sebuah organisasi perlu memantau perkembangan pasar dan pesaing secara detil sebagai pertimbangan utama dalam penciptaan inovasi baru.

 

Kepustakaan

________. 2014. Modul Kuliah Sistem Informasi Manajemen. Program Studi Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor

Porter, E. Michael. 1990. The Competitive Advantage of Nations. Harvard Business Review 90211

Ratnasari, Ririn Tri and Adistiar Prayoga. 2012. Service Quality in Islamic Perspective. Procedings of 2nd Global Islamic Marketing, Dubai, United Emirates of Arab.

 

Vice Persidential Lecture: Competitiveness Of Indonesia

14/09/2014 in Berita

IMG_20140914_235726Hari Sabtu 13 September 2014 kemarin, Alhamdulillah saya berkesempatan menghadiri acara tahunan Penglepasan Alumni Magister Manajemen dan Doktor Manajemen Bisnis Tahun 2013/2014 Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis (MB), Institut Pertanian Bogor (IPB) di Hotel Borobudur, Jakarta. Acara ini merupakan acara tahunan yang diadakan oleh MB-IPB dalam rangka pemberian apresiasi kepada lulusannya. Dalam acara tersebut, MB-IPB selalu menghadirkan orang-orang hebat yang mampu memberikan wejangan dan motivasi pada semua lulusan untuk dapat berkontribusi pada bangsa dan negara. Dan pada kesempatan ini, MB-IPB mendatangkan Wakil Presiden RI, Prof. Dr. H. Boediono, M.Ec. Read the rest of this entry →

Skip to toolbar