You are browsing the archive for Tugas 2014.

Studi Kasus “Metode Inovasi Perusahaan” Sistem Informasi Manajemen

23/11/2014 in TUGAS KULIAH

Tugas Studi Kasus: The New York Times and Boston Scientific: Two Different Ways Of Innovating With Information Technology

 

Oleh : Adistiar Prayoga (P056134142.51E)

Program Studi Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor –  Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc,CS

 

  1. Seperti yang dinyatakan dalam kasus, The New York Times memilih untuk menyebarkan inovasi dukungan kelompok mereka sebagai shared service di seluruh unit bisnisnya. Menurut Anda apakah pengertian dari hal tersebut? Keuntungan apa yang didapat oleh perusahaan atas pendekatan tersebut? Adakah kelemahannya juga?

 

Shared Service dan Inovasi

The New York Times memfokuskan strategi keunggulan kompetitifnya pada sisi inovasi. Michael Porter (1990: 3) mengatakan bahwa keunggulan dalam bersaing (competitive advantage) adalah jantung kinerja pemasaran. Strategi ini harus didesain untuk mewujudkan keunggulan bersaing yang memiliki sustainabilitas sehingga perusahaan dapat mendominasi baik di pasar, baik pasar lama maupun pasar baru. Keunggulan bersaing pada dasarnya tumbuh dari nilai-nilai atau manfaat yang merupakan hasil inovasi perusahaan kepada para pelanggannya.

          The New York Times telah menginvestasikan sebagian besar sumber daya keuangannya untuk melakukan inovasi (paragraph 1). Dan pada puncaknya, mereka bekerjasama dengan sebuah perusahaan penelitian dan pengembangan (litbang) swasta yang berdiri pada tahun 2006. Perusahaan litbang ini memiliki track record cukup bagus karena telah berhasil memberikan pelayanan kepada sekitar 24 surat kabar, stasiun radio, dan lebih dari 50 situs Web (paragraph 2). Tim yang tersebut berusaha keras untuk menciptakan produk baru bagi para pelanggan The New York Times.

          Sebuah hal menarik dari The New York Times dalam proses menciptakan keunggulan kompetitif adalah mekanisme shared service yakni system layanan yang berbasis pada pembagian inovasi baru yang ditemukan oleh sebuah departemen/divisi di suatu perusahaan. Jadi setiap departemen/divisi didorong untuk melakukan analisis kondisi, proses berfikir, serta penciptaan inovasi baru. Ketika muncul inovasi, dibagilah inovasi tersebut kepada seluruh departemen/divisi di suatu organisasi. Kata kuncinya adalah “berbagi gagasan” yang dapat memudahkan kerja bersama demi tercapainya tujuan organisasi.

Keunggulan Shared Service

  • Adanya pengetahuan yang komperhensif di masing-masing departemen/divisi terkait proses pencapaian tujuan perusahaan karena terbangunnya penyatuan sistematika berfikir. Hal ini merupakan langkah jitu dalam penerapan system manajemen terintegrasi yang berpengaruh terhadap efisiensi biaya dan efektivitas waktu kerja. Frons (CTO Pengembangan Digital The New York Times) mengatakan bahwa “Kami sedang mencoba untuk memecahkan permasalahan-permasalahan spesifik dan memikirkan kemana bisnis akan bergerak,”. Maka dari itu, Frons dapat berfokus pada kenaikan pendapatan, pemotongan biaya, dan meningkatkan efisiensi melalui proses perbaikan dan otomatisasi
  • Penghematan biaya investasi atas sebuah inovasi, Frons (CTO Pengembangan Digital The New York Times) mendorong 120 orang timnya untuk berfikir lebih maju dengan konteks inovasi 2 tahunan. Mereka dipacu dan mendapatkan penghargaan. Para pemenang mendapatkan uang tunai, pengakuan eksistensi, dan sumber daya untuk mengubah ide mereka menjadi kenyataan. Eksperimen pun bebas, cepat, dan tentu mereduksi biaya investasi yang cukup besar.
  • Sistem terintegrasi yang dirasakan oleh pelanggan mampu menumbuhkan kepuasan dan loyalitas pelanggan,  Sistem teritengrasi tentu akan memudahkan pelanggan untuk mendapatkan produk atau jasa sesuai keinginannya. Jika hal ini tersaji dengan baik, maka pelanggan akan puas, sebagaimana dijelaskan oleh Parasuraman, et al (1988) dalam teori kualitas jasa dimana seorang pelanggan akan membandingkan persepsi atas suatu layanan dan layanan yang tersaji. Jika persepsi dan kualitas jasa yang tersaji sama besar, maka para pelanggan akan merasa puas. Lovelock dan Wright (2007) mengatakan bahwa kepuasan merupakan reaksi emosional jangka pendek pelanggan terhadap kinerja jasa tertentu. Secara konseptual banyak peneliti yang berkesimpulan bahwa ada hubungan terpola bersifat positif antara kepuasan dengan kualitas jasa. Bartikowski dan Llosa dalam Johannes (2009), menyatakan bahwa pelanggan yang memperoleh tingkat kepuasan tinggi diyakini akan menjadi pelanggan yang loyal, dan pelanggan loyal tidak akan berpindah sehingga memungkinkan organisasi memperoleh laba sepanjang masa (Prayoga, 2011:58).
  • Menumbuhkan soliditas internal yang memiliki implikasi positif terhadap produktivitas.

 

Kelemahan Shared Service

  • Shared service memiliki jangkuan luas, namun menghendaki pemahaman yang baik serta komunikasi yang lancar, gangguan terhadap kedua hal tersebut membuat informasi tak dapat ditangkap dengan sempurna sehingga aplikasi akan sulit.
  • Diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan proses transfer informasi secara menyeluruh kepada masing-masing departemen/devisi. Oleh karena, kesabaran dalam transfer dan keterbukaan untuk menerima setiap saran positf adalah kuncinya
  • Dibutuhkan kekuatan manajemen dalam setiap kebijakan shared service sehingga dapat mereduksi sekecil mungkin segala bentuk kepentingan bersifat personal atau parsial yang rentan akan konflik di masa mendatang.

 

  1. Boston Scientific menghadapi tantangan dalam hal menyeimbangkan keterbukaan dan sharing informasi dengan keamaan atas sebuah informasi. Bagaimana penggunaan teknologi yang dapat memungkinkan perusahaan untuk mencapai kedua tujuan tersebut pada waktu yang bersamaan? Perubahan budaya apa saja yang dibutuhkan untuk kemungkinan tersebut? Apakah hal-hal tersebut menjadi sangat penting daripada teknologi terkait isu di atas? Berikan beberapa contoh untuk mendukung jawaban anda!

 Boris Evelson, seorang analis utama di Forrester mengatakan bahwa “Semakin banyak informasi pengetahuan yang Anda berikan kepada karyawan, maka mereka akan semakin efektif dalam menciptakan nilai-nilai bagi perusahan, namun hal ini juga menciptakan kemungkinan resiko yang besar pula, yakni pengungkapan atas informasi pengetahuan ketika seorang karywan resign kemudian membawa data serta membocorkan data memberikannya kepada pesaing.” (paragraf 14).

Sebagai upaya untuk mengatasi hal tersebut, Boston Scientific telah melakukan riset dan pengembangan yang menghabiskan dana sebesar 8 milyar dollar untuk mencari perangkat lunak (software) yang memungkinkan adanya keterbukaan, sharing info, dan keamanan atas akses informasi. (paragraph 15) Akhirnya ditemukanlah aplikasi Goldfire.

 Adapun perubahan budaya yang dibutuhkan dalam proses aplikasi hal tersebut adalah:

  1. Tingkat kedisiplinan manajemen

Pihak manajemen hendaknya mampu memantau secara rutin terkait pihak-pihak yang dapat mengakses data serta senantiasa melakukan penyesuaian izin sesuai dengan perubahan kondisi-kondisi bisnis

  1. Menghidupkan kembali inovasi internal setelah sekian lama terjebak dalam penyelesaian masalah regulasi dari akuisisi.

Boston Scientific selama beberapa tahun terakhir berfokus dalam sisitem kualitas, mempertahankan pasar, dan mewarisi permasalahan regulasi selama kurun waktu tertentu (paragraph 16). Setelah ditemukan perangkat lunak yang memungkinkan atas penyelesaian masalah tersebut serta keamanan data, maka Boston Scientific harus segera berpindah focus untuk mendorong inovasi internal yang mampu menghasilkan keunggulan kompetitif baru.

  1. Pemahaman yang komprehensif kepada karyawan terkait pentingnya sebuah pengetahuan, kesabaran, dan rahasia perusahaan

Aplikasi Goldfire membuat alur kerja otomatis yang memberikan kemudahan sharing informasi, kemungkinan terciptanya inovasi baru serta kemanan data perusahaan,

Secara teknis, para peneliti di Boston Scientific dapat menggunakan perangkat lunak untuk menemukan hubungan dari sumber-sumber yang berbeda, misalnya dengan menyorot persamaan ide. Kemudian, para teknisi dapat menggunakan analisis tersebut untuk memperoleh ide produk-produk baru dan memulai studi kelayakannya. Setelah itu mereka dapat saling mengakses Informasi. Akan tetapi “Orang yang berada dalam masalah tidak sabar menunggu datangnya hari itu,” katanya Jude Currier (Manajer Sains di Boston Scientific) – paragraph 20.

 Hal tersebut wajar dan baik, namun namun tidak semua data dapat dibuka selamanya. Sebagai contoh, semakin dekat proyek dengan tahap hak paten, akses data terbatas hanya pada segelintir orang, kata Currier –paragraf 21.

 Oleh karena itu manejemen dari Boston Scientific harus mendidik pola piker semua karyawannya orang agar tidak membuang keamanan secara sembarang dan senantiasa berusaha menciptakan pengetahuan baru bagi organisasi.

  1. Peta penyewaan video dikembangkan oleh The New York Times dan Netflix Graphically dalam menampilkan film populer di seluruh lingkungan dari kota-kota besar di Amerika Serikat. Bagaimana Netflix menggunakan informasi ini untuk meningkatkan bisnis mereka? Dapatkah perusahaan-perusahaan lain mengambil keuntungan dari data ini? Bagaimana? Berikan beberapa contoh.

 “Peta Pintar Netflix” dan keuntungan bagi perusahaan

The New York Times bekerja sama dengan Netflix Graphically berhasil melaunching hasil riset dan pengembangannya berupa peta interaktif yang mampu menunjukkan detil posisi rental Netflix yang terkenal di seluruh 12 kota besar, di Amerika Serikat, yakni: New York, San Fransisco/Area teluk, Boston, Chicago, Washington, Los Angeles, Seattle, Minneapolis, Denver, Atlanta, Dallas, dan Miami (paragraph 7).

Peta pintar tersebut merupakan database grafik dari 100 film Netflix yang paling banyak disewa pada tahun 2009. Tampilannya dibuat semenraik mungkin dan disajikan dalam bentuk peta interaktif. Para pelanggan dapat mengeksplorasi secara grafik film utama Netflix pada tahun 2009 berdasarkan tiga criteria:

  1. film yang dibenci para kritikus,
  2. film yang dicintai oleh para kritikus, serta
  3. daftar huruf alfabet dan paling banyak disewa

Sebagai contoh, peta tersebut akan mengarahkan konsumen kepada menu “pilih yang paling banyak disewa”, dan ketika pelanggan menempatkan mouse diatas Zip Code, sebuah jendela baru akan muncul serta menunjukkan kepada pelanggan posisi rental utama Netflix apa pada daerah spesifik. (Pargraf 8)

Inovasi tersebut tentu sangat berguna bagi manajemen Netflix dalam proses pengambilan keputusan yang tentu berhubungan erat dengan maksimasi keuntungan perusahaan. Dari inovasi peta grafis tersebut, Netflix mendapat informasi detil terkait permintaan masyarakat. Sehingga pihak manajemen dapat membuat keputusan yang tepat terkait film-film yang perlu diperbanyak dan film-film yang perlu dibatasi. Berdasarkan data permintaan pasar, bukan atas persepsi manajemen Netflix.

Adapun contohnya, terkait beberapa kecenderungan yang telah mampu diprediksi Netflix yakni film Netflix di tahun 2009 yang paling terkenal adalah The Curious Case of Benjamin Button, meskipun Slumdog Millionaire dan Twilight juga berada dalam posisi 10 besar. Milk, sebuah cerita tentang Harvey Milk, seorang aktivis di San Fransisco, populer di San Fransisco dan pusat kota lainnya, tetapi tidak banyak diminati di pinggiran selatan kota (seperti Dallas dan Atlanta). Mad Men, sebuah drama tahun 1960 yang mengatur tentang eksekutif periklanan, berkibar di sebagian daerah Manhattan dan Brooklyn, namun “tidak laku” di kota besar lainnya seperti Denver dan Dallas. Bahkan di daerah Miami tidak diminati sama sekali.

 Adapun beberapa kecenderungan yang ternyata diluar dugaan dan dapat diatasi Netflix dengan memanfaatkan peta pintar adalah

  1. BeberapaBig blockbuster ternyata tidak seterkenal di pusat kota (Wanted dan Transformers: Revenge of the Fallen, hampir tidak membuat percikan sama sekali di pusat kota Manhattan dan San Fransisco), meskipun ada kemungkinan lain seperti kecenderungan orang untuk menonton Blockbusters di bioskop daripada di rumah masing-masing.
  2. Last Chance Harvey, sebuah drama komedi romantis yang diperankan Dustin Hoffman dan Emma Thompson, dinikmati di pinggiran kaya kota (seperti Scarsdale), namun bukan di pusat kota (seperti Manhattan).
  3. Film Tyler Perry (Tyler Perry’s Madea Goes to Faildan Tyler Perry’s The Family That Preys) ternyata sangat terkenal di kawasan yang didominasi kulit hitam.

 Keuntungan dari Peta Pintar Netflix bagi perusahaan lain

Perusahaan lain tentu bisa berpura-pura sebagai pelanggan dan membeli aplikasi Netflix kemudian mencari celah pasar untuk mengambil profit dari data yang disajikan oleh peta pintar Netfilix. Namun, keberadaan perusahaan lain tersebut tidak terlalu berbahaya dan mungkin hanya akan menjadi market follower Netflix selama mereka tidak mampu membuat inovasi baru atau keunggulan kompetitif yang terkait aliansi, karena Netflix tentu lebih unggul di bidang

  1. Kecepatan dan ketepatan dalam data serta analisis pasar
  2. Harga dan penguasaan area pelanggan
  3. Tanpa informasi yang akurat terkait poin a dan c perusahaan pesaing tentu akan sulit membuat produk diferensiasi

 

Kesimpulan Kasus

  1. Inovasi produk atau layanan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi organisasi dalam upaya meraih pasar baru maupun mempertahankan pasar lama.
  2. Inovasi berbasis internal dan proses sharing informasi akan mempercepat pertumbuhan perusahaan dan menambah daya tahan perusahaan dalam proses adaptasi terhadap perkembangan zaman.
  3. Proses penciptaan inovasi berbasis sharing data kekuatan internal membutuhkan kehati-hatian dan keamanan yang kuat karena suatu saat karyawan dapat berpindah dan memberikan informasi yang berharga terhadap pesaing.
  4. Sebuah organisasi harus memiliki disiplin kerja yang tinggi dan menanamkan loyalitas terhadap karyawannya dengan cara-cara yang sesuai dengan kondisi di masing-masing organisasi.
  5. Sebuah organisasi perlu memantau perkembangan pasar dan pesaing secara detil sebagai pertimbangan utama dalam penciptaan inovasi baru.

 

Kepustakaan

________. 2014. Modul Kuliah Sistem Informasi Manajemen. Program Studi Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor

Porter, E. Michael. 1990. The Competitive Advantage of Nations. Harvard Business Review 90211

Ratnasari, Ririn Tri and Adistiar Prayoga. 2012. Service Quality in Islamic Perspective. Procedings of 2nd Global Islamic Marketing, Dubai, United Emirates of Arab.

 

Skip to toolbar